Showing posts with label cinta alam. Show all posts
Showing posts with label cinta alam. Show all posts

Thursday, September 10, 2009

Kalung Daun Singkong, Mainan Engkongnya Engkong

Suatu siang dahan main ke tempat Pakde. Wah... menakjubkan. Meski masih di Jakarta, ternyata ada kebun singkong di belakang mushola samping rumah Pakde. Melihat itu ayah dahan seperti mencoba mengenang sesuatu. Kemudian ayah memetik sebuah daun singkong yang bertangkai panjang. Otak-atik sebentar dan happpp.... sebuah kalung cantik siap dipakaikan ayah ke leher dahan.
Ternyata daun singkong bukan hanya enak buat sayur. Ternyata daun singkong lengkap dengan tangkainya bisa kita jadikan mainan kreatif bagi anak. Mainan alami yang merangsang dan menantang daya kreasi anak-anak.

Mainan yang berupa kalung daun singkong ini bisa kita ajarkan dengan sangat sederhana. Pertama ambil daun singkong segar (yang belum layu) kengkap dengan tangkainya. Kira-kira ambil ukuran satu senti dari pangkal tangkai dan patahkan ke samping secara tidak sempurna sehingga menyisakan kulit tangkainya.
Kemudian ukur sama patahan yang tersisa dan patahkan secara tak sempurna juga ke arah yang berlawanan. Lakukan patahan kedua sisi tersebut secara bergantian sampai akhirnya habis ke daun.

Terakhir potong jari-jari daun sesuai selera sehingga membentuk bandul seperti matahari. Kemudian ambil lidi , potong kira-kira sesenti dan tancapkan ke ujung-ujung pangkal tangkainya sehingga bisa untuk menyatukan sang kalung.

Whew... kalung daun singkong warisan engkongnya engkong pun siap dijadikan aksesoris fashion si kecil. Yuuuukkkkk... kita hidupkan kembali mainan kuno yang alami dan dekat dengan alam yuuuukkk.

Wednesday, September 9, 2009

"Bike 2 Parenting" bukan "Bike 2 Work" apalagi "Work 2 Bike"


Tersentil atas kondisi alam lingkungan yang semakin rusak karena polusi, di Jakarta beberapa orang yang peduli, menggulirkan gerakan masa untuk kembali memanfaatkan sepeda sebagai sarana transportasi ke tempat kerja. Mereka menamakan gerakan tersebut dengan Bike 2 Work.

Menggembirakan. Ternyata gerakan tersebut mendapat dukungan masyarakat yang tidak sedikit. Dari kalangan masyarakat biasa sampai kalangan pejabat teras pemerintahan pun turut memberikan dukungan.

Hebatnya lagi trend olahraga bersepeda kembali mewabah. Seiring dengan wabah itu pun varian dan harga sepeda turut berkembang pesat. Mulai sepeda harga ratusan ribu, jutaan, sampai puluhan juta, semua tersedia. Akhirnya demi gengsi dan hobi banyak kalangan berduit dan setengah berduit yang bersaing membeli sepeda dengan harga yang tinggi. Karena tak sedikit yang memaksakan diri, ada yang usil memplesetkan istilah "Bike to Work" menjadi "Work to Bike".

Dari sekedar omongan, sebenarnya ayah Dahan ingin ikut-ikutan ber Bike2Work, tapi karena jarak rumah dan kantor yang cukup jauh, niat itu tinggal sekedar omongan belaka. Akhirnya sepeda yang dibeli dengan cukup memaksa itu hanya dipakai pada waktu-waktu libur saja. Untung lainnya, ayah Dahan juga nggak tergoda menjadi "work 2 bike". Tidak berambisi meng-upgrade sepedanya sehingga memakan biaya yang cukup memberatkan.

Malahan akhir-akhir ini ayah dahan ini menyebarkan aliran bersepeda baru yaitu "Bike to Parenting". Berbekal dengan sedikit kreativitas dengan membuat boncengan untuk anak, maka sepeda yang ada bisa digunakan untuk kegiatan mengasuh anak. Alhasil.... ayah bisa berolahraga, anak ceria, ibu pun bisa lega.

Tentunya "bike 2 parenting" ini nantinya akan sangat menguntungkan. Anak jadi terbiasa memanfaatkan sarana transportasi sehat sehingga kelak bisa menjadi budaya yang menggembirakan dibandingkan budaya bermotor ria yang sekarang tak kalah maraknya juga.

Monday, November 24, 2008

Ayam mengeram tingkahnya seram

Entah karena sudah lama, entah karena lupa, atau memang karena sudah tidak takut lagi... di Takeran Dahan diizinkan melihat, mendekati dan maen ayam-ayam kampung yang dipiara mbah sepuh. Boleh jadi flu burung sudah tidak menjadi momok lagi. Dahan boleh berlari-lari mengejar ayam-ayam kecil yang sepertinya mudah dijahili. Berlarian ke sana kemari, sembari bermimpi bisa menangkap mereka dengan mudah.

Namun sia-sia, meski sudah berusaha sekuat tenaga, tetap saja tak bisa menangkap apa-apa. Sampai akhirnya Dahan tanpa sengaja menemukan suatu cara. Makanan yang disuapkan ibu dimuntahkan ke tanah. Alhasil ayam-ayam besar dan kecil segera berkumpul tanpa diminta. Carut-marut berebut makanan muntahan yang tetap saja dianggap menggoda. Dengan begitu Dahan bisa sekali dua kali memegang mereka dengan mudahnya.

Dahan pun terkekeh-kekeh kegirangan, sementara ibu uring-uringan karena suapannya beberapa kali dibuang percuma menjadi santapan ayam. Melihat ibu yang mulai uring-uringan, Dahan pun mencoba beralih kegiatan. Iseng dia datangi induk ayam yang mengeram pada bejana-bejana tanah liat (kuali) di pojokan. Kebetulan induk ayam yang mengeram nampak jinak. Hanya duduk diam, khusyu di peraduannya.
Dengan percaya diri Dahan pun mendekatinya. Senang, mengulurkan tangannya ke tubuh sang ayam. Ups.... tiba-tiba induk ayam bereaksi. Paruhnya terbuka, dan berkeok-keok berisik. Seluruh bulu tubuhnya berdiri mengembang bagaikan merak. Meski tetap diam di tempatnya, tiba-tiba induk ayam itu berubah menyeramkan. Bersiap-siap menerjang bila Dahan tidak menyurutkan niatnya. Dahan kaget bukan kepalang. Nyalinya ciut seketika. Dengan kembang-kempis menahan tangis, Dahan pun mundur bergegas. Berbalik badan cepat, dan merajuk minta digendong. Hehehehe... ayam mengeram, ternyata benar-benar nampak seram.

Monday, June 23, 2008

Ayo Belajar Sayangi Binatang


Dunia semakin renta. Banyak binatang langka semakin hilang. Karena manusia tidak lagi perduli pada mereka, satu persatu binatang hilang melayang. Tinggal gambar dan dongeng sebagai kenangan usang.
Aduuuuh kasihan anak-anak kita nanti. Gimana kelak jika tak banyak lagi binatang asli yang bisa dipandang. Untungnya sekarang belum terlambat untuk memulainya. Ayo kita ajak si kecil untuk belajar sayang binatang. Tak perlu susah-susah mengajaknya ke kebun binatang terlalu dini. Ayo kita mulai saja dari dalam rumah sendiri. Waaaah... bahaya dong bawa-bawa binatang ke dalam rumah. Hehehe... tak perlu repot kok. Ajari saja si kecil untuk mengenal binatang dari boneka-boneka binatang yang sudah banyak dijual di toko-toko mainan. Biarlah si kecil mengelusnya, menyentuhnya dan bermain asyik dengannya. Mudah-mudahan dengan diawali oleh boneka binatang mainan, si kecil nantinya akan tumbuh rasa sayangnya pada binatang. Rasa sayang berkembang, binatang-binatang langka pun terjamin lestari di alam liar.

Belajar Bersahabat dengan Bunga


Ayah Desir sangat senang merawat bunga. Bunga itu indah dan cinta damai, begitu yakin ayah. Bunga selalu memberikan keindahan tapi tak pernah menuntut apa-apa kecuali sekedar kasih sayang dari kita yang mau memeliharanya, lagi-lagi itu keyakinan ayah. Ayah percaya bahwa di tengah-tengah suburnya tanaman bunga selalu ada peri-peri kecil yang cantik dan imut yang siap menebarkan benih-benih cinta dan kebahagiaan kepada siapapun yang merawat sang bunga. Sayangnya sejak pindah ke Jakarta ayah tak mempunyai rumah dengan pekarangan yang luas lagi. Akibatnya tak banyak lagi ragam bunga yang bisa ditanam oleh ayah. Meski sedikit, namun tanpa sengaja ayah memiliki sebuah tanaman bunga yang sedang ramai dibicarakan orang. Bunga berjenis Anthurium yang disebut orang-orang dengan nama "wave of love" itu ternyata tengah mewabah dan dihargai sampai puluhan juta rupiah. Akibatnya banyak orang yang datang melihat, berkomentar, dan juga menawar untuk membelinya. Orang-orang juga banyak menyarankan agar bunga tersebut dijaga dan dijauhkan dari tangan-tangan yang ingin memegangnya agar daunnya tak rusak dan harganya tetap tinggi. Tapi ayah desir tak pernah peduli. Setiap kali ada kesempatan ayah malah selalu mengajak desir untuk bermain dengan bunga tersebut. Biarlah desir belajar mengenal dan bersahabat dengan sang bunga, begitu kata ayah. Ayah tak takut bunganya rusak kalau dipegang-pegang oleh desir? Aaaah... tak ada bunga yang bakalan rusak kalau kita memegangnya dengan cinta, jawab ayah dengan tenangnya. Ayah percaya bahwa desir yang masih polos justru masih dipenuhi dengan naluri-naluri cinta kasih. Dengan mendekatkan desir dengan bunga maka desir akan belajar bersahabat dengan bunga. Dan hasilnya justru akan tumbuh bunga-bunga lain yang lebih indah di masa-masa mendatang sebagai buah dari persahabatan tersebut.

Belajar Jalan & Mencintai Alam Sama Embun Pagi


Kata orang-orang tua zaman dulu, biar anak cepat berjalan sebaiknya tiap pagi kakinya dikenakan embun yang ada di rerumputan. Ini memang mitos. Tapi berdasarkan pemikiran sederhana aku pun tak ragu untuk tetap melakukannya. Supaya cepat bisa berjalan setiap pagi kuajak si kecil, Desirangin Dedahan Maulia, main di lapangan bola yang ada di dekat rumah. Ternyata belajar berjalan di lapangan yang rumputnya masih berembun sangatlah bermanfaat. Pertama, karena embun itu adanya hanya di pagi hari saja, maka udaranya pun tentunya masih segar dan jauh dari polusi sehingga sangat bagus untuk paru-paru si kecil, Desirangin. Kedua karena belajar di atas rumput yang menghijau tebal dan butiran embun yang bercahaya menggoda karena terkena sinar mentari, membuat si kecil, Desirangin lebih berani dan bersemangat untuk mencoba. Kita pun juga tak takut-takut melepaskannya. Pasalnya rumput tebal yang empuk membuat acara belajar berjalan menjadi lebih aman dan jauh dari ancaman cedera apabila si kecil jatuh. Ketiga dengan belajar berjalan di atas rumput yang notabene alami, maka hal ini bisa membuat si kecil lebih dekat dengan alam dan kita pun bisa sekaligus mengajarinya untuk lebih mencintai alam dan kelestariannya. Nah ternyata mitos usang tak harus dibuang kan? Masih ada banyak manfaat tersembunyi yang bisa kita pikirkan dengan nalar yang sederhana semata dan tentu saja bermanfaat bagi si Desirangin-ku.

DuuDuuh... Asyiknya Berkarib Sinar Mentari Pagi

Potensi alam dalam membantu pertumbuhan anak sangatlah besar.Asalkan alam tidak rusak maka begitu banyak manfaat langsung yang bisa kita petik untuk membantu pertumbuhan bayi. Itulah salah satu sebab kenapa ayah dan ibu memilih bumiayu, kota kecil di lereng gunung slamet sebagai tempat kelahiran dahan. Alamnya yang msaih segar, udaranya yang tidak begitu tercemar dan hijaunya yang masih segar diharapkan mampu memaksimalkan perkembangan jiwa dan raga dahan. Supaya dahan sehat dan tahan banting, setiap pagi dahan yang masih sagat kecil dibiasakan berjemur di hangat sinar matahari pagi. Hangatnya sinar mentari pagi yang lembut menyeruak, menembus lembab kabut embun yang masih enggan meninggalkan daratan. Dahan terlihat meriap-riap bersemangat menikmati sensasi sentuhan sinar mentari pada kulitnya yang masih super sensitif. untuk pertimbangan keamanan, yangti menyarankan agar yang berjemur dengan dahan adalah ayah saja. Pasalnya karena ini di kampung ibu, maka kalau yang berjemur bareng dahan adalah Yanti atau ibu maka tetangga-tetangga dan orang yang kenal pasti menyapa. Akibatnya tak bisa dicegah mereka bisa saja mengerubungi dahan, mencium, mencolek dan banyak lagi ancaman mengerikan lainnya. Padahal kondisi dahan masih sangat rentan. Sangat sensitif terhadap penularan virus, bakteri, dan kuman-kuman penyakit. Kalau ayah yang berjemur dengan dahan, maka orang-orang menjadi enggan dan tak berani sembarangan mendekat ke dahan. Alhasil dahan bisa berjemur dengan tenang, nyaman dan puas. Tapi sesekali kalau keadaan sedang aman, dahan pun tak enggan untuk berjemur dengan ibu. Berjemur dengan matahari pagi benar-benar merupakan aktivitas pertama dahan untuk berkarib dengan kekuatan alam. Mudah-mudahan saja, ozon yang selama ini mampu jadi filter agar sinar surya tak lagi bahaya mampu terus terjaga dari ancaman-ancaman pengrusakan oleh aktivitas manusia yang serakah.

Tuesday, October 2, 2007

Bayi Hijau Dipeluk Hijau Alami


Bumiayu adalah kota kecamatan kecil yang tumbuh terlalu cepat. Akibatnya ciri khas kota kecil yang seharusnya unik justru menghilang dari pusat kotanya sendiri. Berada di pusat kota Bumiayu justru kita merasakan kesesakkan laiknya di Jakarta. Orang-orang yang seperti dikejar waktu, kerapatan yang tanpa jarak, lalu lalang orang yang tak juga jeda, dan keadaan-keadaan yang menjengkelkan lainnya.
Untungnya area laiknya mini jakarta ini tak begitu luas. Total jendral hanyalah seluar satu kelurahan di Jakarta semata. Jadi tak perlu tenaga besar untuk melarikan diri dari sana. Cukup naik becak, ojek bermotor trail, atau dokar berkuda, kita pun dengan gampang mengaburkan diri dari keruwetan kota, dan segera menemukan hijaunya pesawahan yang terhampar, atau kebun teh yang berkabut dingin kalau mau lebih jauh lagi, atau hutan-hutan pegunungan slamet yang rimbun dan penuh misteri jika kita pergi tanpa tanggung-tanggung lagi.
Dilihat dari atas emang topografi kota bumiayu cukup memusingkan. Tapi untungnya kota kecil ini berada di lereng gunung tinggi nomer dua di jawa (gunung Slamet). Meski kotanya padat dan sesak tapi dikelilingi oleh luasnya area pesawahan, pegunungan dan hutan lebat yang masih cukup hijau. Sehingga meskipun aktivitas kota bumiayu cukup banyak menghasilkan polusi, hijau sekelilingnya mampu menjadi paru-paru raksasa yang tak pernah lelah memompa udara baru yang segar dan bersih.Tak salah jika ayah dan ibu memilih kota ini sebagai tempat kelahiran dahan. Lebih klop lagi karena rumah yangti bukan berada di pusat kota. Melainkan perbatasan antara kompleks perumahan di kota bumiayu dengan kompleks pesawahan yang mengelilingi bumiayu. Cukup berjalan kaki beberapa puluh meter saja, setiap pagi ayah dan ibu bisa menemukan liatnya lumpur pesawahan yang terinjak kaki telanjang, butir-butir embun pagi berbaur kabut yang menempeli helai-helai rambut dengan butiran butiran air halusnya, dan samar gunung gagah yang menyerah oleh tebal saput kabut yang menghalangi penglihatan. Tentu saja hijau permadani tanaman padi yang terhampar datar di lumpur berair kali adalah pemandangan galib yang selalu menohok tatap mata.
Lega... begitu kata ayah selalu setiap menghirup dalam udara sawah yang melimpah ruah tanpa sampah. Segar dan menjelma candu yang justru menyehatkan bagi ayah-ibu dan tentu saja dahan yang masih bayi hijau. Dengan lahir di kota inilah dengan gampang dahan, yang masih bayi hijau, bisa merajuk manja pada hijau segar alam yang mampu meninabobokannya dalam kemewahan oksigen tak berpolusi. Di kota ini jugalah, mata hijau si dahan, bisa menyaksikan betapa ketidakmodernan justru membawa kesyahduan yang melenakan seperti halnya petani bermandi lumpur yang membajak sawah dengan kerbaunya yang hitam legam warisan emak bapaknya. Di kota inilah Dahan, Ayah, Ibu dan Alam bisa saling memanjakan tanpa perlu saling melukai. Hijau damai, hijau tenang, hijau segar, hijau melenakan, hijau menyejukkan, hijau alam, hijau hati yang selalu mencintai indah alam ini.

Saturday, September 29, 2007

Berkarib Sinar Mentari Pagi

Potensi alam dalam membantu pertumbuhan anak sangatlah besar.Asalkan alam tidak rusak maka begitu banyak manfaat langsung yang bisa kita petik untuk membantu pertumbuhan bayi. Itulah salah satu sebab kenapa ayah dan ibu memilih bumiayu, kota kecil di lereng gunung slamet sebagai tempat kelahiran dahan. Alamnya yang msaih segar, udaranya yang tidak begitu tercemar dan hijaunya yang masih segar diharapkan mampu memaksimalkan perkembangan jiwa dan raga dahan. Supaya dahan sehat dan tahan banting, setiap pagi dahan yang masih sagat kecil dibiasakan berjemur di hangat sinar matahari pagi. Hangatnya sinar mentari pagi yang lembut menyeruak, menembus lembab kabut embun yang masih enggan meninggalkan daratan. Dahan terlihat meriap-riap bersemangat menikmati sensasi sentuhan sinar mentari pada kulitnya yang masih super sensitif.
untuk pertimbangan keamanan, yangti menyarankan agar yang berjemur dengan dahan adalah ayah saja. Pasalnya karena ini di kampung ibu, maka kalau yang berjemur bareng dahan adalah Yanti atau ibu maka tetangga-tetangga dan orang yang kenal pasti menyapa. Akibatnya tak bisa dicegah mereka bisa saja mengerubungi dahan, mencium, mencolek dan banyak lagi ancaman mengerikan lainnya. Padahal kondisi dahan masih sangat rentan. Sangat sensitif terhadap penularan virus, bakteri, dan kuman-kuman penyakit. Kalau ayah yang berjemur dengan dahan, maka orang-orang menjadi enggan dan tak berani sembarangan mendekat ke dahan. Alhasil dahan bisa berjemur dengan tenang, nyaman dan puas. Tapi sesekali kalau keadaan sedang aman, dahan pun tak enggan untuk berjemur dengan ibu. Berjemur dengan matahari pagi benar-benar merupakan aktivitas pertama dahan untuk berkarib dengan kekuatan alam. Mudah-mudahan saja, ozon yang selama ini mampu jadi filter agar sinar surya tak lagi bahaya mampu terus terjaga dari ancaman-ancaman pengrusakan oleh aktivitas manusia yang serakah.

Thursday, September 20, 2007

Di Pingir Lapangan, Di Depan Kali


Tanah kosong itu mirip lapangan bola. Pasalnya dua buah gawang sepakbola ada di ujung-ujungnya. Rumput-rumputnya tumbuh acak dan menyebar tak beraturan. Di satu sudut nampak rimbun, di sisi lainnya tumbuh agak jarang sementara di tengah-tengah benar-benar botak dan berlubang seperti kubangan.
Meski tidak bagus namun setiap sore banyak anak-anak yang bermain bola di situ. Apalagi kalau hari Minggu. Ada seorang guru olahraga yang mengajar main bagus pada anak-anak kampung di situ. Memang, lapangan itu tidaklah bagus, tapi pemandangan yang nampak dari lapangan itu benar-benar indah. Dari jauh nampak gunung Slamet, yang puncaknya jarang terlihat karena selalu tersaput awan dan kabut. Sepanjang jalan ke arah gunung Slamet tersebut, nampak sawah membentang yang hijau dan terhampar luas.
Lapangan "Pendawa" begitulah kira-kira orang menyebutnya. Karena ada di sekitar lapangan PEndawa tersebut maka daerah tersebut disebut juga sebagai komplek lapangan Pendawa. Di daerah inilah rumah Yangti-nya Dahan berada. Rumah sedang yang sederhana itu tepatnya berada di sisi selatan dari lapangan Pendawa. Tepat di pinggir selatan lapangan tersebut. Akibatnya setiap ada bola yang tertendang melenceng, tak jarang genteng rumah YangTi menjadi rusak dan bocor.
Namun tanpa takut selalu bocor, rumah YangTi memang menghadap ke lapangan itu. Jadi tak perlu keluar rumah kita bisa melihat pertandingan yang berlangsung di lapangan melalui jendela depan rumah yang semuanya berupa kaca.
Rumah Yangti tidaklah besar, namun juga tak bisa disebut kecil. Soalnya bagian depan rumah masih bisa menampung beberapa bangku sekolah yang selalu digunakan YangTi untuk mengajar anak-anak desa mengenai menjahit dan modiste. Meski muridnya selalu ramai, tapi Yangti tak pernah kecapean dan malas untuk mengajar. Dengan sabar yangti membimbing mereka sampai dua kali sehari. Sekali seperti jam-jam sekolah pada umumnya yaitu waktu pagi, dan sekali lagi setelah jam makan siang buat murid-murid yang masih ingin memperjelas pelajaran.
Rumah yangti bukanlah terbuat dari keramik yang mahal. Tapi rumah ini selalu terjaga kebersihannya. Tak kalah dengan hotel Yangti rajin menghias rumah dengan rangkaian bunga yang dipetik sendiri dari taman bunga mini yang ada di depan dan samping rumah.
Namun berbeda dengan rumah2 desa yang benar-benar masih desa, lahan di rumah Yangti cukup terbatas. Itu sebabnya hanya bisa dimanfaatkan untuk membuat taman bunga kecil yang bisa dipakai untuk menyemarakkan rumah.
Tak ada lagi lahan untuk membuat lubang penampungan sampah, namun tak seperti halnya kehidupan di kota, tak ada juga tukang sampah yang mengumpulkan sampah dari rumah-rumah. Sampah dari rumah Yangti cukup dibuang di sungai yang berada beberapa meter di belakang rumah. Cukup mengganggu memang. Namun karena pemerintah kecamatan tak berminat mengurusnya maka kebiasaan itu seperti sudah jadi budaya. Keindahan aliran air yang menerjang bebatuan gunung agak berkurang karenanya. Namun karena aliran air yang tak pernah berhenti, bermacam batu-batuan gunung yang tua, terasah mengkilatoleh alam dan terserak acak di sepanjang sungai masih mampu menyuguhkan keindahan tersendiri bagi sungai itu. Apalagi pohon-pohon rindang masih banyak tumbuh berjajar sepanjang sungai, meliuk-liuk genit tertiup angin seperti menyanyi diiringi oleh gemericik air.
Ya sungai itu masih cukup indah. Tentu saja sangat jauuuuh lebih indah kalau dibandingkan dengan ciliwung. Entah bagaimana ceritanya orang-orang di situ memberi nama sungai ini dengan nama Kali Erang. Karena sungai ini cukup dominan sebagai ciri desa maka desa situ pun juga diberi nama desa Kalierang.
Nah di rumah sederhana berukuran sedang yang berada di pinggir lapangan dan di depan Kali Erang inilah ibu memutuskan untuk menunggu dengan bahagia detik2 kelahiran dahan.

Wednesday, September 19, 2007

Rumah Bersih di Kampung Sederhana





hari demi hari terus berlalu. Jakarta masih saja gerah, sesak, sarat polusi dan berisik. didorong oleh perlakuan semang yang semena-mena, memugar rumah tanpa peduli pada pengontrak, ayah & ibu memutuskan untuk pindah rumah ke daerah yang lebih hijau dari pada yang sekarang.
Memang membutuhkan kocek yang lebih gede. Namun rumah baru yang ditempati ayahibu jauh lebih nyaman dibanding rumah lama. Pertama jauh dari banjir, kedua lokasinya masih cukup hijau, masih ada cukup banyak tanah lapang dan pohon-pohon besar yang menyebar. Cukup kuat untuk sedikit membagi oksigen hasil asimilasi sehingga udara tidaklah begitu menyesakkan dada. Ketiga karena berupa komplek perumahan yang cukup ekslusif dan bergebang jadinya tempat ini terbukti sangat aman. Di rumah inilah akhirnya untuk beberapa saat ibu bisa lebih tenang merasakan geliat-geliat nakal dahan di dalam perut. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, ibu selalu memaksa ayah yang dengan sukarela mau menemani ibu jalan-jalan di sekitar lokasi perumahan. Suasana kampung yang cukup sederhana membuat acara jalan-jalan terasa lebih nyaman. Sejenak kita bisa terlena dan lupa bahwa kampung ini masih ada di tengah jakarta. Hanya beberapa jengkal ke luar jalan raya maka kitapun akan kembali terjebak di carut-marut hawa kota yang bikin sengsara.


Memang, meskipun membutuhkan udara segar yang dibagikan tanaman-tanaman rindang, terkadang ibu takut pada tanaman besar yang nampak teduh, tenang, rindang dan tegar menghadang sinar matahari. Temaram sinar yang menggantung dibawahnya tak jarang membuat ibu merinding dan surut ketakutan. Untungnya ayah selalu menemai dengan tenang hingga tanpa sadar cukup jauh ayahibu berjalan melingkari jalan-jalan kampung. Sampai-sampai tetangga kampung merasa heran atas kemampuan ibu untuk berjalan-jalan hingga sejauh itu.
Konon karena ibu rajin jalan-jalan inilah, maka kaki ibu tak sempat mengalami bengkak saat mengandung dahan. Apalagi selain jalan-jalan ibu juga rajin melakukan yoga di sela-sela waktu senggang yang dimilikinya.