Showing posts with label belajar. Show all posts
Showing posts with label belajar. Show all posts

Wednesday, January 26, 2011

Tiger, Liberal or Local

Cilukba China.

“Belajarlah ke negeri China” jargon ini sudah tak asing lagi di telinga kita. Tetapi pada kenyataannya China yang layak untuk kita jadikan acuan pendidikan adalah China masa lalu, yang kemilau kejayaannya banyak diungkapkan dalam dongeng, legenda dan peninggalan sejarah.

Beberapa waktu lalu, sepertinya China tenggelam dalam kejayaan negara adi kuasa, Rusia-Amerika, Negara Eropa dan Jepang. Namun seperti permainan “Cilukba”, tiba-tiba China muncul sebagai sebuah fenomena baru. Sebagai Negara tertutup dengan kekomunisannya, tiba-tiba sekarang ini China menyeruak, muncul sebagai sebuah negara yang berpotensi menjadi Adi Kuasa baru.

Produk-produk China sepertinya tersebar secara sporadis di seluruh pelosok dunia. Industri-industri besar bergegas membangun manufacture-nya di sana. Tiba-tiba banyak produk-produk branded yang bertuliskan “made in China”. Sampai-sampai banyak kolega, teman, saudara yang membeli oleh-oleh saat melancong di negara-negara besar, harus menelan kekecewaan saat sampai di rumah di karenakan setelah diteliti ternyata oleh-oleh yang mereka banggakan tersebut adalah “made in China”. Begitu memukaunya kebangkitan China sampai-sampai muncul joke, “Jika Amerika dijual, maka Chinalah sekarang ini yang mampu membelinya.”

Tentu saja, kita semua pasti menyadari bahwa kebangkitan China tersebut bukanlah mukjizat yang jatuh begitu saja. Pasti ada sesuatu yang serius, yang menjadi penyokong kebangkitan mereka sekarang. Sayangnya hal tersebut belum begitu terungkap hingga saat ini. Boleh dikatakan bahwa resep kebangkitan China adalah rahasia yang paling membuat penasaran masyarakat hingga saat ini. Ungkapkan “Belajarlah ke negeri China” kembali aktual dan masuk akal.

Sputnik Moment
Bangsa Amerika yang semakin merasa superior akibat keruntuhan uni soviet, tiba-tiba seperti kebakaran kumis. Kegelisahan bangsa Amerika karena negerinya akan disalib oleh kemajuan China tersebut digambarkan secara gamblang dalam Seorang penulis Fareed Zakaria. Dalam bukunya “The Post-American World” yang salah satunya cerita soal “the rise of the rest” dia menjelaskan bangkitnya bangsa-bangsa lain di luar Amerika.

Konon bangsa Amerika sekarang mengalami kembali apa yang disebut “sputnik moment”. Kekagetan dan kegelisahan yang mendera akibat melihat pesatnya kemajuan ekonomi China. Fenomena yang sama dengan ketika mereka merasa kecolongan dengan kemajuan Uni Soviet di bidang luar angkasa saat menggebrak dengan sputniknya.

Di saat mereka kebingungan dan bertanya-tanya kenapa China bisa begitu ajaib itulah tiba-tiba Amy Chua, seorang profesor dari Universitas Yale keturunan Cina, menerbitkan bukunya yang berjudul: "Battle Hymn of The Tiger Mother". Buku ini mengungkapkan pola pendidikan anak-anak di China yang sangat keras dan otoriter yang disebutnya sebagai “Tiger Parenting”. Dalam waktu singkat khususnya di Amerika buku ini segera terjual lebih dari 1 juta eksemplar bahkan bertambah banyak.

Masyarakat Amerika mengira bahwa “tiger parenting” inilah yang bisa jadi menjadi rahasia kemajuan China sekarang. Mereka merasa pola pengasuhan ala keluarga Cina yg keras itu lebih baik daripada pengasuhan liberal ala Amerika.

Lalu benarkah bahwa “Tiger Parenting” memang lebih baik daripada “Liberal Parenting”? Pasalnya seperti yang dikatakan Ulil A. Abdala, bahwa “liberal parenting” adalah pola pengasuhan anak modern yang makin lama makin dominan di seluruh dunia terutama di kalangan kelas menengah. Menurut Ulil yang merupakan salah satu penggagas Jaringan Islam Liberal, hal itu adalah hukum alam. Makin makmur suatu bangsa maka makin liberal pula cara mendidik anaknya.

Back to Local Parenting

Yang jelas sekarang China semakin maju dan mungkin makmur. Akankah “tiger parenting” mereka akan meluntur dan tergantikan oleh “liberal parenting”. Kita tak bisa menjawabnya sekarang. Menurut saya janganlah kita mengadu antara “tiger parenting” dan “liberal parenting” secara berhadap-hadapan. Mungkin kita bisa mengkombinasikannya. Dan tentu saja menyertakan “local parenting” yang banyak dimiliki oleh masyarakat tradisional Indonesia. Saya tetap percaya bahwa sebenarnya banyak kearifan-kearifan local parenting asli Indonesia yang boleh jadi jauh lebih bagus dibanding “tiger” maupun “liberal” parenting. Jangan terlalu kagum pada Barat dan juga Timur.

Mari kita berdayakan “local parenting” Indonesia sendiri yang telah kita pahami sebagai pola pengasuhan anak yang adiluhung dan dan juga agung. Maraknya lembaga-lembaga pendidikan anak dari luar negeri atau mengacu pada pendidikan luar negeri tak perlu kita dewa-dewakan dan unggulkan secara membabi buta. Apalagi biaya pendidikan di lembaga-lembaga tersebut biasanya tidaklah murah. Jangan sampai kita semua salah arah. Terperosok pada pemilihan lembaga pendidikan berbiaya tinggi namun hasilnya tidaklah sesuai yang kita harapkan. Boleh jadi justru pola-pola pendidikan yang nenek moyang kita punya yang akan membawa bangsa ini pada kemajuan yang kita harapkan. Semoga.

Thursday, September 10, 2009

Kalung Daun Singkong, Mainan Engkongnya Engkong

Suatu siang dahan main ke tempat Pakde. Wah... menakjubkan. Meski masih di Jakarta, ternyata ada kebun singkong di belakang mushola samping rumah Pakde. Melihat itu ayah dahan seperti mencoba mengenang sesuatu. Kemudian ayah memetik sebuah daun singkong yang bertangkai panjang. Otak-atik sebentar dan happpp.... sebuah kalung cantik siap dipakaikan ayah ke leher dahan.
Ternyata daun singkong bukan hanya enak buat sayur. Ternyata daun singkong lengkap dengan tangkainya bisa kita jadikan mainan kreatif bagi anak. Mainan alami yang merangsang dan menantang daya kreasi anak-anak.

Mainan yang berupa kalung daun singkong ini bisa kita ajarkan dengan sangat sederhana. Pertama ambil daun singkong segar (yang belum layu) kengkap dengan tangkainya. Kira-kira ambil ukuran satu senti dari pangkal tangkai dan patahkan ke samping secara tidak sempurna sehingga menyisakan kulit tangkainya.
Kemudian ukur sama patahan yang tersisa dan patahkan secara tak sempurna juga ke arah yang berlawanan. Lakukan patahan kedua sisi tersebut secara bergantian sampai akhirnya habis ke daun.

Terakhir potong jari-jari daun sesuai selera sehingga membentuk bandul seperti matahari. Kemudian ambil lidi , potong kira-kira sesenti dan tancapkan ke ujung-ujung pangkal tangkainya sehingga bisa untuk menyatukan sang kalung.

Whew... kalung daun singkong warisan engkongnya engkong pun siap dijadikan aksesoris fashion si kecil. Yuuuukkkkk... kita hidupkan kembali mainan kuno yang alami dan dekat dengan alam yuuuukkk.

Friday, July 24, 2009

Memimpikan Perpustakaan Khusus Buat Anak

Konon membudayakan gemar membaca pada anak-anak sangatlah sulit. Itu sebabnya sampai-sampai pemerintah merasa perlu mengkampanyekan program "gemar membaca" secara nasional. Tetapi ironis, pada kenyataannya, ternyata bukan anak-anak yang sulit diajak untuk menjadi gemar membaca, melainkan justru fasilitas yang mendorong anak-anak menjadi gemar membaca itu sendiri yang tidak cukup tersedia.

Boleh dibuktikan bahwa semua anak pada dasarnya pastilah memiliki ketertarikan yang sangat tinggi untuk membaca buku. Sayangnya tak banyak anak-anak yang beruntung mendapatkan fasilitas cukup untuk memuaskan kehausan minat baca mereka. Tak banyak anak yang memiliki orang tua yang mampu membelikan banyak buku bagi mereka. Sialnya lagi juga tak ada perpustakaan khusus anak-anak yang seharusnya mampu menjadi solusi atas kekurangan ini.

Benar atau entah memang saya sendiri yang nggak tahu, sampai sekarang ini aku tak juga menemukan perpustakaan yang khusus diperuntukan bagi anak-anak. Memang aku pernah mendengar bahwa ada beberapa teman-teman lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan individual, seperti Gola Gong dengan "Rumah Dunia"-nya yang dengan sukarela mendirikan perpustakaan khusus bagi anak-anak lengkap dengan aktivitas pendukung kreatifitas mereka. Tanpa berniat mengecilkan kemampuan mereka, sayang kemampuan individu mereka boleh dikata belum cukup memadai untuk memenuhi kehausan seluruh anak-anak Indonesia di seantero negeri ini. Aku juga pernah mendengar tentang adanya komunitas 1001 buku yang berjuang untuk mengumpulkan buku-buku bekas yang nantinya disumbangkan bagi anak-anak tak mampu. lagi-lagi sayangnya aku baru mendengar saja adanya komunitas ini. Dan menurutku keberdayaan mereka lagi-lagi belumlah memadai untuk memuaskan kehausan minat baca anak-anak Indonesia.

Benarkah? Mudah-mudahan sih gak benar.... sepanjang yang kutahu, keberadaan perpustakaan khusus anak-anak masihlah mimpi. Mimpi yang mungkin saja terbersit karena kebetulan kita punya si kecil. Boleh jadi kita akan abai juga jika tidak ada si kecil yang mewarnai kehidupan kita sekarang. Yah... apa boleh buat. terkadang perjuangan memang membutuhkan katalis. Nah mumpung sekarang katalis itu sudah ada. Mungkin sekarang saatnya kita mulai perjuangan itu. Ayo kita wujudkan mimpi perpustakaan khusus anak menjadi kenyataan. Ayo kita mulai dari rumah kita sendiri, untuk anak kita sendiri, anak-anak kerabat kita, anak-anak tetangga kita, anak-anak se-RT kita, anak-anak se-desa kita, anak-anak se-kecamatan kita , anak-anak se-kabupaten kita, se-Indonesia dan boleh juga akhirnya se-dunia.

Wednesday, March 4, 2009

Rasamala, Malapetaka, Tabula Rasa dan Simalakama

Rasamala adalah pohon berdaun tunggal, berwarna hijau, dan berbentuk bulat telur dengan tepi bergerigi, berbatang tegak lurus, tingginya mencapai 50 m, garis tengah batang mencapai 1,5 m, kulit batang pecah-pecah dan mengelupas berwarna abu-abu kemerah-merahan atau cokelat muda, kayunya berbau harum. Untuk penjelajah di daerah dataran tinggi yang tersesat dan harus bertahan hidup (survival), daun rasamala yang masih muda, bisa dijadikan alternatif logisitik penyambung hidup. Tentu saja rasa daun ini tidaklah enak. Asam-asam sepet, tapi cukup untuk mengisi perut.

Nah... kelakuan anak kita yang gemar dan cepat belajar apa saja, bisa menjadi daun rasamala bagi hidup kita. Terasa asam dan sepet di lidah, tapi terpaksa harus kita telan karena memang itulah kenyataan masa pertumbuhan mereka. Mereka bisa dengan cepat belajar apa saja yang diliat dan didengar, tanpa peduli itu baik atau buruk. Rasa rasamala, terjelma dan terpaksa kita kunyah, jika ternyata tiba-tiba anak kita bisa meniru sesuatu yang buruk dari sekitarnya. Entah dari kelakuan kita sendiri, tetangga, teman bermain, pengasuh, dan bisa siapa saja yang kebetulan pernah berinteraksi dengannya.

Lebih gila lagi, ternyata aksi naif ternyata acap lebih menggoda untuk ditiru oleh anak kita. Nah kalau anak kita dikelilingi oleh lingkungan yang buruk, maka malapetaka jelas-jelas segera tercipta. Anak yang merupakan tabula rasa segera tercipta sebagai pribadi yang membuat kita pusing kepala. Jiwa putih bersih yang kita lahirkan, dengan gampang bisa mendadak menjadi lukisan kotor yang mengganggu dan tak nyaman untuk dilihat. Boleh jadi memang bukan kita yang melukisnya, tapi memang terlalu banyak pelukis-pelukis liar yang ada di lingkungan kita. Entah kerabat, tetangga, teman, pengasuh dan banyak lagi lainnya.

Suatu hari yang damai, tiba-tiba Dahan menemukan peluit bambu bekas terompet tahun baru lalu. Melihat bentuknya yang mirip cigaret, entah dari mana tiba-tiba spontan Dahan bergaya menghisapnya seperti orang yang tengah merokok. Lebih memprihatinkan lagi, gayanya bener-bener seperti gaya perokok pro. Melihat itu sontak ibu mendelik tak percaya. Menengok pada ayah dengan muka penuh tanya dan tuduh. Kontan ayah pun tak kalah bengongnya. Menggeleng ragu, dan mengangkat pundaknya sebagai isyarat tak tahu.

Melihat ayah dan ibu yang terpana takjub, Dahan justru terkekeh-kekeh. Gabungan antara bangga, senang, dan bergaya bahagia. Ibu jadi menuduh ayah pernah merokok di depan Dahan, sementara sampai bersumpah ayah memungkiri bahwa tak pernah melakukan itu. Konon meski memang merokok ayah benar-benar tak pernah merokok di depan Dahan. Jangankan di depan Dahan, di rumah pun ayah benar-benar sudah tak pernah merokok kecuali sesekali saat di toilet.

Lalu dari siapa Dahan bisa menirukan gaya gaya orang merokok dengan begitu fasihnya? Usut punya usut akhirnya teka-teki itu pun terjawab. Ternyata saat dolanan di pekarangan komplek, Dahan sering melihat tetangga-tetangga, khsusunya para ayah yang dengan cueknya tetap merokok dengan asyik, saat memomong anak-anak mereka yang notabene meruapakan teman sebaya Dahan.

Aduuuuuh...sungguh kehebatan daya serap dan daya belajar anak yang begitu besar justru menjelma sebagai bumerang yang menjerumuskan mereka. Dan Lingkungan lah yang menjadi biang kerok munculnya bahaya tersebut. Rasanya menjadi sia-sialah semua pengorbanan dan perjuangan kita selama ini untuk membesarkan dan mendidik anak dengan baik, jika ternyata di lingkungan kita masih saja ada orang yang tak peka dengan masa depan anak-anak kita.
Lingkungan yang tidak mendukung merupakan buah simalakama bagi perkembangan anak-anak kita. Pasalnya, kalau kita jauhkan dari lingkungan anak terancam menjadi anti sosial, sedangkan kalau kita biarkan, anak terancam meniru kelakuan buruk-kelakuan buruk yang diumbar oleh orang-orang tak bertanggung jawab di lingkungan kita. Entah karena kebodohan mereka, ketidakmenertian, atau justru memang kejahatan mereka. ... Mungkinkah kita hanya bisa berdoa saja?

Thursday, February 26, 2009

Bisa Makan Sendiri, Tak Semua Bikin Hepi

Persoalan makan si kecil selau saja menjadi permasalahan tersendiri bagi orang tua. Hampir sebagian orang tua mengeluhkan masalah anak yang susah makan. Padahal kata ahlinya, meski ASI mengandung hampir semua zat gizi dengan komposisi yang sesuai kebutuhan bayi, konon komposisi kandungan nutrisi ASI hanya cukup untuk anak sampai usia 4 bulan. Katanya kandungan vitamin A dan C serta zat besi sudah tidak begitu tinggi. Dus... mau tak mau sejak umur empat bulan anak harus mulai dilatih makan selain ASI.

Aktivitas memberi makan si kecil benar-benar penuh dengan tantangan yang tidak enteng. Harus ceriwis dan pintar merayu anak agar mau disuapi makanan, mengalihkan perhatian si anak ketika dia sudah mulai ogah membuka mulut sehingga tanpa sadar makanan masih bisa masuk ke mulutnya dan banyak kronika-kronika menyuapi anak lainnya.

Ada temen yang ngomong, anak jangan dipaksa makan jika dia sudah tidak berselera lagi. Konon aktivitas makan yang lama dan memaksa bisa menjadikan trauma pada anak sehingga aktivitas makan dianggap sebagai aktivitas yang menyebalkan dan dihindarinya. Tapi dilemanya kalau tidak ditekuni dengan berbagai cara yang terkadang terkesan memaksa, bisa-bisa seharian anak tidak kemasukan makan sama sekali.

Entah kenapa, konon kita orang tua di Indonesia ini dianggap tidak bisa mendidik anak berkenaan dengan masalah makan tersebut. Seorang temen, warga negara Kanada yang kebetulan tinggal di Indonesia dan mempunyai anak di sini, memberi sekedar nasehat bahwa anak harus dibiasakan disiplin saat makan. Kalau makan haruslah duduk di meja makan. Jangan membiasakan memberi makan anak sambil dolanan, jalan-jalan, digendong ke sana ke mari dan aktivitas pengalih perhatian lainnya. Nah sialnya kita di Indonesia justru terbiasa dengan kebiasaan yang dianggap tidak mendidik disiplin tersebut. Yah apa boleh buat mungkin kultur Indonesia memang harus begitu. Jalani saja mana yang dianggap baik dan bisa kita lakukan dengan enteng.

Yah... meskipun sebenarnya membenarkan apa yang dikatakan temen dari Kanada tersebut, tetapi tetap saja aku mengikuti cara Indonesia. Selama dahan belum bisa makan sendiri, tetap saja aktivitas menyuapinya kulakukan sambil mengajaknya dolanan, jalan-jalan, dan aktivitas pengalih perhatian lainnya.

Untungnya menginjak usia paruh tahun menuju tahun kedua, Dahan sudah tertarik untuk belajar makan sendiri. Setiap ayah dan ibu makan, dia pasti selalu nimbrung mengganggu. Meminta sendok sendiri dan ikut-ikutan mengacak-acak makanan ayah-ibu. Berawal dari aktivitas yang usil itu, minat untuk makan sendiri pun terbangun. Saat disuapi makanannya sendiri, acap dahan minta sendok sendiri dan belajar menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Merasa bahwa aktivitas tersebut menunjukkan gejala yang positif akhirnya aku pun dengan senang hati memberikan kesempatan pada Dahan untuk menyuapkan makanannya sendiri.

Aktivitas makan dahan pun menjelma sebagai aktivitas yang lucu, kocak dan menggemaskan. Sayangnya tentu saja semua aktivitas dahan makan sendiri tersebut tak semuanya membikin hepi. Tak jarang piring makanan tumpah ruah di lantai, dan makanan yang di dalamnya pun tumpah ruah mengotori lantai dan perabotan. Belum lagi badan dahan yang menjadi berlepotan makanan di sana-sini. Benar-benar nampak jorok dan menguji kesabaran yang berlebih. Sialnya lagi tak jarang, tanpa sepengetahuan kita, si kecil mencomot makanan yang sudah jatuh dan buru-buru memasukkannya ke mulut. Kalau kebetulan ada kuman penyakit di situ, bisa jadi si kecil bisa terjangkit penyakit seperti diare dan sebagainya.

Yaah... apa boleh buat. Pengorbanan memang diperlukan untuk kemajuan anak-anak kita nantinya. Boleh jadi benar apa yang dikatan Rinso dalam jargon iklannya, "berani kotor itu baik."

Wednesday, September 10, 2008

Mencoba Menumpang Mikrolet


Boleh jadi Mikrolet merupakan salah satu kendaraan publik yang tidak begitu nyaman. Namun apa boleh buat. Tuntutan hidup di kota besar Indonesia selalu menuntut keberanian untuk memanfaatkan sarana publik yang tidak nyaman tersebut, guna menunjang aktivitas hidup. C'est Lavie... terutama di Indonesia.

Sore itu sebuah mikrolet diparkir di tempat parkir komplek tempat Dahan tinggal. Entah kenapa, hari itu pak sopir tidak memaksa mikrolet tersebut untuk beroperasi. Mungkin mesinnya lagi ngadat. Mungkin juga sopirnya lagi gak enak badan. Mungkin juga kehabisan bahan bakar dan belum ada duit buat beli. Atau mungkin juga memang pak sopir lagi malas buat narik.

Nah... mumpung mikrolet ini tak sedang melaju ugal-ugalan, ada kesempatan buat Dahan mencoba menaikinya. Gak cuma mencoba sebagai penumpang. Kepalang basah... coba sekalian bagaimana rasanya mencoba menjadi awak mikrolet yang membantu sang sopir berteriak-teriak mengundang penumpang.

Ah... ternyata, naik mikrolet tak sebahaya yang diceritakan orang-orang dari jalanan yah. Buktinya... Dahan aja bisa kok. Hehehehe..........
Sayang yah... adanya cuma mikrolet. Seandainya yang diparkir di situ, sore itu, adalah bemo.... Waaaah Dahan bisa dong, nangkring di atasnya sambil menyanyikan lagi yang pernah diajarin ayah...

"eeee...bemo rodane telu... cet ijo... karo sing biru....
cah bodo wegah sinau... yen bodo mesak ake ibuuuu..."

Monday, June 23, 2008

Ayo Belajar Sayangi Binatang


Dunia semakin renta. Banyak binatang langka semakin hilang. Karena manusia tidak lagi perduli pada mereka, satu persatu binatang hilang melayang. Tinggal gambar dan dongeng sebagai kenangan usang.
Aduuuuh kasihan anak-anak kita nanti. Gimana kelak jika tak banyak lagi binatang asli yang bisa dipandang. Untungnya sekarang belum terlambat untuk memulainya. Ayo kita ajak si kecil untuk belajar sayang binatang. Tak perlu susah-susah mengajaknya ke kebun binatang terlalu dini. Ayo kita mulai saja dari dalam rumah sendiri. Waaaah... bahaya dong bawa-bawa binatang ke dalam rumah. Hehehe... tak perlu repot kok. Ajari saja si kecil untuk mengenal binatang dari boneka-boneka binatang yang sudah banyak dijual di toko-toko mainan. Biarlah si kecil mengelusnya, menyentuhnya dan bermain asyik dengannya. Mudah-mudahan dengan diawali oleh boneka binatang mainan, si kecil nantinya akan tumbuh rasa sayangnya pada binatang. Rasa sayang berkembang, binatang-binatang langka pun terjamin lestari di alam liar.

Wayang Sayang Wayang Malang


Waduh...waduh..waduh... desir angin kok kenalnya cuma sama micky mouse, donald bebek, winnie the pooh, teddy bear dan semua tokoh-tokoh animasi luar negeri yah. Jangan-jangan ntar kalau sudah gede desir bakalan tak kenal sama budaya tradisional negeri sendiri ya? Untung ayah ada wayang golek. Nah agar tetap cinta budaya Indonesia makanya si desir angin kuajak mainan wayang golek milik ayah. Eeeeh... ternyata desir seneng juga loh. Langsung saja dia asyik memain-mainkan wayah golek ayah dengan bersemangat. Begitu bersemangatnya sampai-sampai wayang tersebut akhirnya tercerai berai. Mula-mula tanganya putus sebelah. Ehh... makin lama kepalanya pun ikutan copot. Waduh..waduh... waduh... gawat nih. Sssssstttt.... jangan bilang-bilang ayah ya desir.... Ntar kalau ayah marah bisa berabe nih. Wayang itu kan kenang-kenangan ayah waktu jadi pembicara sebuah seminar. Bisa-bisa desir tak dibeliin mainan lagi sama ayah. Eit... eit... duuuuh dasar desir gak punya takut. Begitu ayah datang si kecil malah asyik mainin wayang yang sudah bernasib malang pada ayah. Sontak wajah ayah pun terbelalak ternganga. Setelah itu ayah tertawa tergelak-gelak. Geleng-geleng kepala geli. Ternyata ayah tak marah. Hehehe... malahan segera turut asyik bermasin dengan desir. Yaaaaaah.... buat belajar anak apa sih yang harus disesali.

Meneliti Roti & Belajar Makan Sendiri


Mengudap jajanan adalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil. Dengan asupan nutrisi yang bagus dan bergizi maka kebutuhan energi si kecil untuk selalu belajar akan tercukupi dan selalu bisa belajar dengan penuh semangat. Seperti kebanyakan anak kecil, aktivitas makan terkadang dianggap membosankan bahkan menyiksa. Tak jarang si kecil mengalami masa-masa susah untuk makan sehingga kita pusing kepayang dalam menyiasatinya. Nah salah satu cara gampang memberikan asupan nutrisi yang mencukupi tapi tak diemohi si kecil adalah memberikan jajanan. Dengan jajanan yang bisa dimakan sambil asyik bermain maka tanpa disadarinya si kecil mau memasukan makanan ke tubuhnya. Dengan jajanan yang tak perlu disuapkan lagi, maka boleh dibilang si kecil juga belajar makan secara mandiri. Tentu saja kita tak boleh terlalu cepat berharap bahwa si kecil akan langsung serius memakannya dengan lahap. Waktu desirangin kuberikan biskuit untuk dikonsumsi aku berharap bahwa dia segera mengunyahnya dengan lahap. Alamaaak... harapanku segera terhembus sia-sia. Desir menganggap biskuit yang kuberikan adalah mainan. Dengan lagak serius laiknya peneliti dia malah asyik mengamati dan memain-mainkan biskuit yang dipegangnya. Syukurlah... setelah cukup lama memain-mainkannya akhirnya dia tergoda untuk memasukkannya ke mulut. Dicecapnya ragu-ragu lalu mulai dijilat-jilat pelan. Nampaknya indra perasa di lidahnya menyukainya, hal ini nampak dari ekspresi wajahnya yang mengejap-ngejap nikmat. Akhirnya.... si kecil pun mulai benar-benar memakannya dengan nikmat. Rasa senang bercampur capek segera tersungging di benakku. Pasalnya meskipun desir memakan sebagian biskuitnya, tapi sebagian lainnya tercecer kotor dan carut marut di tempatnya bermain. Remah-remah yang basah kena ludah lengket di beberapa tempat. Sementara remah-remah kering terberai di segala arah. Yaaaaah... apaboleh buat. Mungkin itu harga yang harus kita bayar untuk mendidiknya agar bisa segera makan sendiri secara mandiri. I love u desir anginku........

Belajar Berani Menyelami Misteri


Kekuatan rasa keingintahuan anak kecil merupakan salah satu modal penting yang membuat daya pikir dan kecerdasannya meningkat. Apa pun yang dirasa menjadi misteri selalu ingin diselami. Seringkali karena belum mengerti, seorang anak kecil tak perduli akan bahaya yang terkadang menyertai petualangan pemenuhan rasa keingintahuannya. Itu sebabnya tempat-tempat yang dianggap tersembunyi semisal sudut lemari pakaian, celah-celah antar lemari dan tembok, kolong meja, kolong tempat tidur, dan tempat-tempat lain yang jarang kita jangkau, selalu menjadi incaran anak balita kita dalam bereksplorasi. Begitu pula dengan Desirangin. Ia tak perduli pada debu menumpuk yang sering kali membuatnya bersin-bersin, bau apek yang menyesakkan napasnya, carut-marut sarang laba-laba yang lengket di kulit. Begitu kita sedikit mengabaikannya, tak jarang tahu-tahu desir sudah langsung meringkuk asyik di tempat-tempat tersembunyi tersebut. Asyik meneliti apa saja yang menurutnya penuh misteri atau mungkin berharap kita tak bisa menemukan dia yang syik bersembunyi. Sudut-sudut tersembunyi di rumah kami, benar-benar telah menjelma sebagai dunia tersendiri yang bisa menjadi privasi bagi si kecil. Tentu saja akibatnya coreng-moreng kepala, muka, tangan, baju, dan celana oleh kotoran yang ada kerap membuat kita sedikit jengkel dan terkadang emosi. Untungnya aku belum pernah sampai lupa diri dan memarahi si kecil yang selalu asyik dengan temuannya sendiri. Siapa tahu dengan petualangan antar kolong yang dilakukannya saat ini, dia bisa mengembangkan bakat-bakat discover dan explorer yang tak mustahil telah dititipkan Tuhan pada anak manis ini. Semoga...

Ciluuuuuk... Badalaaaa..... Mainan Purba Bermanfaat Ekstra


Entah bagaimana sejarahnya dan siapa yang menemukan aku belum pernah menemukan jawabannya. Mungkin kalau ada pembaca yang tahu dan sudi berbagi aku akan sangat berterima kasih. Yang jelas permainan sederhana--,yang cuma dimainkan dengan cara nampak & tak nampak tersebut-- begitu menyebar ke sudut-sudut paling terpencil di dunia dan ajaibnya selalu diminati oleh bocah-bocah manapun di seluruh dunia. Memang namanya bolehlah berbeda-beda, tapi permainannya pasti begitu-begitu juga. Di Indonesia banyak yang menyebut permainan ini dengan nama "Cilukba", tapi di kampungku, kuingat sekali bahwa kami menamainya dengan nama yang lebih panjang yaitu: "Cilukbadala". Meski tak ingat di kepala tapi aku yakin waktu kecil pasti orangtuaku, eyangnya desir, pernah mengajakku untuk bermain permainan ini. Yang jelas aku sering melakukan permainan ini pada keponakan-keponakanku, anak-anak temanku, dan anak kecil lainnya. Sampai akhirnya tiba gilirannya untuk sekarang ini memainkannya bersama desiranginku tersayang. Ciluuuuuuk badalaaaaaa.... Ciluuuuuuk badalaaaaaa.... Awalnya desir bengong bingung. Tapi cukup beberapa kali saja dia sudah langsung merespon dengan tertawa senang dan gemes. Meskipun sangat sederhana, ajaibnya, desir tak cepat bosan permainan ini. Setiap kali diulang, setiap kali itu pula dia tertawa senang. Boleh jadi karena kesederhanaanya permainan ini merupakan permainan purba. Permainan yang mungkin saja telah dimainkan nenek moyang jauh sebelum kita ada. Saat memainkannya aku baru sadar bahwa permainan ini mengajarkan pada anak-anak bahwa sesuatu bisa menghilang dan nampak kembali. Sesuatu bisa pergi dan datang. Sesuatu bisa dilihat dan tak bisa dilihat. Menyadari arti permainan ini, maka melalui media permainan ini aku pun bisa mengajarkan pada desir tentang bagaimana matahari bisa terbit & tenggelam, bagaimana siang bisa datang dan digantikan malam, bagaimana bulan bisa ada dan tak ada, bagaimana ayah bisa pergi dan pulang kembali, dan banyak contoh-contoh sehari-hari lainnya. Boleh jadi desir tak langsung mengerti. Namun melalui permainan ini pelan-pelan nampaknya dia mulai belajar mengkaji tentang sesuatu yang bisa nampak dan menghilang. Ciluuuuuk... Baadalaaaaaa.....Ciluuuuuk... Baadalaaaaaa.....dan kami pun selalu tertawa bersama.

aa..emmmm.... asyiknya bertualang lidah & belajar mengenal rasa



lidah dengan kepekaan saraf indera perasa yang ada di permukaannya merupakan anugerah Tuhan yang sangat indah. itu sebabnya dengan indera ini manusia bisa mengecap berbagai rasa dari semua benda yang ada di dunia. memang kalau dilihat dari jenis spesies berdasarkan makanannya manusia adalah makhluk pemakan segala (omnivora). itu sebabnya sejak kecil seorang balita selalu tergoda untuk mencicipi apa saja yang dilihatnya. tak puas dengan nikmatnya ASI yang diberikan bunda, desir selalu saja mencoba mencicipi rasa semua benda yang ada di sekitarnya. saat ibu dan ayah lengah sedikit saja maka benda-benda yang ada di sekitar desir selalu saja tiba-tiba berpindah masuk ke mulutnya. dengan mimik serius desir selalu mencoba mengidentifikasi rasa yang melekat di lidahnya. meski kerap dilarang, tapi nampaknya rasa penasarannya begitu menggebu. akibatnya dimana pun desir berada dia selalu asik bertualang dengan lidahnya. mulai dari jempol tangan, jempol kaki, kaos kaki, kaos baru yang dibeliin bunda, maenan baru, gelang-gelang kepedulian, piring, gelas, selimut, boneka, tutup bedak, lengan ayah, bahkan tutup toples pun tak luput untuk dicoba. meski kerap melarang tapi ayah dan ibu tak pernah marahpada desir. nampaknya ayah dan ibu bisa mengerti bahwa dari petualangan lidah inilah desir bisa belajar mengenal berbagai rasa yang ada di dunia. aaa'... aaeeemmmm... sampai akhirnya desir terlihat mulai mengerti bahwa ASI dan bubur buatan ibu adalah makanan paling enak yang bisa dirasakan oleh lidahnya. ma kaciiiiiih ibuuuuuuu tercinta....

Wooowww!!! Serunyaaa Belajar Bersama Bayangan...


Rumah imut kami menghadap ke selatan. Hal ini memang disengaja, karena konon di selatanlah mimpi-mimpi indah yang siap menjadi kenyataan selalu dilahirkan. Dengan rumah yang menghadap ke selatan, mimpi-mimpi yang beterbangan dari selatan dengan gampang bisa masuk dan mewarnai rumah kecil kami. Berbeda dengan keseluruhan rumah, jendela kamar bobo desir justru menghadap ke barat. Inipun juga disengaja, karena konon di langit baratlah peri-peri kecil yang lucu dan selalu ceria, terlelap nyenyak menghabiskan malam sampai pagi menjelang. Dengan jendela kamar yang menghadap ke barat maka saat terbangun di pagi yang segar, dengan gampang peri-peri kecil tersebut menemukan jendela masuk ke kamar desir dan kembali menghabiskan waktu bermain dan berbagi ceria bersama desir. Karena jendela kamar desir menghadap barat maka setiap sore, saat sinar mentari tak lagi menyengat panas, pendar-pendar cahyanya acap menyeruak masuk ke kamar desir. Menyapa hangat dan memancarkan sorot terangnya di tembok kamar yang putih. Akibatnya tembokpun berubah seperti layar bioskop yang siap menyajikan gambar, dari bayangan-bayangan benda dan orang-orang yang menghalangi masuknya sinar mentari sore itu. Tak disengaja, munculnya sorot sinar mentari di tembok kamar itu, selalu saja tepat bersamaan dengan jadwal mandi desirangin. Akibatnya, setiap selesai memakai baju dan didandani ayah ibu, desir selalu tak sabar dan bersemangat untuk menyapa bayangan apa saja yang muncul di tembok kamarnya. Melihat itu ayah ibu pun menemukan ide untuk memanfaatkan jasa sang bayangan sebagai media belajar bagi desir. Dengan memainkan tangan sedemikian rupa maka terciptalah berbagai bayangan binatang di dinding kamar desir. Ada kelinci, ayam, burung, kambing, ular, kuda, bahkan kancil di sana. Dengan kemunculan berbagai binatang tersebut, desir pun menjadi bersemangat untuk segera menyapa dan bermain-main dengan mereka. Alhasil kamar desir pun menjadi penuh dengan jeritan dan teriakan seru desir yang bermain asyik dengan sang bayang-bayang. Belajar bersama bayangan.... benar-benar membuat sore desir terasa semakin seruuu... dan penuh dengan tantangan yang berpotensi mencerdaskan pengetahuannya.

Belajar Jalan & Mencintai Alam Sama Embun Pagi


Kata orang-orang tua zaman dulu, biar anak cepat berjalan sebaiknya tiap pagi kakinya dikenakan embun yang ada di rerumputan. Ini memang mitos. Tapi berdasarkan pemikiran sederhana aku pun tak ragu untuk tetap melakukannya. Supaya cepat bisa berjalan setiap pagi kuajak si kecil, Desirangin Dedahan Maulia, main di lapangan bola yang ada di dekat rumah. Ternyata belajar berjalan di lapangan yang rumputnya masih berembun sangatlah bermanfaat. Pertama, karena embun itu adanya hanya di pagi hari saja, maka udaranya pun tentunya masih segar dan jauh dari polusi sehingga sangat bagus untuk paru-paru si kecil, Desirangin. Kedua karena belajar di atas rumput yang menghijau tebal dan butiran embun yang bercahaya menggoda karena terkena sinar mentari, membuat si kecil, Desirangin lebih berani dan bersemangat untuk mencoba. Kita pun juga tak takut-takut melepaskannya. Pasalnya rumput tebal yang empuk membuat acara belajar berjalan menjadi lebih aman dan jauh dari ancaman cedera apabila si kecil jatuh. Ketiga dengan belajar berjalan di atas rumput yang notabene alami, maka hal ini bisa membuat si kecil lebih dekat dengan alam dan kita pun bisa sekaligus mengajarinya untuk lebih mencintai alam dan kelestariannya. Nah ternyata mitos usang tak harus dibuang kan? Masih ada banyak manfaat tersembunyi yang bisa kita pikirkan dengan nalar yang sederhana semata dan tentu saja bermanfaat bagi si Desirangin-ku.

Hore...!!! Desir Nemu Maenan Stimulatif Hemat Nih...


Sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui. Istilah ini benar-benar tepat untuk menggambarkan arti majalah Ayahbunda bagi kami. Isi Ayahbunda tak hanya menambah pengetahuan bagi aku dan suami tapi juga bermanfaat langsung bagi si kecil. Desain, foto dan ilustrasi Ayahbunda yang atraktif dan artistik ternyata mampu mencuri perhatian dan respon dari mata polos si kecil. Diam-diam, tanpa kami sadari si kecil yang baru berusia enam bulan ternyata tergoda untuk ikut menikmati ayahbunda yang kami baca bersama. Awalnya dia terasa mengganggu keasyikanku membaca, tapi begitu sadar akupun dengan ikhlas berbagi dengannya. Wow... ajaib, dengan bersemangat si kecil yang gerak tangannya belum terkoordinasi dengan baik mencoba bersusah payah untuk membolak-balik lembar Ayahbunda dan menekuni gambar-gambar yang ada di dalamnya. Capek karena harus memegangi Ayahbunda yang tebal, akupun menemukan akal untuk menggunting bonus buncil yang selama ini agak aku abaikan. Alhasil si kecil dengan nyaman asyik membolak-balik lembar buncil ini hingga kusut marut. Terkadang iseng suamiku membacakan isi cerita buncil padanya. Eh meskipun mungkin belum mengerti apa yang dibacakan ayahnya, tapi si kecil nampak antusias menyimak ayahnya yang membaca sambil menunjuk-nunjuk gambar di lembaran buncil. Wah... melihat hal ini akupun kegirangan karena menemukan media permainan stimulatif yang hemat namun sangat bermanfaat bagi si kecil. Jadi kami pun tak perlu lagi membeli mainan-mainan stimulatif yang terkadang mahal kan? Ma kaciiiih Ayahbunda....

Wednesday, October 10, 2007

Boleh Dipandang, Jangan Pernah Dipegang


Tuhan itu maha indah. Itu sebabnya apapun yang diturunkan langsung dari tangan Tuhan selalu saja dipenuhi dengan keindahan. Tak heran siapa pun, dimana pun, dari mana pun, kalangan apapun, orang tuanya, seorang bayi selalu saja lahir dengan pesona dan daya pikat yang benar-benar indah. Entah tangisnya, jeritnya, rajuknya, menguapnya, marahnya, apalagi senyum dan tertawanya, semua tak ada yang bikin orang tidak suka.
Akhirnya di semua tempat, setiap ada kelahiran selalu ingin dipestakan. Selalu saja banyak orang-orang yang datang. Selalu saja banyak orang-orang membezuk. Selalu saja banyak orang-orang membawa hadiah. Dan akhirnya selalu saja banyak orang-orang yang ingin mencolek, menyentuh, mengelus, dan kalau ada kesempatan, berusaha mencium sang bayi yang begitu polos dan murni memikat. Bisa jadi karena sayang, bisa jadi karena doyan, bisa jadi karena terpikat, bisa jadi karena basa-basi dan bisa jadi bukan karena apa-apa. Hanya iseng, jaga etika, atau sekedar ikut-ikutan semata.
Nah parahnya, bayi yang masih polo, susah untuk bisa lolos dari suasana seperti di atas. Cium di sini cium di sana, pegang di sini pegang di sana, colek di sini colek di sana, seluruh tubuh akhirnya rata. Beragam manusia membawa beragam aroma dan tak jarang membawa kuman penyakit yang tidak kentara. Bayi yang masih polos, tak bisa lagi lolos dari ancaman penyakit-penyakit bawaan orang-orang dewasa yang telah dipenuhi beragam dosa. Pilek bisa jadi sudah dianggap penyakit biasa, tapi tak sedikit bayi yang tertular penyakit berat seperti flek paru-paru, TBC, kulit dan penyakit lain-lainnya yang notabene dibawa oleh orang-orang yang menjenguknya.
Jauh sebelum dahan lahir, ibu dan ayah banyak mendengar cerita di atas. itu sebabnya saat dahan kecil ibu dan ayah mati-matian untuk menjauhkan dahan dari serbuan tangan dan ciuman orang-orang yang berdatangan menjenguk. Yangti pun tak kalah perduli. Telepon dari Pakde Nono yang melarang orang untuk asal mencium dan penyentuh dahan membuat yangti sangat hati-hati. "Bayi itu adalah jimat yang harus dijaga, bukan suguhan untuk tamu kita!" begitu tegas Yangti mengingatkan. Meski mungkin terkesan sombong, phobia, keterlaluan atau dianggap melebih-lebihkan, ayah ibu dan yanti tak perduli. Pokoknya siapapun tamu yang berkunjung tak boleh memegang dahan apalagi menciumnya. Biarlah tamu yang datang beramah-tamah dengan mereka yang dewasa saja. Jangan libatkan bayi polos untuk keramahtamahan yang tidak diperlukan. Biarlah bayi cantik, asyik tak terusik. Boleh saja dipandang, tapi jangan pernah dipegang.

Monday, October 8, 2007

Asyiknya Bergelut Selimut & Bedhong

Entah siapapun orangnya, jelas-jelas kita harus berterima kasih kepada penemu selimut. kain apapun, asalkan sudah menjadi apa yang disebut maka selalu saja memiliki daya pukau yang melenakan bagi manusia. sayangnya ayah gagal mencari siapa penemu selimut itu yang sebenarnya, atau memang orang abai untuk mengabadikan namanya? Lagian kenapa pula kita harus berpusing-pusing dengan mencari tahu siapa penemu selimut. Yang jelas selimut adalah salah satu anugerah Tuhan bagi manusia.
Perkenalan dahan pada selimut tidaklah terjadi begitu saja. melainkan memiliki tahapan-tahapan yang pasti dan bersistem. Sejak pertama kali lahir dahan langsung bersinggungan dengan beberapa selimut. Pertama adalah selimut yang dipakai untuk membungkus badan dahan saat baru lahir dan masih bersimbah cucuran darah. Kain selimut yang dipakai dahan untuk keperluan ini adalah kain "jarit" atau secara nasional orang lebih mengenalnya dengan kain batik.
Selimut kedua yang dipakai dahan adalah selimut untuk alas tidur. Untuk lebih menghangatkan badan dan menghindari tempat-tempat berbaring yang tidak bersih maka dimanapun dahan akan ditidurkan maka selalu diberi alas selimut terlebih dulu. Tentu saja untuk keperluan ini, selimut tak berfungsi lagi sebagai mana mestinya. Tapi apa mau dikata, kain selimut memang fleksibel untuk digunakan sebagai apa saja.
Ketiga adalah apa yang disebut "bedhong". Bedhong ini adalah salah satu warisan tradisi lama yang sekarang ini cukup menjadi kontroversial. Konon bayi yang baru lahir masih terbiasa dengan kondisi di dalam kandungan yang hangat dan protektif. Makanya saat awal-awal di luar kandungan, maka bayi akan selalu dikondisikan seperti dalam perut. Nah salah satu caranya adalah dengan membedongnya tersebut. Dengan dibedhong ini maka bayi akan selalu hangat, terlindungi tulang leher dan pinggangnya, bisa lurus kakinya, dan aman wajahnya dari garukan kuku tangan. Itu sebabnya kalau habis mandi dan sudah dibedhong bayi akan cenderung tidur dan tenang.
Tapi di era modern ini masalah bedhong ini ternyata menimbulkan pertentangan antara kalangan pemegang tradisi dan kalangan medis. Menurut ilmu kedokteran diketahui bahwa bayi masih bernafas dengan menggunakan kontraksi perut. akibatnya kalau dibedong terlalu kuat justru akan menyiksa proses pernafasan bayi. Bedhong yang melilit perut dikhawatirkan membuat bayi sulit bernafas. Akibatnya sebagian dokter, bidan dan perawat-perawat modern melarang penggunaan bedhong tersebut, meskipun ada juga beberapa dokter, bidan dan perawat yang secara taktis memodifikasi penggunaan bedhong yang tida melilit kuat bagian perut bayi.Terlepas dari segala carut marut pertentangan tersebut, dahan tetap memilih untuk menggunakan bedhong dengan adaptasi bagian perut yang dilonggarkan. Toh memang yang paling aman adalah memilih untuk di tengah-tengah saja. Dengan begitu tak ada yang terapi yang hilang dan merugikan.
Sampai usia 3 bulan Dahan masih rajin memakai bedhong. Bahkan selewat usia tersebut, Dahan masih beberapa kali memakai bedhong meskipun sudah tidak rutin. Sampai akhirnya sampai pada tahap tidak pernah memakai bedhong sama sekali dan sudah bisa asyik dengan selimut yang dipakai orang pada umumnya. Saking asyiknya sampai-sampai selimut yang digelungkan pada badan dahan acap dimainkan dengan tangannya yang mulai lincah dan dimain-mainkan hingga menutupi wajah. Hari terus berjalan pasti. Dan semakin beranjak gede dahan makin asyik dengan aktivitasnya bersama selimut. Terus asyik bergelut dengan selimut dan terus bereksplorasi mencari keasyikan-keasyikan lain bersama selimut lembut yang selalu menemani saat-saat tidurnya.

Wednesday, October 3, 2007

Mengharap Berkah di dalam Aqiqah

Kata orang-orang Aqiqah adalah bukti penebusan. Jadi kalau ada anak belum bisa diaqiqah maka anak tersebut belum ditebus harga jiwanya dari sang pencipta. Mau percaya atau tidak tentu saja terserah kita. Relegi memang tak bisa jauh dari misteri. Munculnya berjuta bahkan tak terbatas interpersepsi menjadikan misteri tersebut tak pernah mati untuk selalu digali. Biarlah masing-masing memiliki interpretasi. Toh akhirnya hanya kita satu persatu yang musti mempertanggungjawabkan diri sendiri serta interpretasi kita kepada sang pencipta yang haqiqi.
Ayah dan ibu dahan tak pernah gampang percaya pada interpretasi orang mengenai bermacam seremoni relegi. Namun ayah dan ibu juga tak pernah gampang menolak mentah-mentah apalagi mentertawakan interpretasi yang dipercaya orang-orang lain. Ayah selalu yakin bahwa sekonyol apapun interpretasi orang akan relegi pasti ada sedikit manfaat yang bisa diterima dengan akal sehat. Menurut ayah mitos-mitos yang berasal dari relegi janganlah dibuang begitu saja. Tetapi harus kita gali lagi dan kita tafsirkan dengan pemikiran yang lebih sederhana dan masuk akal.
Aqiqah bukanlah mitos. Aqiqah adalah salah satu ibadah yang maknanya banyak diartikan masyarakat sebagai mitos-mitos tentang penebusan jiwa. Menurut Ayah aqiqah jelas-jelas merupakan ibadah. Naif rasanya jika kita menyamakan Tuhan sang pencipta dengan kantor pergadaian. Sang pencipta tak memerlukan penebusan kita. Apalagi penebusan yang seperti transaksi jual beli. Orang tua mendapat titipan anak dari Tuhan dan mereka menebus jiwanya dengan kambing aqiqah. Alamaaak... apa seimbang sih jiwa manusia dengan seekor kambing. Itu sebabnya ayah lebih percaya bahwa aqiqah adalah ibadah syukur, bukanlah aktivitas penebusan yang terkadang justru menjadi beban yang memberatkan bagi mereka yang tidak mampu. Sekali lagi bagi ayah aqiqah adalah sekedar ibadah syukur kepada Tuhan semata. Syukur atas nikmatinya, syukur atas berkahnya, atas karunianya dan atas anak yang sempurna. Jadi untuk mewujudkan rasa syukur itulah sudah selayaknya kita membagi kesenangan berupa nikmatnya daging kambing yang dibagikan terutama kepada orang-orang yang jarang merasakannya.Syukur alhamdulillah. Meskipun bukan pada waktu yang diutamakan dalam islam, akhirnya pada hari ke 40 setalah kelahiran dahan, ayah mendapatkan rezeki untuk melaksanakan Aqiqah di tempat yangti. Syukurnya juga, yangti sangat gembira dan menyambut baik rencana ayah dan ibu. yangti begitu bersemangat dan segera menanyakan harga-harga kambing ke mantan muridnya yang mengerti harga pasar. Eh... tanpa dinyana ternyata mbah Masli, dukun bayinya dahan, memiliki anak yang berjualan kambing. Akhirnya, dengan mentegakan hati untuk menitipkan dahan ke Yangti, ayah dan ibu meluncur ke rumah mbah Masli dengan memakai motor bebek Suprafit milik tante yang ditinggal di rumah yangti.
Gak rugi maksain diri. Di sana ayah dan ibu pun menemukan kambing yang cocok. Gagah, gemuk, sehat dan lincah. Meskipun harganya ternyata cukup jauh di atas perkiraan awal tapi ayah tetap yakin membeli kambing tersebut. Yah... buat anak tersayang kenapa nggak memilih yang terbaik saja, begitu kira-kira pikir ayah. Setelah masalah kambing kelar, selajutnya ayah dan yangti pergi mencari kyai yang akan memimpin doa pada acara penyembelihan. Karena pak kyai adalah teman sekolah Yangti maka kesangupannya pun segera terdengar. Pak Kyai akan datang langsung di lokasi sesuai dengan tanggal yang telah ditentukan.
Untuk masalah pengolahan dan pemasakan daging, Ibu dan Yangti mempercayakan kepada haji Danone, pengusaha katering yang cukup punya nama di sana. Esoknya, lagi-lagi dengan menguatkan diri untuk meninggalkan dahan bersama Yangti, ibu dan ayah pergi ke rumah haji Danone untuk membuat kesepakatan. Setelah haji danone sepakat, maka kita pun tinggal menunggu hari-H semata.
Jumat, 4 Mei 2007 adalah hari aqiqah dahan. Rumah haji danone yang terletak di tengah-tengah sawah masih nampak kelabu tersaput kabut yang pelan-pelan terusir panas mentari. Rumput-rumput yang tumbuh liar di pinggir jalanan beraspal nampak berkilau oleh butiran-butiran embun yang bulat gemerlap. Pagi-pagi sekali, subuh, anak mbah Masli telah mengantarkan kambingnya ke rumah haji danone untuk disembelih. Sekitar jam 7 ibu lagi-lagi memberanikan diri meninggalkan dahan bersama Yangti dan bersepeda motor bersama ayah untuk menjadi saksi pemotongan kambing aqiqah dahan. Kabut tinggal tipis tak berarti, butiran embun tinggal satu dua, jam yang ditentukan telah lewat beberapa saat, tapi pak Kyai yang akan memimpin doa tak juga nampak di pelupuk mata. Mau tak mau akhirnya ayah bolak-balik mencari ke rumah pak Kyai, ke tempat dia biasa jalan-jalan, dan juga ke rumah yangti. Siapa tahu pak Kyai mampir dulu ke rumah.
Matahari tak mau menunggu. Ibu gelisah agak marah. Haji danone gelisah takut waktu memasak tak bisa tepat. Sesuai saran haji Danone akhirnya ayah dan ibu memutuskan mengundang Kyai mesjid terdekat saja untuk mendoakan prosesi penyembelihan. Setelah pak kyai diundang dan ternyata bersedia maka acara penyembelihan pun dijalankan dengan sakral. Di sela-sela rumpun pisang kampung yang tumbuh tak tertata, di kebonan yang ada pohon pepaya-nya, sang jagal telah siap menetak golok tajam ke kambing aqiqah dahan yang telah terbaring pasrah.
Pelan tapi mantap, berguman tapi khusyu, diamini ayah, ibu dan orang-orang yang ada, pak Kyai menggumamkan doa dan niat Aqiqah. Bersama asma Allah, cepat golok tajam memotong leher kambing gemuk. Darah muncrat sesaat dan kemudian mengalir tenang dan deras memerahi lahan kebonan yang masih lembab oleh embun. Kambing pun menggelepar, mati tanpa perlu merasakan kesakitan. gerbang pintu aqiqah dahan telah dibuka. melaju pelan dan pasti menuju ridho illahi.
Usai sejenak melihat kambing dikuliti, ibu dan ayah pun bergegas pulang ke rumah yangti. Sekarang tinggal giliran haji Danone untuk menyulap kambing yang mati menjadi hidangan yang layak dinikmati.
Sementara itu di rumah Yangti mulai gelisah. Karena cukup lama ibu pergi, dahan bangun dan minta disusui asi. Karena ibu belum juga datang akhirnya yangti terpaksa beraksi. Menggendong dahan dan menenangkannya semampu yang yanti bisa. Sampai akhirnya ibu tiba bersama ayah, dan dahaga dahan pun segera terobati.

Saturday, September 29, 2007

Berkarib Sinar Mentari Pagi

Potensi alam dalam membantu pertumbuhan anak sangatlah besar.Asalkan alam tidak rusak maka begitu banyak manfaat langsung yang bisa kita petik untuk membantu pertumbuhan bayi. Itulah salah satu sebab kenapa ayah dan ibu memilih bumiayu, kota kecil di lereng gunung slamet sebagai tempat kelahiran dahan. Alamnya yang msaih segar, udaranya yang tidak begitu tercemar dan hijaunya yang masih segar diharapkan mampu memaksimalkan perkembangan jiwa dan raga dahan. Supaya dahan sehat dan tahan banting, setiap pagi dahan yang masih sagat kecil dibiasakan berjemur di hangat sinar matahari pagi. Hangatnya sinar mentari pagi yang lembut menyeruak, menembus lembab kabut embun yang masih enggan meninggalkan daratan. Dahan terlihat meriap-riap bersemangat menikmati sensasi sentuhan sinar mentari pada kulitnya yang masih super sensitif.
untuk pertimbangan keamanan, yangti menyarankan agar yang berjemur dengan dahan adalah ayah saja. Pasalnya karena ini di kampung ibu, maka kalau yang berjemur bareng dahan adalah Yanti atau ibu maka tetangga-tetangga dan orang yang kenal pasti menyapa. Akibatnya tak bisa dicegah mereka bisa saja mengerubungi dahan, mencium, mencolek dan banyak lagi ancaman mengerikan lainnya. Padahal kondisi dahan masih sangat rentan. Sangat sensitif terhadap penularan virus, bakteri, dan kuman-kuman penyakit. Kalau ayah yang berjemur dengan dahan, maka orang-orang menjadi enggan dan tak berani sembarangan mendekat ke dahan. Alhasil dahan bisa berjemur dengan tenang, nyaman dan puas. Tapi sesekali kalau keadaan sedang aman, dahan pun tak enggan untuk berjemur dengan ibu. Berjemur dengan matahari pagi benar-benar merupakan aktivitas pertama dahan untuk berkarib dengan kekuatan alam. Mudah-mudahan saja, ozon yang selama ini mampu jadi filter agar sinar surya tak lagi bahaya mampu terus terjaga dari ancaman-ancaman pengrusakan oleh aktivitas manusia yang serakah.

Wednesday, September 26, 2007

Pake' Tapel Biar Ga' Meler

Foto-foto dahan dan ibu di saat tiga bulan pertama tak
sering bersih mulus. di kening dahan selalu saja ada
sehelai daun yang menempel. Itu sebabnya sambil
tertawa ayah sering memanggil dahan dengan sebutan
"putri daun".

Daun itu bukanlah sembarang daun. Memang ia adalah
daun sirih biasa yang gampang kita temui di pekarangan
orang Indonesia atau juga tak jarang dijual di pasar.
Dibalik sehelai daun sirih yang menempel di kening
dahan itu terdapat ramuan rempah-rempah nusantara;
kunir, jahe, merica, tumbar dan entah apa lagi hanya
yangti dan mbah masli yang tau pasti.

Boleh jadi beberapa pakaian dahan, ibu dan ayah jadi
kuning karena seringkali tempelan daun berempah yang
di kening dahan lepas dan menempel di sana. Eh...
beberapa bantal dan seprei yang dipakai tidur dahan
juga bernasib serupa, menjadi kuning karena lelehan
kunir yang mencair.

Nah kalau kunir parutan kunir yang ada dibalik daun
sirih tersebut sering meleleh maka fungsi dari
tempelan daur sirih berrempah tersebut justru
sebaliknya.

Dengan tempelan yang disebut "tapel" tersebut maka
panas yang ada di kepala bisa terserap dan hidung
dahan jadi tahan terhadap ancaman pilek. Akibatnya
dahan tak gampang meler atau beringus hidungnya.
Ternyata hasilnya bisa dibuktikan. Sampai sekarang
Alkhamdulillah dahan sehat dan tidak sentrap-sentrup
karena ingus yang selalu menempel.

Lain kening lain tapelnya dan tentu saja lain
manfaatnya. Kalau tapel di kening dahan masih agak
simpel ramuannya, maka tapel yang ditempel di kening
ibu jauh lebih rumit bahan-bahan isinya. Yang jelas
tapel di kening ibu ini berfungsi untuk mendinginkan
suhu badan khususnya kepala ibu yang tengah melakukan
penyembuhan sendiri di masa paska melahirkan.

Bisa diibaratkan orang melahirkan adalah mesin yang
diforsir secara maksimal. otomatis mesin tersebut
perlu turun mesin. Dus begitu pulalah dengan orang
melahirkan. MEski dari luar ibu masih nampak cantik
dan sehat tapi organ-organ dalam ibu boleh dikatakan
hancur dan perlu berbagai perawatan teliti, rutin dan
kontinue. Termasuk salah satunya adalah menempel tapel
tersebut. Untungnya, meski tertempel tapel ramuan
yang bikin lucu, wajah ibu masih selalu kelihatan
cantik. Duuuuhhhh... ibu siapa dulu siiiih. Tentu saja
kalau dahannya cantik ibunya tentu juga cantik. I love
u ibu tersayang...



____________________________________________________________________________________
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows. Yahoo! Answers - Check it out.

http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545433