Suatu sore pada Rabu, 9 Rabiul Awwal 1428H (28 Maret 2007) angin berdesir lirih. Lembut membelai dedahan pepohonan yang bersiap istirah bersama malam. Syahdu berayun sejenak sebelum menutup hari dengan khusyu doa syukur atas nikmat Tuhan yang tercurah. Tak ada yang lebih mulia, kecuali Tuhan yang Maha Segalanya, yang dengan segala kasihnya, yakin menitipkan amanahnya bagi kami yang papa. Seorang anak cantik yang dengan sepenuh doa kami beri nama "Desirangin Dedahan Maulia".
Wednesday, September 10, 2008
Mencoba Menumpang Mikrolet
Boleh jadi Mikrolet merupakan salah satu kendaraan publik yang tidak begitu nyaman. Namun apa boleh buat. Tuntutan hidup di kota besar Indonesia selalu menuntut keberanian untuk memanfaatkan sarana publik yang tidak nyaman tersebut, guna menunjang aktivitas hidup. C'est Lavie... terutama di Indonesia.
Sore itu sebuah mikrolet diparkir di tempat parkir komplek tempat Dahan tinggal. Entah kenapa, hari itu pak sopir tidak memaksa mikrolet tersebut untuk beroperasi. Mungkin mesinnya lagi ngadat. Mungkin juga sopirnya lagi gak enak badan. Mungkin juga kehabisan bahan bakar dan belum ada duit buat beli. Atau mungkin juga memang pak sopir lagi malas buat narik.
Nah... mumpung mikrolet ini tak sedang melaju ugal-ugalan, ada kesempatan buat Dahan mencoba menaikinya. Gak cuma mencoba sebagai penumpang. Kepalang basah... coba sekalian bagaimana rasanya mencoba menjadi awak mikrolet yang membantu sang sopir berteriak-teriak mengundang penumpang.
Ah... ternyata, naik mikrolet tak sebahaya yang diceritakan orang-orang dari jalanan yah. Buktinya... Dahan aja bisa kok. Hehehehe..........
Sayang yah... adanya cuma mikrolet. Seandainya yang diparkir di situ, sore itu, adalah bemo.... Waaaah Dahan bisa dong, nangkring di atasnya sambil menyanyikan lagi yang pernah diajarin ayah...
"eeee...bemo rodane telu... cet ijo... karo sing biru....
cah bodo wegah sinau... yen bodo mesak ake ibuuuu..."
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment