Showing posts with label lingkungan alami. Show all posts
Showing posts with label lingkungan alami. Show all posts

Wednesday, January 26, 2011

Tiger, Liberal or Local

Cilukba China.

“Belajarlah ke negeri China” jargon ini sudah tak asing lagi di telinga kita. Tetapi pada kenyataannya China yang layak untuk kita jadikan acuan pendidikan adalah China masa lalu, yang kemilau kejayaannya banyak diungkapkan dalam dongeng, legenda dan peninggalan sejarah.

Beberapa waktu lalu, sepertinya China tenggelam dalam kejayaan negara adi kuasa, Rusia-Amerika, Negara Eropa dan Jepang. Namun seperti permainan “Cilukba”, tiba-tiba China muncul sebagai sebuah fenomena baru. Sebagai Negara tertutup dengan kekomunisannya, tiba-tiba sekarang ini China menyeruak, muncul sebagai sebuah negara yang berpotensi menjadi Adi Kuasa baru.

Produk-produk China sepertinya tersebar secara sporadis di seluruh pelosok dunia. Industri-industri besar bergegas membangun manufacture-nya di sana. Tiba-tiba banyak produk-produk branded yang bertuliskan “made in China”. Sampai-sampai banyak kolega, teman, saudara yang membeli oleh-oleh saat melancong di negara-negara besar, harus menelan kekecewaan saat sampai di rumah di karenakan setelah diteliti ternyata oleh-oleh yang mereka banggakan tersebut adalah “made in China”. Begitu memukaunya kebangkitan China sampai-sampai muncul joke, “Jika Amerika dijual, maka Chinalah sekarang ini yang mampu membelinya.”

Tentu saja, kita semua pasti menyadari bahwa kebangkitan China tersebut bukanlah mukjizat yang jatuh begitu saja. Pasti ada sesuatu yang serius, yang menjadi penyokong kebangkitan mereka sekarang. Sayangnya hal tersebut belum begitu terungkap hingga saat ini. Boleh dikatakan bahwa resep kebangkitan China adalah rahasia yang paling membuat penasaran masyarakat hingga saat ini. Ungkapkan “Belajarlah ke negeri China” kembali aktual dan masuk akal.

Sputnik Moment
Bangsa Amerika yang semakin merasa superior akibat keruntuhan uni soviet, tiba-tiba seperti kebakaran kumis. Kegelisahan bangsa Amerika karena negerinya akan disalib oleh kemajuan China tersebut digambarkan secara gamblang dalam Seorang penulis Fareed Zakaria. Dalam bukunya “The Post-American World” yang salah satunya cerita soal “the rise of the rest” dia menjelaskan bangkitnya bangsa-bangsa lain di luar Amerika.

Konon bangsa Amerika sekarang mengalami kembali apa yang disebut “sputnik moment”. Kekagetan dan kegelisahan yang mendera akibat melihat pesatnya kemajuan ekonomi China. Fenomena yang sama dengan ketika mereka merasa kecolongan dengan kemajuan Uni Soviet di bidang luar angkasa saat menggebrak dengan sputniknya.

Di saat mereka kebingungan dan bertanya-tanya kenapa China bisa begitu ajaib itulah tiba-tiba Amy Chua, seorang profesor dari Universitas Yale keturunan Cina, menerbitkan bukunya yang berjudul: "Battle Hymn of The Tiger Mother". Buku ini mengungkapkan pola pendidikan anak-anak di China yang sangat keras dan otoriter yang disebutnya sebagai “Tiger Parenting”. Dalam waktu singkat khususnya di Amerika buku ini segera terjual lebih dari 1 juta eksemplar bahkan bertambah banyak.

Masyarakat Amerika mengira bahwa “tiger parenting” inilah yang bisa jadi menjadi rahasia kemajuan China sekarang. Mereka merasa pola pengasuhan ala keluarga Cina yg keras itu lebih baik daripada pengasuhan liberal ala Amerika.

Lalu benarkah bahwa “Tiger Parenting” memang lebih baik daripada “Liberal Parenting”? Pasalnya seperti yang dikatakan Ulil A. Abdala, bahwa “liberal parenting” adalah pola pengasuhan anak modern yang makin lama makin dominan di seluruh dunia terutama di kalangan kelas menengah. Menurut Ulil yang merupakan salah satu penggagas Jaringan Islam Liberal, hal itu adalah hukum alam. Makin makmur suatu bangsa maka makin liberal pula cara mendidik anaknya.

Back to Local Parenting

Yang jelas sekarang China semakin maju dan mungkin makmur. Akankah “tiger parenting” mereka akan meluntur dan tergantikan oleh “liberal parenting”. Kita tak bisa menjawabnya sekarang. Menurut saya janganlah kita mengadu antara “tiger parenting” dan “liberal parenting” secara berhadap-hadapan. Mungkin kita bisa mengkombinasikannya. Dan tentu saja menyertakan “local parenting” yang banyak dimiliki oleh masyarakat tradisional Indonesia. Saya tetap percaya bahwa sebenarnya banyak kearifan-kearifan local parenting asli Indonesia yang boleh jadi jauh lebih bagus dibanding “tiger” maupun “liberal” parenting. Jangan terlalu kagum pada Barat dan juga Timur.

Mari kita berdayakan “local parenting” Indonesia sendiri yang telah kita pahami sebagai pola pengasuhan anak yang adiluhung dan dan juga agung. Maraknya lembaga-lembaga pendidikan anak dari luar negeri atau mengacu pada pendidikan luar negeri tak perlu kita dewa-dewakan dan unggulkan secara membabi buta. Apalagi biaya pendidikan di lembaga-lembaga tersebut biasanya tidaklah murah. Jangan sampai kita semua salah arah. Terperosok pada pemilihan lembaga pendidikan berbiaya tinggi namun hasilnya tidaklah sesuai yang kita harapkan. Boleh jadi justru pola-pola pendidikan yang nenek moyang kita punya yang akan membawa bangsa ini pada kemajuan yang kita harapkan. Semoga.

Wednesday, March 4, 2009

Rasamala, Malapetaka, Tabula Rasa dan Simalakama

Rasamala adalah pohon berdaun tunggal, berwarna hijau, dan berbentuk bulat telur dengan tepi bergerigi, berbatang tegak lurus, tingginya mencapai 50 m, garis tengah batang mencapai 1,5 m, kulit batang pecah-pecah dan mengelupas berwarna abu-abu kemerah-merahan atau cokelat muda, kayunya berbau harum. Untuk penjelajah di daerah dataran tinggi yang tersesat dan harus bertahan hidup (survival), daun rasamala yang masih muda, bisa dijadikan alternatif logisitik penyambung hidup. Tentu saja rasa daun ini tidaklah enak. Asam-asam sepet, tapi cukup untuk mengisi perut.

Nah... kelakuan anak kita yang gemar dan cepat belajar apa saja, bisa menjadi daun rasamala bagi hidup kita. Terasa asam dan sepet di lidah, tapi terpaksa harus kita telan karena memang itulah kenyataan masa pertumbuhan mereka. Mereka bisa dengan cepat belajar apa saja yang diliat dan didengar, tanpa peduli itu baik atau buruk. Rasa rasamala, terjelma dan terpaksa kita kunyah, jika ternyata tiba-tiba anak kita bisa meniru sesuatu yang buruk dari sekitarnya. Entah dari kelakuan kita sendiri, tetangga, teman bermain, pengasuh, dan bisa siapa saja yang kebetulan pernah berinteraksi dengannya.

Lebih gila lagi, ternyata aksi naif ternyata acap lebih menggoda untuk ditiru oleh anak kita. Nah kalau anak kita dikelilingi oleh lingkungan yang buruk, maka malapetaka jelas-jelas segera tercipta. Anak yang merupakan tabula rasa segera tercipta sebagai pribadi yang membuat kita pusing kepala. Jiwa putih bersih yang kita lahirkan, dengan gampang bisa mendadak menjadi lukisan kotor yang mengganggu dan tak nyaman untuk dilihat. Boleh jadi memang bukan kita yang melukisnya, tapi memang terlalu banyak pelukis-pelukis liar yang ada di lingkungan kita. Entah kerabat, tetangga, teman, pengasuh dan banyak lagi lainnya.

Suatu hari yang damai, tiba-tiba Dahan menemukan peluit bambu bekas terompet tahun baru lalu. Melihat bentuknya yang mirip cigaret, entah dari mana tiba-tiba spontan Dahan bergaya menghisapnya seperti orang yang tengah merokok. Lebih memprihatinkan lagi, gayanya bener-bener seperti gaya perokok pro. Melihat itu sontak ibu mendelik tak percaya. Menengok pada ayah dengan muka penuh tanya dan tuduh. Kontan ayah pun tak kalah bengongnya. Menggeleng ragu, dan mengangkat pundaknya sebagai isyarat tak tahu.

Melihat ayah dan ibu yang terpana takjub, Dahan justru terkekeh-kekeh. Gabungan antara bangga, senang, dan bergaya bahagia. Ibu jadi menuduh ayah pernah merokok di depan Dahan, sementara sampai bersumpah ayah memungkiri bahwa tak pernah melakukan itu. Konon meski memang merokok ayah benar-benar tak pernah merokok di depan Dahan. Jangankan di depan Dahan, di rumah pun ayah benar-benar sudah tak pernah merokok kecuali sesekali saat di toilet.

Lalu dari siapa Dahan bisa menirukan gaya gaya orang merokok dengan begitu fasihnya? Usut punya usut akhirnya teka-teki itu pun terjawab. Ternyata saat dolanan di pekarangan komplek, Dahan sering melihat tetangga-tetangga, khsusunya para ayah yang dengan cueknya tetap merokok dengan asyik, saat memomong anak-anak mereka yang notabene meruapakan teman sebaya Dahan.

Aduuuuuh...sungguh kehebatan daya serap dan daya belajar anak yang begitu besar justru menjelma sebagai bumerang yang menjerumuskan mereka. Dan Lingkungan lah yang menjadi biang kerok munculnya bahaya tersebut. Rasanya menjadi sia-sialah semua pengorbanan dan perjuangan kita selama ini untuk membesarkan dan mendidik anak dengan baik, jika ternyata di lingkungan kita masih saja ada orang yang tak peka dengan masa depan anak-anak kita.
Lingkungan yang tidak mendukung merupakan buah simalakama bagi perkembangan anak-anak kita. Pasalnya, kalau kita jauhkan dari lingkungan anak terancam menjadi anti sosial, sedangkan kalau kita biarkan, anak terancam meniru kelakuan buruk-kelakuan buruk yang diumbar oleh orang-orang tak bertanggung jawab di lingkungan kita. Entah karena kebodohan mereka, ketidakmenertian, atau justru memang kejahatan mereka. ... Mungkinkah kita hanya bisa berdoa saja?

Monday, November 24, 2008

Ayam mengeram tingkahnya seram

Entah karena sudah lama, entah karena lupa, atau memang karena sudah tidak takut lagi... di Takeran Dahan diizinkan melihat, mendekati dan maen ayam-ayam kampung yang dipiara mbah sepuh. Boleh jadi flu burung sudah tidak menjadi momok lagi. Dahan boleh berlari-lari mengejar ayam-ayam kecil yang sepertinya mudah dijahili. Berlarian ke sana kemari, sembari bermimpi bisa menangkap mereka dengan mudah.

Namun sia-sia, meski sudah berusaha sekuat tenaga, tetap saja tak bisa menangkap apa-apa. Sampai akhirnya Dahan tanpa sengaja menemukan suatu cara. Makanan yang disuapkan ibu dimuntahkan ke tanah. Alhasil ayam-ayam besar dan kecil segera berkumpul tanpa diminta. Carut-marut berebut makanan muntahan yang tetap saja dianggap menggoda. Dengan begitu Dahan bisa sekali dua kali memegang mereka dengan mudahnya.

Dahan pun terkekeh-kekeh kegirangan, sementara ibu uring-uringan karena suapannya beberapa kali dibuang percuma menjadi santapan ayam. Melihat ibu yang mulai uring-uringan, Dahan pun mencoba beralih kegiatan. Iseng dia datangi induk ayam yang mengeram pada bejana-bejana tanah liat (kuali) di pojokan. Kebetulan induk ayam yang mengeram nampak jinak. Hanya duduk diam, khusyu di peraduannya.
Dengan percaya diri Dahan pun mendekatinya. Senang, mengulurkan tangannya ke tubuh sang ayam. Ups.... tiba-tiba induk ayam bereaksi. Paruhnya terbuka, dan berkeok-keok berisik. Seluruh bulu tubuhnya berdiri mengembang bagaikan merak. Meski tetap diam di tempatnya, tiba-tiba induk ayam itu berubah menyeramkan. Bersiap-siap menerjang bila Dahan tidak menyurutkan niatnya. Dahan kaget bukan kepalang. Nyalinya ciut seketika. Dengan kembang-kempis menahan tangis, Dahan pun mundur bergegas. Berbalik badan cepat, dan merajuk minta digendong. Hehehehe... ayam mengeram, ternyata benar-benar nampak seram.

Sunday, November 23, 2008

Senam pagi di jalan sepi

mungkin karena sekarang adalah musim menunggu panen, makanya para petani tidak berangkat ke sawah sejak dini hari. menunggu saat panen adalah kesempatan cukup menyenangkan bagi petani. Tak perlu berangkat pagi-pagi. tak ada yang perlu diburu-buru. belum ada benih yang harus disebar, belum ada tanah retak yang harus diairi, belum ada padi remaja yang layu, belum ada rumput -rumput pengganggu yang harus dicabut.

Yang dilakukan hanyalah tinggal menunggu padi-padi benar-benar masak dan berkualitas maksimal saat dipanen. Yuyu (kepiting sawah) tak mampu lagi merusak, tikus... entah kenapa tak pernah bisa berbiak di sini. Yang ada hanyalah rombongan burung-burung pipit yang cukup menjengkelkan. Meski tembolok mereka tak begitu besar, tapi karena berjumlah ratusan bahkan ribuan, konsumsi burung mungil ini boleh dibilang cukup mengurangi timbangan hasil panen nanti. makanya meski agak malas, bapak petani harus mau bersusah payah datang dan berteriak-teriak mengusir mereka. Pakai ketapel juga bisa membantu. Pasalnya burung-burung pipit sekarang tak pernah takut lagi pada orang-orangan pengusir burung (scarecrow). Untungnya burung pipit tak begitu senang datang pagi. Jadi para petani tak perlu ke sawah pagi hari.

Itu sebabnya, jalanan ke sawah terasa sepi pagi ini. itu sebabnya juga dahan, ibu dan ayah bisa bermain-main di jalanan pagi yang sepi ini. Mumpung masih pagi. dan udara desa terasa menggoda, ibu pun tak mau sia-sia. Bergegas ambil posisi dan tanpa ragu segera mengajak dahan melakukan senam pagi. Tentu saja bukan senam kesegaran jasmani, karena ibu sudah tak ingat lagi senam itu. Bukan juga senam aerobic. Bukan juga pilates. Bukan juga yoga. Benar-benar sekedar senam pagi, yang tanpa disadari mengalir saja bersama embun pagi, di jalanan sawah yang lagi sepi.

Tuesday, October 28, 2008

Tak Ada Blumbang, Ember pun Jadi


Rencananya, saat membawa Dahan mudik, ayah ingin mengenalkan Dahan pada kehidupan alami yang agak liar. Liar dalam artian yang manusiawi tentu saja. Liar dalam artian berani lebih terbuka dengan alam. Liar dalam artian tidak menabukan beberapa hal beresiko yang sebelumnya dihindari. Mandi di mata air alami misalnya, seperti blumbang (kolam penampungan mata air alami) atau di kali yang masih asri.

Ternyata, rencana tinggalah rencana. Tak ada lagi mata air. Getir. Tapi tak perlu menjadi air mata. bagaimana pun memang ada banyak jalan menuju roma. Tak bisa mandi di blumbang alami dan tak bisa mancing di kali asri tak harus membuat rencana tinggal kenangan.

Di halaman belakang rumah embah Takeran, ada beberapa kolam ikan yang terisi. Kebetulan tempatnya pun cukup asri. Ada pohon dadap yang meneduhi, pohon jambu monyet, mangga, pepaya, kangkung, ubi, kopi, bunga liar dan juga bunga-bunga masa kini yang ditanam mbah kakung.

Meski sumur timba yang tradisional tak ada lagi, sumur pompa mini bisa mewakili. To be or not to be. Mumpung masih di desa, Dahan pun harus belajar kembali alami. Setiap hari menjalani ritual mandi liar yang alami. Dimulai dari memberi makan ikan hias milik embah, ritual Dahan pun berlanjut menjadi main-main bersama ikan di kolam, melayarkan perahu-perahu dari kelopak bunga Aphorbia yang berwarna-warni. Asyik berkecipak-kecipak sampai basah dan sedikit menggigil didera dingin. Karena seluruh badan bau amis, maka ritual terakhir adalah mandi.

Sebuah bak cuci, di isi air dari pompa mini. Itulah tempat Dahan mandi setiap hari. Di tengah bunga-bunga Aphorbia yang sebagian masih kuncup. Jambu monyet yang berjatuhan karena matang tanpa ada yang mau mengkonsumsi. Langit cerah yang biru tanpa polusi. Biarlah.... saat mandi, Dahan mencoba kembali menjadi alami. meski tak bisa dipungkiri, ember plastik tetaplah tidak alami.

Sunday, October 26, 2008

Tak Ada Lagi Bola Plastik di Lapangan Kenangan

Dulu. Ramai. Hiruk pikuk anak-anak selalu meramaikan lapangan itu. Ayah Dahan salah satunya. Berteriak-teriak ceria, bertelanjang kaki tanpa peduli. Toh suburnya rumput yang menghijau mampu meredam peluang lecet gesekan kaki telanjang dan tanah lapangan. Bola plastik yang murahan pontang-panting menjadi kejaran. Disepak ke sana ke mari sampai bocor di banyak sisi. Terkadang kaki beradu kaki. Dan bola bocor tergencet di tengah-tengahnya. Blang... jessss.... bola kempes tak lagi bisa melesat. Permainan pun dihentikan. Bola plastik diambil dan di pencet-pencet agar kembali bulat dan bisa melesat.

mungkin karena kemarau. mungkin juga karena global warming yang benar-benar telah melangkah sampai di situ. lapangan itu nampak gersang. tidak benar-benar gersang memang. Tapi itu sudah jauh dari yang masih ayah harapkan. tak ada sejumput pun rumput hijau yang masih tersisa. Mungkin terik benar-benar tak memberinya sedikit ampunan. helai-helai sisa rumput kering melayang tertiup angin yang cukup kencang. Tak ada pohon rindang yang bisa dijadikan sedikit perlindungan.

Dulu kata ayah dahan, ada banyak pohon trembesi besar yang berdiri kokoh di pinggir-pinggir lapangan. Rimbunnya yang menyejukkan mampu membuat rumput-rumput bertahan sebagian.Tetap hijau walau kemarau datang menyapa. Terkadang banyak petani yang memotong sebagian daun Trembesi untuk dijadikan pupuk alami. Konon pupuk daum trembesi terkenal bagus untuk disebarkan sebelum menanam padi. Sayangnya petani sekarang lebih percaya pada pupuk jadi hasil industri. Jadi pohon Trembesi tak lagi diminati.

Kata ayah bunga Trembesi sangatlah cantik. Berwarna putih dan merah menyala dengan helai-helai daun bunganya yang menyebar bagaikan payung parasut untuk terjun payung. Satu-dua bunga sesekali jatuh saat masih segar. Berputar seperti kipas, melayang ringan bersama angin. Pelan dan tenang persis seperti parasut terjun payung yang dijatuhkan. Berbeda dengan bunganya yang merah menyala, buah Trembesi hitam kelam. Daging buahnya tipis dan menyatu rapat dengan kulitnya yang berkilat. Panjang dan penuh dengan biji-biji yang juga berwarna hitam. Kalau dipatahkan, buah trembesi akan mengeluarkan getahnya yang kental dan unik rasanya. Kata ayah Dahan sih manis-manis aneh dan enak. Sedangkan untuk bijinya, banyak sekali orang yang bilang enak. Asalkan digoreng sangan (pakai pasir dan tidak pakai minyak goreng).

Katanya ayah Dahan bersama teman-teman kecilnya sering membuat penganan biji trembesi ini. Sangat angin bertiup kencang, ayah dahan dan teman-temannya berlomba mengumpulkan buah-buah trembesi yang dijatuhkan angin. Kalau tidak sabar mereka biasanya melemparnya dengan batu, kayu atau dibidik pakai ketapel. Buah trembesi yang bergantungan dan bergerombol dengan gampang bisa dibidik. kalau sudah terkumpul banyak, mereka memecahkannya dengan batu dan mengambil biji-bijinya. Kemudian di jemur dan akhirnya digoreng sangan (disangray). Sayangnya acapkali ayah dahan dilarang makan biji trembesi terlalu banyak oleh mbah putri. Konon kebanyakan makan biji trembesi bisa menyebabkan batuk. Untungnya kalau kebanyakan makan, biji trembesi yang gurih seperti kacang rasanya berubah jadi agak pahit. Itu sebabnya tanpa dilarang ayah dahan gak pernah makan terlalu banyak.

Hari itu Dahan, ayah dan ibu bermain-main di lapangan. Meski hari masih pagi, semuanya tidaklah begitu menyegarkan. Tak ada embun yang berbulir di atas helai-helai rumput. Tak lagi pohon trembesi yang teduh dan rimbun. Kulihat mata ayah pahit. Getir menyelimuti. Meski bola kulit yang sebenarnya sudah gampang terbeli, kali ini tak ada lagi ramai anak-anak yang bermain ceria, berlarian ke sana-ke mari.

Monday, October 20, 2008

Jagung Muda Buat Sang Gadis Bau Asi






ayo kawan kita berkebun..
menanam jagung di kebun kita
ambil cangkulmu, ambil cangkulku
kita bekerja tak jemu-jemu

cangkul-cangkul, cangkul yang dalam
tanahnya longgar jagung kutanam...



Nah khusus untuk Dahan biar saja mbah kakung yang menanam jagungnya. Dahan tinggal memetiknya untuk bahan sup sarapan bikinan ibu. Untuk sang gadis kencur yang masih bau asi, tentu saja cukup jagung muda yang masih lunak dan manis. Soalnya kata mbah kakung yang sudah tua hanya bisa untuk makanan ternak atau dibikin tepung. Mumpung masih pagi, berembun segar dan tidak panas buruan saja dahan maen di kebun jagung. waaah ternyata asyik juga loh. Andai Dahan bisa punya kebun jagung sendiri di Jakarta, tentu lebih asyik lagi.

Wednesday, October 15, 2008

Mata Air Itu Sirna di Depan Mata

Kata ayah, di kampung semangnya dulu ada beberapa mata air alami yang benar-benar berkualitas sempurna. Tak kalah dengan air kemasan Aqua. Tak pernah kering meski terik kemarau menghajarnya.
Bening airnya menggericik dari bawah akar pepohonan raksasa yang mungkin saja berusia purba. Mengalir tenang, membentuk kali kecil yang meliuk menyusuri pinggiran kampung, dan membelah kelokan-kelokan pesawahan desa.
Bermacam ikan air tawar hidup ceria di dalamnya. Ada wader, bader, kutuk (ikan gabus), udang kali, cucut mini, jembluk, sepat, welut, dan lele liar yang tahan banting.
Mata air itu benar-benar menjadi berkah bagi masyarakat di sana. Para petani tetap bisa menanam padi di musim kemarau, dan anak-anak bisa belajar berenang tanpa takut terserang penyakit kulit, serta memancing ikan sebagai permainan senggang.
Kata Ayah mbah kakung biasa memancing ikan gabus di kala hari terik dan memancing lele saat hujan rintik turun semakin deras. Tapi awas... patil (sengat) lele lokalnya cukup beracun. Banyak orang yang menjadi panas dingin karena dipatil ikan lele itu. Konon ayah pernah merasakannya.
Sayangnya, sekarang ayah dahan harus kecewa. Pasalnya mata air tersebut telah benar-benar sirna. Tersedot oleh pompa-pompa air raksasa yang dipasang oleh petani-petani serakah, ditambah dampak pemanasan global yang bukan lagi menjadi mitos belaka.
Nampaknya ayah benar-benar harus menelan kekecewaan yang cukup besar. Tak ada lagi kesempatan, untuk mengajak Dahan melayarkan perahu pelepah daun pisang, yang dulu biasa ayah mainkan di waktu kecil bersama teman-teman masa udiknya. Kesempatan itu, benar-benar telah melayang sirna.

Tuesday, October 14, 2008

Mudik Muter-muter di Takeran

Takeran adalah sebuah desa kecamatan kecil di lereng timur gunung Lawu, di wilayah Kabupaten Magetan Jawa Timur. Di salah satu lokasi di Takeran tersebut, tepatnya di sebuah tempat yang dulu kaya akan mata air alaminya, terdapat sebuah pesantren setengah tradisional dan setengah modern. Di komplek pesantren Sabilil Muttaqien inilah rumah tempat ayah Dahan dilahirkan masih berdiri sampai sekarang. Tidak begitu tegak, tidak pula begitu kokoh. Tapi cukup kuat dan masih bersemangat melawan tantangan-tantangan waktu yang mencoba mengikisnya.

Di rumah tua itulah sekarang Mbah Kakung dan Mbah Uti (orang tuanya ayah) tinggal. Mereka cuma berdua. Yah cuma berdua karena ketiga adik ayah Dahan yang semuanya laki-laki tengah belajar mandiri. Om Iwok tinggal di desa tetangga bersama mertua, Om Uki dan Om Arik bertualang dengan bekerja pada kapal pesiar yang berkeliling eropa dan amerika.


Tak begitu banyak berubah, kata ayah begitulah kondisi Takeran sekarang ini dibandingkan dengan saat ayah masih kecil dulu. Wah... asyik dong. Mudik kali ini, Dahan dan ayah akan muter-muter bergembira di Takeran tercinta. Dengan begitu ayah bakalan bisa bernostalgia dengan sepuasnya. Nampaknya ayah tak begitu merasa, bahwa sebuah kekecewaan besar telah siap menantikannya dengan wajah yang biasa-biasa saja.

Monday, June 23, 2008

Ayo Belajar Sayangi Binatang


Dunia semakin renta. Banyak binatang langka semakin hilang. Karena manusia tidak lagi perduli pada mereka, satu persatu binatang hilang melayang. Tinggal gambar dan dongeng sebagai kenangan usang.
Aduuuuh kasihan anak-anak kita nanti. Gimana kelak jika tak banyak lagi binatang asli yang bisa dipandang. Untungnya sekarang belum terlambat untuk memulainya. Ayo kita ajak si kecil untuk belajar sayang binatang. Tak perlu susah-susah mengajaknya ke kebun binatang terlalu dini. Ayo kita mulai saja dari dalam rumah sendiri. Waaaah... bahaya dong bawa-bawa binatang ke dalam rumah. Hehehe... tak perlu repot kok. Ajari saja si kecil untuk mengenal binatang dari boneka-boneka binatang yang sudah banyak dijual di toko-toko mainan. Biarlah si kecil mengelusnya, menyentuhnya dan bermain asyik dengannya. Mudah-mudahan dengan diawali oleh boneka binatang mainan, si kecil nantinya akan tumbuh rasa sayangnya pada binatang. Rasa sayang berkembang, binatang-binatang langka pun terjamin lestari di alam liar.

Belajar Bersahabat dengan Bunga


Ayah Desir sangat senang merawat bunga. Bunga itu indah dan cinta damai, begitu yakin ayah. Bunga selalu memberikan keindahan tapi tak pernah menuntut apa-apa kecuali sekedar kasih sayang dari kita yang mau memeliharanya, lagi-lagi itu keyakinan ayah. Ayah percaya bahwa di tengah-tengah suburnya tanaman bunga selalu ada peri-peri kecil yang cantik dan imut yang siap menebarkan benih-benih cinta dan kebahagiaan kepada siapapun yang merawat sang bunga. Sayangnya sejak pindah ke Jakarta ayah tak mempunyai rumah dengan pekarangan yang luas lagi. Akibatnya tak banyak lagi ragam bunga yang bisa ditanam oleh ayah. Meski sedikit, namun tanpa sengaja ayah memiliki sebuah tanaman bunga yang sedang ramai dibicarakan orang. Bunga berjenis Anthurium yang disebut orang-orang dengan nama "wave of love" itu ternyata tengah mewabah dan dihargai sampai puluhan juta rupiah. Akibatnya banyak orang yang datang melihat, berkomentar, dan juga menawar untuk membelinya. Orang-orang juga banyak menyarankan agar bunga tersebut dijaga dan dijauhkan dari tangan-tangan yang ingin memegangnya agar daunnya tak rusak dan harganya tetap tinggi. Tapi ayah desir tak pernah peduli. Setiap kali ada kesempatan ayah malah selalu mengajak desir untuk bermain dengan bunga tersebut. Biarlah desir belajar mengenal dan bersahabat dengan sang bunga, begitu kata ayah. Ayah tak takut bunganya rusak kalau dipegang-pegang oleh desir? Aaaah... tak ada bunga yang bakalan rusak kalau kita memegangnya dengan cinta, jawab ayah dengan tenangnya. Ayah percaya bahwa desir yang masih polos justru masih dipenuhi dengan naluri-naluri cinta kasih. Dengan mendekatkan desir dengan bunga maka desir akan belajar bersahabat dengan bunga. Dan hasilnya justru akan tumbuh bunga-bunga lain yang lebih indah di masa-masa mendatang sebagai buah dari persahabatan tersebut.

Belajar Jalan & Mencintai Alam Sama Embun Pagi


Kata orang-orang tua zaman dulu, biar anak cepat berjalan sebaiknya tiap pagi kakinya dikenakan embun yang ada di rerumputan. Ini memang mitos. Tapi berdasarkan pemikiran sederhana aku pun tak ragu untuk tetap melakukannya. Supaya cepat bisa berjalan setiap pagi kuajak si kecil, Desirangin Dedahan Maulia, main di lapangan bola yang ada di dekat rumah. Ternyata belajar berjalan di lapangan yang rumputnya masih berembun sangatlah bermanfaat. Pertama, karena embun itu adanya hanya di pagi hari saja, maka udaranya pun tentunya masih segar dan jauh dari polusi sehingga sangat bagus untuk paru-paru si kecil, Desirangin. Kedua karena belajar di atas rumput yang menghijau tebal dan butiran embun yang bercahaya menggoda karena terkena sinar mentari, membuat si kecil, Desirangin lebih berani dan bersemangat untuk mencoba. Kita pun juga tak takut-takut melepaskannya. Pasalnya rumput tebal yang empuk membuat acara belajar berjalan menjadi lebih aman dan jauh dari ancaman cedera apabila si kecil jatuh. Ketiga dengan belajar berjalan di atas rumput yang notabene alami, maka hal ini bisa membuat si kecil lebih dekat dengan alam dan kita pun bisa sekaligus mengajarinya untuk lebih mencintai alam dan kelestariannya. Nah ternyata mitos usang tak harus dibuang kan? Masih ada banyak manfaat tersembunyi yang bisa kita pikirkan dengan nalar yang sederhana semata dan tentu saja bermanfaat bagi si Desirangin-ku.

DuuDuuh... Asyiknya Berkarib Sinar Mentari Pagi

Potensi alam dalam membantu pertumbuhan anak sangatlah besar.Asalkan alam tidak rusak maka begitu banyak manfaat langsung yang bisa kita petik untuk membantu pertumbuhan bayi. Itulah salah satu sebab kenapa ayah dan ibu memilih bumiayu, kota kecil di lereng gunung slamet sebagai tempat kelahiran dahan. Alamnya yang msaih segar, udaranya yang tidak begitu tercemar dan hijaunya yang masih segar diharapkan mampu memaksimalkan perkembangan jiwa dan raga dahan. Supaya dahan sehat dan tahan banting, setiap pagi dahan yang masih sagat kecil dibiasakan berjemur di hangat sinar matahari pagi. Hangatnya sinar mentari pagi yang lembut menyeruak, menembus lembab kabut embun yang masih enggan meninggalkan daratan. Dahan terlihat meriap-riap bersemangat menikmati sensasi sentuhan sinar mentari pada kulitnya yang masih super sensitif. untuk pertimbangan keamanan, yangti menyarankan agar yang berjemur dengan dahan adalah ayah saja. Pasalnya karena ini di kampung ibu, maka kalau yang berjemur bareng dahan adalah Yanti atau ibu maka tetangga-tetangga dan orang yang kenal pasti menyapa. Akibatnya tak bisa dicegah mereka bisa saja mengerubungi dahan, mencium, mencolek dan banyak lagi ancaman mengerikan lainnya. Padahal kondisi dahan masih sangat rentan. Sangat sensitif terhadap penularan virus, bakteri, dan kuman-kuman penyakit. Kalau ayah yang berjemur dengan dahan, maka orang-orang menjadi enggan dan tak berani sembarangan mendekat ke dahan. Alhasil dahan bisa berjemur dengan tenang, nyaman dan puas. Tapi sesekali kalau keadaan sedang aman, dahan pun tak enggan untuk berjemur dengan ibu. Berjemur dengan matahari pagi benar-benar merupakan aktivitas pertama dahan untuk berkarib dengan kekuatan alam. Mudah-mudahan saja, ozon yang selama ini mampu jadi filter agar sinar surya tak lagi bahaya mampu terus terjaga dari ancaman-ancaman pengrusakan oleh aktivitas manusia yang serakah.

Tuesday, October 2, 2007

Bayi Hijau Dipeluk Hijau Alami


Bumiayu adalah kota kecamatan kecil yang tumbuh terlalu cepat. Akibatnya ciri khas kota kecil yang seharusnya unik justru menghilang dari pusat kotanya sendiri. Berada di pusat kota Bumiayu justru kita merasakan kesesakkan laiknya di Jakarta. Orang-orang yang seperti dikejar waktu, kerapatan yang tanpa jarak, lalu lalang orang yang tak juga jeda, dan keadaan-keadaan yang menjengkelkan lainnya.
Untungnya area laiknya mini jakarta ini tak begitu luas. Total jendral hanyalah seluar satu kelurahan di Jakarta semata. Jadi tak perlu tenaga besar untuk melarikan diri dari sana. Cukup naik becak, ojek bermotor trail, atau dokar berkuda, kita pun dengan gampang mengaburkan diri dari keruwetan kota, dan segera menemukan hijaunya pesawahan yang terhampar, atau kebun teh yang berkabut dingin kalau mau lebih jauh lagi, atau hutan-hutan pegunungan slamet yang rimbun dan penuh misteri jika kita pergi tanpa tanggung-tanggung lagi.
Dilihat dari atas emang topografi kota bumiayu cukup memusingkan. Tapi untungnya kota kecil ini berada di lereng gunung tinggi nomer dua di jawa (gunung Slamet). Meski kotanya padat dan sesak tapi dikelilingi oleh luasnya area pesawahan, pegunungan dan hutan lebat yang masih cukup hijau. Sehingga meskipun aktivitas kota bumiayu cukup banyak menghasilkan polusi, hijau sekelilingnya mampu menjadi paru-paru raksasa yang tak pernah lelah memompa udara baru yang segar dan bersih.Tak salah jika ayah dan ibu memilih kota ini sebagai tempat kelahiran dahan. Lebih klop lagi karena rumah yangti bukan berada di pusat kota. Melainkan perbatasan antara kompleks perumahan di kota bumiayu dengan kompleks pesawahan yang mengelilingi bumiayu. Cukup berjalan kaki beberapa puluh meter saja, setiap pagi ayah dan ibu bisa menemukan liatnya lumpur pesawahan yang terinjak kaki telanjang, butir-butir embun pagi berbaur kabut yang menempeli helai-helai rambut dengan butiran butiran air halusnya, dan samar gunung gagah yang menyerah oleh tebal saput kabut yang menghalangi penglihatan. Tentu saja hijau permadani tanaman padi yang terhampar datar di lumpur berair kali adalah pemandangan galib yang selalu menohok tatap mata.
Lega... begitu kata ayah selalu setiap menghirup dalam udara sawah yang melimpah ruah tanpa sampah. Segar dan menjelma candu yang justru menyehatkan bagi ayah-ibu dan tentu saja dahan yang masih bayi hijau. Dengan lahir di kota inilah dengan gampang dahan, yang masih bayi hijau, bisa merajuk manja pada hijau segar alam yang mampu meninabobokannya dalam kemewahan oksigen tak berpolusi. Di kota ini jugalah, mata hijau si dahan, bisa menyaksikan betapa ketidakmodernan justru membawa kesyahduan yang melenakan seperti halnya petani bermandi lumpur yang membajak sawah dengan kerbaunya yang hitam legam warisan emak bapaknya. Di kota inilah Dahan, Ayah, Ibu dan Alam bisa saling memanjakan tanpa perlu saling melukai. Hijau damai, hijau tenang, hijau segar, hijau melenakan, hijau menyejukkan, hijau alam, hijau hati yang selalu mencintai indah alam ini.

Saturday, September 29, 2007

Berkarib Sinar Mentari Pagi

Potensi alam dalam membantu pertumbuhan anak sangatlah besar.Asalkan alam tidak rusak maka begitu banyak manfaat langsung yang bisa kita petik untuk membantu pertumbuhan bayi. Itulah salah satu sebab kenapa ayah dan ibu memilih bumiayu, kota kecil di lereng gunung slamet sebagai tempat kelahiran dahan. Alamnya yang msaih segar, udaranya yang tidak begitu tercemar dan hijaunya yang masih segar diharapkan mampu memaksimalkan perkembangan jiwa dan raga dahan. Supaya dahan sehat dan tahan banting, setiap pagi dahan yang masih sagat kecil dibiasakan berjemur di hangat sinar matahari pagi. Hangatnya sinar mentari pagi yang lembut menyeruak, menembus lembab kabut embun yang masih enggan meninggalkan daratan. Dahan terlihat meriap-riap bersemangat menikmati sensasi sentuhan sinar mentari pada kulitnya yang masih super sensitif.
untuk pertimbangan keamanan, yangti menyarankan agar yang berjemur dengan dahan adalah ayah saja. Pasalnya karena ini di kampung ibu, maka kalau yang berjemur bareng dahan adalah Yanti atau ibu maka tetangga-tetangga dan orang yang kenal pasti menyapa. Akibatnya tak bisa dicegah mereka bisa saja mengerubungi dahan, mencium, mencolek dan banyak lagi ancaman mengerikan lainnya. Padahal kondisi dahan masih sangat rentan. Sangat sensitif terhadap penularan virus, bakteri, dan kuman-kuman penyakit. Kalau ayah yang berjemur dengan dahan, maka orang-orang menjadi enggan dan tak berani sembarangan mendekat ke dahan. Alhasil dahan bisa berjemur dengan tenang, nyaman dan puas. Tapi sesekali kalau keadaan sedang aman, dahan pun tak enggan untuk berjemur dengan ibu. Berjemur dengan matahari pagi benar-benar merupakan aktivitas pertama dahan untuk berkarib dengan kekuatan alam. Mudah-mudahan saja, ozon yang selama ini mampu jadi filter agar sinar surya tak lagi bahaya mampu terus terjaga dari ancaman-ancaman pengrusakan oleh aktivitas manusia yang serakah.

Thursday, September 20, 2007

Di Pingir Lapangan, Di Depan Kali


Tanah kosong itu mirip lapangan bola. Pasalnya dua buah gawang sepakbola ada di ujung-ujungnya. Rumput-rumputnya tumbuh acak dan menyebar tak beraturan. Di satu sudut nampak rimbun, di sisi lainnya tumbuh agak jarang sementara di tengah-tengah benar-benar botak dan berlubang seperti kubangan.
Meski tidak bagus namun setiap sore banyak anak-anak yang bermain bola di situ. Apalagi kalau hari Minggu. Ada seorang guru olahraga yang mengajar main bagus pada anak-anak kampung di situ. Memang, lapangan itu tidaklah bagus, tapi pemandangan yang nampak dari lapangan itu benar-benar indah. Dari jauh nampak gunung Slamet, yang puncaknya jarang terlihat karena selalu tersaput awan dan kabut. Sepanjang jalan ke arah gunung Slamet tersebut, nampak sawah membentang yang hijau dan terhampar luas.
Lapangan "Pendawa" begitulah kira-kira orang menyebutnya. Karena ada di sekitar lapangan PEndawa tersebut maka daerah tersebut disebut juga sebagai komplek lapangan Pendawa. Di daerah inilah rumah Yangti-nya Dahan berada. Rumah sedang yang sederhana itu tepatnya berada di sisi selatan dari lapangan Pendawa. Tepat di pinggir selatan lapangan tersebut. Akibatnya setiap ada bola yang tertendang melenceng, tak jarang genteng rumah YangTi menjadi rusak dan bocor.
Namun tanpa takut selalu bocor, rumah YangTi memang menghadap ke lapangan itu. Jadi tak perlu keluar rumah kita bisa melihat pertandingan yang berlangsung di lapangan melalui jendela depan rumah yang semuanya berupa kaca.
Rumah Yangti tidaklah besar, namun juga tak bisa disebut kecil. Soalnya bagian depan rumah masih bisa menampung beberapa bangku sekolah yang selalu digunakan YangTi untuk mengajar anak-anak desa mengenai menjahit dan modiste. Meski muridnya selalu ramai, tapi Yangti tak pernah kecapean dan malas untuk mengajar. Dengan sabar yangti membimbing mereka sampai dua kali sehari. Sekali seperti jam-jam sekolah pada umumnya yaitu waktu pagi, dan sekali lagi setelah jam makan siang buat murid-murid yang masih ingin memperjelas pelajaran.
Rumah yangti bukanlah terbuat dari keramik yang mahal. Tapi rumah ini selalu terjaga kebersihannya. Tak kalah dengan hotel Yangti rajin menghias rumah dengan rangkaian bunga yang dipetik sendiri dari taman bunga mini yang ada di depan dan samping rumah.
Namun berbeda dengan rumah2 desa yang benar-benar masih desa, lahan di rumah Yangti cukup terbatas. Itu sebabnya hanya bisa dimanfaatkan untuk membuat taman bunga kecil yang bisa dipakai untuk menyemarakkan rumah.
Tak ada lagi lahan untuk membuat lubang penampungan sampah, namun tak seperti halnya kehidupan di kota, tak ada juga tukang sampah yang mengumpulkan sampah dari rumah-rumah. Sampah dari rumah Yangti cukup dibuang di sungai yang berada beberapa meter di belakang rumah. Cukup mengganggu memang. Namun karena pemerintah kecamatan tak berminat mengurusnya maka kebiasaan itu seperti sudah jadi budaya. Keindahan aliran air yang menerjang bebatuan gunung agak berkurang karenanya. Namun karena aliran air yang tak pernah berhenti, bermacam batu-batuan gunung yang tua, terasah mengkilatoleh alam dan terserak acak di sepanjang sungai masih mampu menyuguhkan keindahan tersendiri bagi sungai itu. Apalagi pohon-pohon rindang masih banyak tumbuh berjajar sepanjang sungai, meliuk-liuk genit tertiup angin seperti menyanyi diiringi oleh gemericik air.
Ya sungai itu masih cukup indah. Tentu saja sangat jauuuuh lebih indah kalau dibandingkan dengan ciliwung. Entah bagaimana ceritanya orang-orang di situ memberi nama sungai ini dengan nama Kali Erang. Karena sungai ini cukup dominan sebagai ciri desa maka desa situ pun juga diberi nama desa Kalierang.
Nah di rumah sederhana berukuran sedang yang berada di pinggir lapangan dan di depan Kali Erang inilah ibu memutuskan untuk menunggu dengan bahagia detik2 kelahiran dahan.

Wednesday, September 19, 2007

Rumah Bersih di Kampung Sederhana





hari demi hari terus berlalu. Jakarta masih saja gerah, sesak, sarat polusi dan berisik. didorong oleh perlakuan semang yang semena-mena, memugar rumah tanpa peduli pada pengontrak, ayah & ibu memutuskan untuk pindah rumah ke daerah yang lebih hijau dari pada yang sekarang.
Memang membutuhkan kocek yang lebih gede. Namun rumah baru yang ditempati ayahibu jauh lebih nyaman dibanding rumah lama. Pertama jauh dari banjir, kedua lokasinya masih cukup hijau, masih ada cukup banyak tanah lapang dan pohon-pohon besar yang menyebar. Cukup kuat untuk sedikit membagi oksigen hasil asimilasi sehingga udara tidaklah begitu menyesakkan dada. Ketiga karena berupa komplek perumahan yang cukup ekslusif dan bergebang jadinya tempat ini terbukti sangat aman. Di rumah inilah akhirnya untuk beberapa saat ibu bisa lebih tenang merasakan geliat-geliat nakal dahan di dalam perut. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, ibu selalu memaksa ayah yang dengan sukarela mau menemani ibu jalan-jalan di sekitar lokasi perumahan. Suasana kampung yang cukup sederhana membuat acara jalan-jalan terasa lebih nyaman. Sejenak kita bisa terlena dan lupa bahwa kampung ini masih ada di tengah jakarta. Hanya beberapa jengkal ke luar jalan raya maka kitapun akan kembali terjebak di carut-marut hawa kota yang bikin sengsara.


Memang, meskipun membutuhkan udara segar yang dibagikan tanaman-tanaman rindang, terkadang ibu takut pada tanaman besar yang nampak teduh, tenang, rindang dan tegar menghadang sinar matahari. Temaram sinar yang menggantung dibawahnya tak jarang membuat ibu merinding dan surut ketakutan. Untungnya ayah selalu menemai dengan tenang hingga tanpa sadar cukup jauh ayahibu berjalan melingkari jalan-jalan kampung. Sampai-sampai tetangga kampung merasa heran atas kemampuan ibu untuk berjalan-jalan hingga sejauh itu.
Konon karena ibu rajin jalan-jalan inilah, maka kaki ibu tak sempat mengalami bengkak saat mengandung dahan. Apalagi selain jalan-jalan ibu juga rajin melakukan yoga di sela-sela waktu senggang yang dimilikinya.