Sunday, May 24, 2009

Macbook pun Kalah Ma Kulit Jeruk

Pada suatu pagi yang sudah hangat, om Uki datang dari Takeran. Berbeda dari biasanya. Saat pagi masih sejuk, bahkan dingin, biasanya kita sudah sampai di rumah.
“Kereta datang terlambat,” jawab om Uki pada ayah sambil membuka tasnya dan mengambil beberapa oleh-oleh yang biasanya dibawakan oleh Mbahti dan mbahkung.
Tak seperti biasanya juga, ada sambel pecel kesukaan ayah dan kripik usus, tapi kali ini terbawa juga beberapa biji jeruk nambangan yang cukup besar dan masih segar.
“Dari bapak, kebetulan ada yang cukup matang di pohon,” ujar om Uki menjelaskan.
Dahan yang sebelumnya asyik bermain DVD edukasi pada macbook ayah, sontak meninggalkannya. Ia jadi begitu tertarik pada sang jeruk yang belum pernah dilihatnya bisa sebesar itu. Segera digulang-gulingkan laiknya bola.
Mumpung ada media alami yang bisa dijadikan mediasi permainan anak yang dekat pada alam, ayah pun segera mengupas sebuah jeruk secara acak. Meski pun bukan jeruk Bali yang berkulit tebal, jeruk nambangan ini pun ternyata masih bisa juga dijadikan permainan yang menarik.
Terbawa oleh kenangan masa kecil waktu di kampung ternyata dengan cekatan ayah segera bisa menyulap sang kulit jeruk menjadi kereta-keretaan yang lucu. Terpancing oleh aksi ayah, Dahan pun gak mau ketinggalan. Ia pun ikut-ikutan asyik menggunting dan mencoba memasang-masangkan potongan kulit jeruk dengan lidi untuk membuat kereta versinya sendiri.
Duuuuh… senangnya melihat hal itu. Permainan sederhana ini ternyata cukup merangsang daya kreasi anak, tidak ada unsur kimia yang membahayakan, sekaligus mendekatkan anak untuk kembali ke alam.
Ahhh… andai saja masih banyak media-media alami yang tersedia di sini, khususnya di jakarta ini, tentunya anak-anak Indonesia masih bisa bermain dengan kreatif dan aman tanpa takut ancaman zat merkuri, formalin, perwarna kimia berbahaya, bahan plastik berbahaya yang sempat dihebohkan terkandung pada mainan-mainan plastik buatan China.
Kata ayah… sebenarnya banyak mainan alami yang bisa didapatkan anak-anak Indonesia untuk merangsang kreativitas mereka seperti pelepah pisang, gedebok pisang, pelepah daun ketela, suket (rumput) yang bisa dibuat wayang, bunga rumput, daun gadung yang bisa dijadikan layang-layang, dan banyak lainnya.
Sayangnya, bersamaan dengan maraknya mainan modern yang lebih digitalized dan computerized, mainan-mainan alami tersebut terpuruk sebagai mainan purba yang semakin langka dan terlupakan. Padahal ternyata keasyikan anak kita saat bermain macbook masih kalah dengan asyiknya mereka saat memainkan kulit-kulit jeruk yang ada. Mungkin saatnya bagi sekolah-sekolah anak untuk menyeimbangkan antara porsi pemberian mainan anak-anak yang modern dengan mainan anak-anak yang alami. Dengan begitu anak-anak bisa diharapkan makin dekat dengan alam, dan terbangun kesadarannya untuk menjaga kelestarian alam sekitar kita. Semoga…

Tuesday, April 7, 2009

Nyamuk Memang Pantas Buat Diamuk

Beberapa waktu lalu, ayahnya dahan ada sedikit liburan. Karena Yangti-nya yang nungguin kelahiran Dahan super kangen. Maka kitapun menyempatkan diri pulang ke rumahnya Yangti. Kebetulan sejak Dahan diboyong ayah ke Jakarta yangti blum pernah lihat dahan yang makin gede. Kebetulan juga lebaran kemarin jatahnya MbahKung dan MbahTi yang dikunjungi. Nah karena tak sabar nunggu lebaran tahun depan, yah dengan senang hati Dahan pun mudik ke rumah yangti.

Tentu saja banyak sekali oleh-oleh cerita yang mau ditulis di blognya dahan ini.bagaimanapun juga tanah kelahiran ibu dan dahan ini menyimpan banyak cerita menarik yang ingin ditulis.

Sayangnya... godaan untuk segera menulis banyak cerita tak bisa buru-buru dilaksanakan. Beberapa hari setelah kembali ke Jakarta dengan banyak cerita di kepala, tiba-tiba Dahan terserang Demam. Awalnya ayah dan ibu mengira dahan hanya kecapaian belaka. Tetapi setelah setengah hari tak juga turun-turun, ibu segera menelpon dspa dahan. dspa menyarankan untuk memberikan obat demam sanmol yang ada di kotak p3k. Sampai sehari ternyata demam dahan tak turun-turun juga. Esoknya ayah ibupun membawa Dahan ke rumah sang dspa.

Kira-kira habis maghrib, setelah minum obat dari resep yang diberikan dspa, Dahan terlihat lemas dan tertidur. Kebetulan waktu itu ayah menemani sambil membaca buku. Tiba-tiba saja Dahan menggigil dalam tidurnya. Ayah pun panik dan kelabakan memanggil-manggil ibu. Karena ketakutan ayah dan ibu segera membangunkan dahan. Tapi dahan tetap lemas dan tertidur sambil menggigil. Menduga bahwa dosis obat yang diberikan dokter terlalu keras, ayah dan ibu pun buru-buru membawa dahan ke UGD RS Harapan Bunda.

Sungguh menyedihkan, setelah didiagnosa oleh dokter jaga, Dahan pun diputuskan untuk opname. Tentu saja selang infus yang mengerikan harus ditancapkan ke tangan dahan. Tak lupa berbagai prosedur ambil darah untuk dicek di laboratorium terpaksa dijalani Dahan. Sungguh kasihan... tentu saja drama histeria dahan karena kesakitan dan ketakutan mewarnai proses-proses tersebut. Bener-bener membuat perih dan nelangsa.

Esok paginya... dspa dahan datang, tapi belum bisa memberikan kepastian diagnosa. Alhasil tiap 12 jam Dahan harus diambil darah untuk didiagnosa penyakitnya. Baru keesokan harinya Dahan benar-bisa didiagnosa terkena Demam Berdarah...

Waduuuh digigit nyamuk darimana yah... Entah di rumah, di jalan, atau di rumah yangti tak bisa dipastikan. Yang jelas nyamuk kecil itu benar-benar pantas diamuk. Hanya karena gigitan kecilnya, anak yang sehat dan lucu tiba-tiba terkapar menderita.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi... nyamuk ini tak bisa ditangani oleh kita sendiri. Meskipun kita telah berhati-hati dengan menjaga rumah kita, bisa saja nyamuk ini tumbuh dan berkembang dari rumah para tetangga yang teledor. Lebih mengecewakan lagi... meski telah lapor ke RT, tidak juga ada tindakan nyata yang segera. Sampai sekarang, blum juga ada pengasapan yang diprakarsai oleh desa. Padahal sudah ada surat dari RS yang seharusnya bisa dijadikan referensi yang terpercaya.

Kita hanya bisa berharap, moga-moga saja nyamuk biadap itu tidak ada di sekitar rumah tinggal kita. Semoga... dahan cepat kembali sehat dan bisa berbagi banyak cerita yang tertunda.

Wednesday, March 4, 2009

Rasamala, Malapetaka, Tabula Rasa dan Simalakama

Rasamala adalah pohon berdaun tunggal, berwarna hijau, dan berbentuk bulat telur dengan tepi bergerigi, berbatang tegak lurus, tingginya mencapai 50 m, garis tengah batang mencapai 1,5 m, kulit batang pecah-pecah dan mengelupas berwarna abu-abu kemerah-merahan atau cokelat muda, kayunya berbau harum. Untuk penjelajah di daerah dataran tinggi yang tersesat dan harus bertahan hidup (survival), daun rasamala yang masih muda, bisa dijadikan alternatif logisitik penyambung hidup. Tentu saja rasa daun ini tidaklah enak. Asam-asam sepet, tapi cukup untuk mengisi perut.

Nah... kelakuan anak kita yang gemar dan cepat belajar apa saja, bisa menjadi daun rasamala bagi hidup kita. Terasa asam dan sepet di lidah, tapi terpaksa harus kita telan karena memang itulah kenyataan masa pertumbuhan mereka. Mereka bisa dengan cepat belajar apa saja yang diliat dan didengar, tanpa peduli itu baik atau buruk. Rasa rasamala, terjelma dan terpaksa kita kunyah, jika ternyata tiba-tiba anak kita bisa meniru sesuatu yang buruk dari sekitarnya. Entah dari kelakuan kita sendiri, tetangga, teman bermain, pengasuh, dan bisa siapa saja yang kebetulan pernah berinteraksi dengannya.

Lebih gila lagi, ternyata aksi naif ternyata acap lebih menggoda untuk ditiru oleh anak kita. Nah kalau anak kita dikelilingi oleh lingkungan yang buruk, maka malapetaka jelas-jelas segera tercipta. Anak yang merupakan tabula rasa segera tercipta sebagai pribadi yang membuat kita pusing kepala. Jiwa putih bersih yang kita lahirkan, dengan gampang bisa mendadak menjadi lukisan kotor yang mengganggu dan tak nyaman untuk dilihat. Boleh jadi memang bukan kita yang melukisnya, tapi memang terlalu banyak pelukis-pelukis liar yang ada di lingkungan kita. Entah kerabat, tetangga, teman, pengasuh dan banyak lagi lainnya.

Suatu hari yang damai, tiba-tiba Dahan menemukan peluit bambu bekas terompet tahun baru lalu. Melihat bentuknya yang mirip cigaret, entah dari mana tiba-tiba spontan Dahan bergaya menghisapnya seperti orang yang tengah merokok. Lebih memprihatinkan lagi, gayanya bener-bener seperti gaya perokok pro. Melihat itu sontak ibu mendelik tak percaya. Menengok pada ayah dengan muka penuh tanya dan tuduh. Kontan ayah pun tak kalah bengongnya. Menggeleng ragu, dan mengangkat pundaknya sebagai isyarat tak tahu.

Melihat ayah dan ibu yang terpana takjub, Dahan justru terkekeh-kekeh. Gabungan antara bangga, senang, dan bergaya bahagia. Ibu jadi menuduh ayah pernah merokok di depan Dahan, sementara sampai bersumpah ayah memungkiri bahwa tak pernah melakukan itu. Konon meski memang merokok ayah benar-benar tak pernah merokok di depan Dahan. Jangankan di depan Dahan, di rumah pun ayah benar-benar sudah tak pernah merokok kecuali sesekali saat di toilet.

Lalu dari siapa Dahan bisa menirukan gaya gaya orang merokok dengan begitu fasihnya? Usut punya usut akhirnya teka-teki itu pun terjawab. Ternyata saat dolanan di pekarangan komplek, Dahan sering melihat tetangga-tetangga, khsusunya para ayah yang dengan cueknya tetap merokok dengan asyik, saat memomong anak-anak mereka yang notabene meruapakan teman sebaya Dahan.

Aduuuuuh...sungguh kehebatan daya serap dan daya belajar anak yang begitu besar justru menjelma sebagai bumerang yang menjerumuskan mereka. Dan Lingkungan lah yang menjadi biang kerok munculnya bahaya tersebut. Rasanya menjadi sia-sialah semua pengorbanan dan perjuangan kita selama ini untuk membesarkan dan mendidik anak dengan baik, jika ternyata di lingkungan kita masih saja ada orang yang tak peka dengan masa depan anak-anak kita.
Lingkungan yang tidak mendukung merupakan buah simalakama bagi perkembangan anak-anak kita. Pasalnya, kalau kita jauhkan dari lingkungan anak terancam menjadi anti sosial, sedangkan kalau kita biarkan, anak terancam meniru kelakuan buruk-kelakuan buruk yang diumbar oleh orang-orang tak bertanggung jawab di lingkungan kita. Entah karena kebodohan mereka, ketidakmenertian, atau justru memang kejahatan mereka. ... Mungkinkah kita hanya bisa berdoa saja?

Thursday, February 26, 2009

Bisa Makan Sendiri, Tak Semua Bikin Hepi

Persoalan makan si kecil selau saja menjadi permasalahan tersendiri bagi orang tua. Hampir sebagian orang tua mengeluhkan masalah anak yang susah makan. Padahal kata ahlinya, meski ASI mengandung hampir semua zat gizi dengan komposisi yang sesuai kebutuhan bayi, konon komposisi kandungan nutrisi ASI hanya cukup untuk anak sampai usia 4 bulan. Katanya kandungan vitamin A dan C serta zat besi sudah tidak begitu tinggi. Dus... mau tak mau sejak umur empat bulan anak harus mulai dilatih makan selain ASI.

Aktivitas memberi makan si kecil benar-benar penuh dengan tantangan yang tidak enteng. Harus ceriwis dan pintar merayu anak agar mau disuapi makanan, mengalihkan perhatian si anak ketika dia sudah mulai ogah membuka mulut sehingga tanpa sadar makanan masih bisa masuk ke mulutnya dan banyak kronika-kronika menyuapi anak lainnya.

Ada temen yang ngomong, anak jangan dipaksa makan jika dia sudah tidak berselera lagi. Konon aktivitas makan yang lama dan memaksa bisa menjadikan trauma pada anak sehingga aktivitas makan dianggap sebagai aktivitas yang menyebalkan dan dihindarinya. Tapi dilemanya kalau tidak ditekuni dengan berbagai cara yang terkadang terkesan memaksa, bisa-bisa seharian anak tidak kemasukan makan sama sekali.

Entah kenapa, konon kita orang tua di Indonesia ini dianggap tidak bisa mendidik anak berkenaan dengan masalah makan tersebut. Seorang temen, warga negara Kanada yang kebetulan tinggal di Indonesia dan mempunyai anak di sini, memberi sekedar nasehat bahwa anak harus dibiasakan disiplin saat makan. Kalau makan haruslah duduk di meja makan. Jangan membiasakan memberi makan anak sambil dolanan, jalan-jalan, digendong ke sana ke mari dan aktivitas pengalih perhatian lainnya. Nah sialnya kita di Indonesia justru terbiasa dengan kebiasaan yang dianggap tidak mendidik disiplin tersebut. Yah apa boleh buat mungkin kultur Indonesia memang harus begitu. Jalani saja mana yang dianggap baik dan bisa kita lakukan dengan enteng.

Yah... meskipun sebenarnya membenarkan apa yang dikatakan temen dari Kanada tersebut, tetapi tetap saja aku mengikuti cara Indonesia. Selama dahan belum bisa makan sendiri, tetap saja aktivitas menyuapinya kulakukan sambil mengajaknya dolanan, jalan-jalan, dan aktivitas pengalih perhatian lainnya.

Untungnya menginjak usia paruh tahun menuju tahun kedua, Dahan sudah tertarik untuk belajar makan sendiri. Setiap ayah dan ibu makan, dia pasti selalu nimbrung mengganggu. Meminta sendok sendiri dan ikut-ikutan mengacak-acak makanan ayah-ibu. Berawal dari aktivitas yang usil itu, minat untuk makan sendiri pun terbangun. Saat disuapi makanannya sendiri, acap dahan minta sendok sendiri dan belajar menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Merasa bahwa aktivitas tersebut menunjukkan gejala yang positif akhirnya aku pun dengan senang hati memberikan kesempatan pada Dahan untuk menyuapkan makanannya sendiri.

Aktivitas makan dahan pun menjelma sebagai aktivitas yang lucu, kocak dan menggemaskan. Sayangnya tentu saja semua aktivitas dahan makan sendiri tersebut tak semuanya membikin hepi. Tak jarang piring makanan tumpah ruah di lantai, dan makanan yang di dalamnya pun tumpah ruah mengotori lantai dan perabotan. Belum lagi badan dahan yang menjadi berlepotan makanan di sana-sini. Benar-benar nampak jorok dan menguji kesabaran yang berlebih. Sialnya lagi tak jarang, tanpa sepengetahuan kita, si kecil mencomot makanan yang sudah jatuh dan buru-buru memasukkannya ke mulut. Kalau kebetulan ada kuman penyakit di situ, bisa jadi si kecil bisa terjangkit penyakit seperti diare dan sebagainya.

Yaah... apa boleh buat. Pengorbanan memang diperlukan untuk kemajuan anak-anak kita nantinya. Boleh jadi benar apa yang dikatan Rinso dalam jargon iklannya, "berani kotor itu baik."

Tuesday, February 24, 2009

"Burn Out"

Konon rutinitas pekerjaan yang harus dijalani secara terus-menerus akan menyebabkan perasaan menjadi mati rasa. Empati, simpati, kepekaan kepedulian, sensitivitas, atau apapun istilahnya yang berhubungan dengan perasaan tiba-tiba menghilang. Memang semuanya terlihat berjalan dengan lancar, namun bila diselami semuanya telah menjadi hambar, dingin, beku dan hampa. Tak ada lagi unsur-unsur perasaan yang berperan di sana. Semuanya menjadi seperti mesin. Terus berjalan namun tanpa peran serta hati di dalamnya. Fenomena inilah yang oleh para kalangan intelektual dinamai dengan istilah "burn out".

Bila menimpa pada profesi-profesi yang tidak berhubungan pada layanan publik atau berhubungan dengan manusia tentunya fenomena ini bukanlah masalah serius. Sayangnya fenomena ini sering menimpa pada profesi-profesi yang membutuhkan kepekaan perasaan semisal baby sister, perawat, regu penyelamat (SAR), dokter dan yang lainnya.

Pengalaman pahit mengenai para dokter yang terjangkit "burn out" sudah kutulis pada judul tulisanku sebelumnya. Masalahnya fenomena ini benar-benar mengganggu dan menjadi duri yang perih dalam kenyataan keseharian kita. "Burn out" inilah yang akhirnya menjadi biang kerok dari permasalahan yang menyebabkan aku sulit mencari PRT dan juga Nanny yang ideal bagi Dahan. Tentu saja sebagai sebuah keluarga muda yang tinggal dari sanak saudara fenomena jadi sangat merepotkan.

Pernah suatu sore, Nanny yang mengawasi Dahan datang menggendong Dahan yang pucat. Dengan santai yang dingin dia bertanya kepadaku,"Bu adek sakit yah... Kok badannya panas dan tadi muntah-muntah?" Muntah-muntah? "Apa tadi jatuh?" "Enggak bu, nggak kenapa-kenapa kok tadi." Masalah demam memang biasa. Pasalnya tadi pagi Dahan baru saja diimunisasi campak. Tapi muntah-muntah? Karena khawatir akupun buruan menelpon dspa-nya. Kata dspa kalau demam memang wajar, tapi muntah-muntah harusnya itu bukan karena imunisasi. Masalah demam, cukup diberikan obat demam saja, begitu kata sang dspa. Semalaman itu Dahan beberapa kali muntah-muntah. Esok paginya Dahan nggak mau makan sama sekali. Segera kutelpon kembali dspa-nya. Tapi nggak menjawab. Mungkin karena hari minggu jadi sang dokter sedang berlibur. Kutelpon beberapa RSIA juga tak ada dokter anak yang jaga. Akhirnya kucoba menangani sendiri sebisanya. Nyampe sore Dahan masih saja nggak mau makan. Badannya kelihatan lemes. Sampai akhirnya seorang tetangga yang baik menyapa dan menanyakan kondisi Dahan yang kelihatan lemas. Dia bercerita mungkin sakit Dahan itu disebabkan kemarin sore Dahan jatuh. Ia menyarankan agar segera dipijitin dan CT scan saja. Apa? Dahan jatuh???

Sontak akupun kalap. Kok tega-teganya yah, sang Nanny mendiamkan begitu saja peristiwa jatuhnya Dahan tersebut. Benar-benar berbahaya, nyawa anak kecil taruhannya. Apalagi anak kecil belum bisa bercerita tentang apa yang dialaminya. Meski akhirnya dari hasil CT Scan keesokan harinya ternyata Dahan tidak mengalami trauma yang serius, tapi trauma psikis yang kuterima akhirnya memaksa aku dengan berat hati untuk memberhentikan sang Nanny. Kutakut hal ini akan terjadi berulang dan berulang lagi.

Apakah sang Nanny telah terjangkit oleh "burn out" juga? Berapa banyak Nanny-nanny lain yang juga terjangkit "burn out" ini, sehingga lebih mengutamakan keselamatan dirinya dari omelan majikan dari pada keselamatan sang anak yang notabene menjadi tanggung jawab utamanya? Sungguh hidup di zaman ini telah memunculkan begitu banyak resiko yang semakin besar.

Melihat banyaknya fenomena "burn out" yang menjangkiti orang-orang dengan beragam profesi sekarang ini, aku hanya bisa berdoa, "Mudah-mudahan "burn out" tidak menimpa para suami, menimpa para bapak, dan apalagi para ibu. Sungguh bisa dibayangkan betapa tragisnya jika ibu juga mengalami "burn out" dalam melihat anak-anaknya.

Monday, February 16, 2009

American, Russian, & Indonesian

Ini bukanlah teori apalagi kesimpulan ilmiah. Hanyalah sekedar curhat atau kesimpulan pribadi yang tak haram disebut ngawur atas fenomena yang berhubungan dengan eksistensi seorang dokter yang kualami selama ini, khususnya tentang dokter spesialis anak.

Dari guyonan teman-teman dan juga saudara, aku menemukan tiga tipe dokter dengan berbagai karakteristiknya. Pertama adalah dokter tipe american, konon dokter tipe ini berkarakter sangat informatif. Jadi tanpa pasien perlu ceriwis dengan sang dokter dengan senang hati akan menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan kesehatan sang pasiennya.Sayangnya dokter tipe ini di Indonesia biasanya mahal. Mungkin karena harga yang diberikan mahal, makanya servisnya juga maksimal. Nah kalau yang kita punya cuma dana yang pas-pasan, susah deh menemukan dokter tipe ini di Indonesia.

Kedua adalah dokter tipe Russian. Karakter dokter tipe Russian ini sangat menyenangkan. Pasalnya mereka selalu memperlakukan pasien bak raja. Kesimpulan akan tipe ini berhasil kudapatkan dari cerita om-nya Dahan yang pulang dari study masternya di Rusia. Katanya di Rusia, mungkin dikarenakan ideologi negaranya yang sosialis, profesi dokter adalah profesi yang tidak elitis. Posisi dokter tak beda sama sekali dengan posisi guru-guru di Indonesia. Dokter digaji oleh negara. Karena fungsinya sebagai penyedia layanan publik maka dokter di Rusia tak bisa sekaya dokter-dokter di negara non sosialis. Mereka tak bisa mengeruk keuntungan dari pasiennya yang notabene telah dijamin oleh negara. Karena itu, kredibilitas seorang dokter benar-benar ditentukan oleh keistimewaan servis dan layanannya yang memuaskan bagi sang pasien. bahkan konon di Rusia dokter-dokter benar-benar bersaing untuk memberikan servis terbaik tanpa bisa memungut biaya lebih dari layanannya tersebut. Mereka cuma mengharap tempat layanannya menjadi ramai dan makin diperhatikan oleh negara.

Ketiga adalah tipe dokter Indonesian. Nah mohon maaf sebelumnya kalau pada kesimpulan tipe ini saya berkesan mendeskriditkan dokter di Indonesia. Penemuan saya atas tipe ini bukanlah tuduhan generik. Sekedar kesimpulan mentah dan penuh amarah atas pengalaman yang kutemui selama ini. Selama pengalamanku mencari dokter anak yang cocok untuk si kecil Dahan, aku beberapa kali kecewa. Tak pernah kutemui dspa yang informatif dan bener-bener tertarik pada anak kecil. Dokter indonesia yang kutemui selalu saja to the point.

Langsung periksa saja tak perduli anak ketakutan setengah mati, tulis resep, dan udah... begitu saja. Tak ada basa-basi informatif yang boleh jadi bisa menambah pengetahuan kita. Pasien khususnya anak bener-bener dianggap sebagai target kerja. Ada yang mengatakan bahwa mereka mengalami apa yang disebut "burn out" yaitu rutinitas yang mematikan perasaan dan kepedulian. Benarkah dokter-dokter itu memang telah sampai pada taraf "burn out" atau memang kultur budaya kita yang membuat dokter-dokter Indonesia menjadi seperti itu.

Mudah-mudahan saja sih. Pengalamanku ini adalah pengalaman minor di antara berjuta ibu Indonesia yang ada. Mudah-mudahan yang kutemukan selama ini adalah sebagian terkecil dari dokter-dokter spesialis anak yang ada di Indonesia.

Semoga...

Sunday, January 25, 2009

Tahun Baru Pertama yang Kelabu


Pergantian tahun baru 2008-2009 kemarin merupakan perayaan tahun baru pertama yang ditemui dahan. Sebagai perayaan tahun baru pertama yang sejatinya, kami bertiga, ayah, ibu dan dahan ingin merayakannya dengan cara yang berbeda dari biasanya. sayangnya bagaimana bentuk perayaan tersebut belumlah direncanakan.
Kalau dulu ketika masih sendiri ayah seringnya merayakan tahun baru dengan naik gunung. Entah tahun baru hijriyah maupun masehi, ayah sering merayakannya dengan naik gunung.
Sedangkan ibu sendiri sering merayakan tahun baru dengan cukup bervariasi. Mulai dari di rumah saja dan nonton TV, jalan-jalan keliling kota, sampai sesekali bergadang bersama teman-teman.
Namun saat ibu dan ayah sudah pacaran, ibu dan ayah kerap merayakan tahun baru dengan melihat kegiatan-kegiatan budaya yang kerap digelar para seniman di taman budaya yang kebetulan dekat dengan tempat kuliah dan kost ibu dan ayah. Menjelang tahun baru, biasanya para penyuka dan pelaku seni kerap mempunyai acara-acara yang boleh dibilang orisinil dan unik. Mulai dari inovasi pertunjukkan teater, monolog dan baca puisi, performance art, pameran lukisan, instalasi seni dan banyak lainnya.
Malang tak bisa diduga. Sore hari menjelang malam pergantian tahun tiba-tiba badan dahan demam. Ingin konsisten dalam mengurangi penggunaan obat-obatan bagi anak-anak, ibu pun cuma menggunakan plester kompres penurun panas untuk mengatasi demam tersebut. Tapi makin malam panas tubuh dahan tak juga turun. Akhirnya ibu memberikan tempra pada Dahan. Tapi obat ini pun tak begitu berpengaruh.
Khawatir karena panas dahan tak juga turun, bahkan sempat meracau, akhirnya ibu menelpon dspa dahan, takut sang dokter pergi ke luar kota untuk merayakan tahun baru. Untung pak dokter tak keluar kota. Keluarga besar pak dokter justru berkumpul di rumah pak dokter untuk merayakan tahun baru.
Akhirnya dahan pun dibawa ke rumah pak dokter, Aswir, dan diperiksa. Ups... kata dokter dahan menderita radang tenggorokkan. Saat dokter memberikan resep, ibu meminta pak dokter untuk tidak memberikan obat antibiotik. Pak dokter tidak keberatan, tapi dia menyarankan untuk tetap memberikan obat antibitoik karena radang dahan terlanjur parah. Karena khawatir, ibu menyerah untuk menerima antibiotik yang disarankan dokter.
Malam itu, malam pergantian tahun baru 2008-2009. Dengan perjuangan yang tidak enteng, akhirnya ibu bisa menelankan obat yang diresepkan dokter buat dahan. Pelan tapi pasti berangsur-angsur panas dahan mulai turun. Seiring dengan panas yang menurun, ingus dahan mulai keluar dan batuknya pun mulai terdengar mengganggu. Kayaknya demam dahan tadi merupakan pembukaan dari serangan flu yang mencecar pertahanan tubuh dahan.
Meski masih lemas, dahan mulai tenang. Saat menjelang jam 12 malam, satu-persatu kembang api perayaan mulai dinyalakan. Karena sakit yang dideritanya, dahan, tidak seperti biasanya dahan masih terjaga. ayah dan ibu pun bisa mengajak keluar di halaman rumah untuk melihat ramainya kembang api yang kebetulan didukung oleh langit yang cerah.
Lumayan... meski tidak enak badan, hari itu dahan bisa menyaksikan ledakan-ledakan indah kembang api yang menghias langit jakarta yang biasanya cukup sarat oleh polusi yang menyesakkan.