Wednesday, August 13, 2008

Wicaksono sent you a message

I'd like to connect with you on Goodreads so we can share book recommendations.

Reply to Wicaksono's message:
http://www.goodreads.com/friend/i?e=rohmahs.desirangin@blogger.com&i=LTM2MDY5NDgyMzI6MzE1 &n=blognyadesir&utm_medium=email&utm_source=invite




Goodreads is a community for book lovers. It's a great way to get book recommendations from your friends and others. You can keep a list of books to read, join book clubs, and even take the never-ending book trivia quiz.

To opt-out of future invites to Goodreads please click here.

This email was sent by request to rohmahs.desirangin@blogger.com.

Monday, June 23, 2008

Ayo Belajar Sayangi Binatang


Dunia semakin renta. Banyak binatang langka semakin hilang. Karena manusia tidak lagi perduli pada mereka, satu persatu binatang hilang melayang. Tinggal gambar dan dongeng sebagai kenangan usang.
Aduuuuh kasihan anak-anak kita nanti. Gimana kelak jika tak banyak lagi binatang asli yang bisa dipandang. Untungnya sekarang belum terlambat untuk memulainya. Ayo kita ajak si kecil untuk belajar sayang binatang. Tak perlu susah-susah mengajaknya ke kebun binatang terlalu dini. Ayo kita mulai saja dari dalam rumah sendiri. Waaaah... bahaya dong bawa-bawa binatang ke dalam rumah. Hehehe... tak perlu repot kok. Ajari saja si kecil untuk mengenal binatang dari boneka-boneka binatang yang sudah banyak dijual di toko-toko mainan. Biarlah si kecil mengelusnya, menyentuhnya dan bermain asyik dengannya. Mudah-mudahan dengan diawali oleh boneka binatang mainan, si kecil nantinya akan tumbuh rasa sayangnya pada binatang. Rasa sayang berkembang, binatang-binatang langka pun terjamin lestari di alam liar.

Huuuuhuh... Berita Kok Bikin Pusing Aja Seeeeh...


John Locke, filosofi yang melegenda dari abad 17, dengan teori "tabula rasa"-nya mengatakan bahwa anak kecil itu ibarat kertas putih yang kosong. Tapi jangan remehkan putihnya anak kecil tersebut. Pasalnya dengan kekuatan putihnya itu, anak kecil memiliki kekuatan untuk menyerap dan meniru apa yang dilihatnya pada kita. Hal ini dibuktikan oleh Andrew Meltzoff, Ph.D, seorang professor psikologi di Universitas Washington, yang membuat penemuan mengagetkan sejak dua puluh tahun lalu. Ia membuktikan bahwa bayi mampu menirukan gerak manusia, bahkan sejak hari pertama! Wow... amazing-kan? Itu sebabnya kita harus berhati-hati jika dekat dengan anak kita. Jangan sembarangan berbuat yang jelek karena bisa-bisa anak kita merekamnya dan menirunya tanpa perlu waktu yang lama lagi. Kebenaran teori di atas itu dibuktikan oleh apa yang kualami bersama desir. Melihat ibu dan ayah yang suka membaca, meski belum bisa membaca ternyata desir bisa meniru lagak orang yang membaca. Bahkan lengkap dengan ekspresi jika kita pusijg apabila membaca sesuatu yang menyedihkan atau memprihatinkan. Lucunya lagi, padahal tak jarang dia kebalik dalam membuka media bacaannya. Tapi gayanya dalam membaca dan berekspresi boleh diacungi jempol loh. Nah yo.... Gimana coba?

Wayang Sayang Wayang Malang


Waduh...waduh..waduh... desir angin kok kenalnya cuma sama micky mouse, donald bebek, winnie the pooh, teddy bear dan semua tokoh-tokoh animasi luar negeri yah. Jangan-jangan ntar kalau sudah gede desir bakalan tak kenal sama budaya tradisional negeri sendiri ya? Untung ayah ada wayang golek. Nah agar tetap cinta budaya Indonesia makanya si desir angin kuajak mainan wayang golek milik ayah. Eeeeh... ternyata desir seneng juga loh. Langsung saja dia asyik memain-mainkan wayah golek ayah dengan bersemangat. Begitu bersemangatnya sampai-sampai wayang tersebut akhirnya tercerai berai. Mula-mula tanganya putus sebelah. Ehh... makin lama kepalanya pun ikutan copot. Waduh..waduh... waduh... gawat nih. Sssssstttt.... jangan bilang-bilang ayah ya desir.... Ntar kalau ayah marah bisa berabe nih. Wayang itu kan kenang-kenangan ayah waktu jadi pembicara sebuah seminar. Bisa-bisa desir tak dibeliin mainan lagi sama ayah. Eit... eit... duuuuh dasar desir gak punya takut. Begitu ayah datang si kecil malah asyik mainin wayang yang sudah bernasib malang pada ayah. Sontak wajah ayah pun terbelalak ternganga. Setelah itu ayah tertawa tergelak-gelak. Geleng-geleng kepala geli. Ternyata ayah tak marah. Hehehe... malahan segera turut asyik bermasin dengan desir. Yaaaaaah.... buat belajar anak apa sih yang harus disesali.

Meneliti Roti & Belajar Makan Sendiri


Mengudap jajanan adalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil. Dengan asupan nutrisi yang bagus dan bergizi maka kebutuhan energi si kecil untuk selalu belajar akan tercukupi dan selalu bisa belajar dengan penuh semangat. Seperti kebanyakan anak kecil, aktivitas makan terkadang dianggap membosankan bahkan menyiksa. Tak jarang si kecil mengalami masa-masa susah untuk makan sehingga kita pusing kepayang dalam menyiasatinya. Nah salah satu cara gampang memberikan asupan nutrisi yang mencukupi tapi tak diemohi si kecil adalah memberikan jajanan. Dengan jajanan yang bisa dimakan sambil asyik bermain maka tanpa disadarinya si kecil mau memasukan makanan ke tubuhnya. Dengan jajanan yang tak perlu disuapkan lagi, maka boleh dibilang si kecil juga belajar makan secara mandiri. Tentu saja kita tak boleh terlalu cepat berharap bahwa si kecil akan langsung serius memakannya dengan lahap. Waktu desirangin kuberikan biskuit untuk dikonsumsi aku berharap bahwa dia segera mengunyahnya dengan lahap. Alamaaak... harapanku segera terhembus sia-sia. Desir menganggap biskuit yang kuberikan adalah mainan. Dengan lagak serius laiknya peneliti dia malah asyik mengamati dan memain-mainkan biskuit yang dipegangnya. Syukurlah... setelah cukup lama memain-mainkannya akhirnya dia tergoda untuk memasukkannya ke mulut. Dicecapnya ragu-ragu lalu mulai dijilat-jilat pelan. Nampaknya indra perasa di lidahnya menyukainya, hal ini nampak dari ekspresi wajahnya yang mengejap-ngejap nikmat. Akhirnya.... si kecil pun mulai benar-benar memakannya dengan nikmat. Rasa senang bercampur capek segera tersungging di benakku. Pasalnya meskipun desir memakan sebagian biskuitnya, tapi sebagian lainnya tercecer kotor dan carut marut di tempatnya bermain. Remah-remah yang basah kena ludah lengket di beberapa tempat. Sementara remah-remah kering terberai di segala arah. Yaaaaah... apaboleh buat. Mungkin itu harga yang harus kita bayar untuk mendidiknya agar bisa segera makan sendiri secara mandiri. I love u desir anginku........

Telur Apa Ini ya....?


Ada sebuah pertanyaan yang tak pernah bisa dijawab dengan pasti. Jawaban yang dikemukakan orang selalu beragam. Tergantung dari mana orang tersebut memandang masalah itu. Nah kalau tiba-tiba anak kita bertanya seperti ini, apa saya harus bisa menjawabnya dengan alasan yang masuk akal atau sekedar memberikan dasar logika agar dia berkreasi untuk menemukan jawabannya sendiri yang diyakini benar? Hehehe... mungkin biarlah ayahnya saja deh yang menjawab masalah ini. Biarlah saya ambil bagian dalam hal mengolah telur untuk mencukupi kebutuhan nutrisi yang berprotein tinggi bagi si kecil tercinta saja aaah... Enaknya aku cukup memilih bagian yang tertawa senang sampai terpingkal-pingkal saat melihat desir anginku melihat penasaran dan penuh rasa ingin tahu ketika kuberikan sate telur puyuh yang tinggal satu untuk dipegangnya. Wajah benar-benar begitu lucu saat kebingungan dan mencoba mengerti telur apa yang dipegangnya saat itu. Telur apa ini ya?.... Nampaknya aktivitas belajar mengenali telur cukup menggoda untuk dijadikan permainan edukatif bagi si kecil. Nggak harus telur asli loh. Telur-telur mainan atau gambar telur tak haram untuk coba kita gunakan.

Belajar Berani Menyelami Misteri


Kekuatan rasa keingintahuan anak kecil merupakan salah satu modal penting yang membuat daya pikir dan kecerdasannya meningkat. Apa pun yang dirasa menjadi misteri selalu ingin diselami. Seringkali karena belum mengerti, seorang anak kecil tak perduli akan bahaya yang terkadang menyertai petualangan pemenuhan rasa keingintahuannya. Itu sebabnya tempat-tempat yang dianggap tersembunyi semisal sudut lemari pakaian, celah-celah antar lemari dan tembok, kolong meja, kolong tempat tidur, dan tempat-tempat lain yang jarang kita jangkau, selalu menjadi incaran anak balita kita dalam bereksplorasi. Begitu pula dengan Desirangin. Ia tak perduli pada debu menumpuk yang sering kali membuatnya bersin-bersin, bau apek yang menyesakkan napasnya, carut-marut sarang laba-laba yang lengket di kulit. Begitu kita sedikit mengabaikannya, tak jarang tahu-tahu desir sudah langsung meringkuk asyik di tempat-tempat tersembunyi tersebut. Asyik meneliti apa saja yang menurutnya penuh misteri atau mungkin berharap kita tak bisa menemukan dia yang syik bersembunyi. Sudut-sudut tersembunyi di rumah kami, benar-benar telah menjelma sebagai dunia tersendiri yang bisa menjadi privasi bagi si kecil. Tentu saja akibatnya coreng-moreng kepala, muka, tangan, baju, dan celana oleh kotoran yang ada kerap membuat kita sedikit jengkel dan terkadang emosi. Untungnya aku belum pernah sampai lupa diri dan memarahi si kecil yang selalu asyik dengan temuannya sendiri. Siapa tahu dengan petualangan antar kolong yang dilakukannya saat ini, dia bisa mengembangkan bakat-bakat discover dan explorer yang tak mustahil telah dititipkan Tuhan pada anak manis ini. Semoga...