Saturday, September 29, 2007

Berkarib Sinar Mentari Pagi

Potensi alam dalam membantu pertumbuhan anak sangatlah besar.Asalkan alam tidak rusak maka begitu banyak manfaat langsung yang bisa kita petik untuk membantu pertumbuhan bayi. Itulah salah satu sebab kenapa ayah dan ibu memilih bumiayu, kota kecil di lereng gunung slamet sebagai tempat kelahiran dahan. Alamnya yang msaih segar, udaranya yang tidak begitu tercemar dan hijaunya yang masih segar diharapkan mampu memaksimalkan perkembangan jiwa dan raga dahan. Supaya dahan sehat dan tahan banting, setiap pagi dahan yang masih sagat kecil dibiasakan berjemur di hangat sinar matahari pagi. Hangatnya sinar mentari pagi yang lembut menyeruak, menembus lembab kabut embun yang masih enggan meninggalkan daratan. Dahan terlihat meriap-riap bersemangat menikmati sensasi sentuhan sinar mentari pada kulitnya yang masih super sensitif.
untuk pertimbangan keamanan, yangti menyarankan agar yang berjemur dengan dahan adalah ayah saja. Pasalnya karena ini di kampung ibu, maka kalau yang berjemur bareng dahan adalah Yanti atau ibu maka tetangga-tetangga dan orang yang kenal pasti menyapa. Akibatnya tak bisa dicegah mereka bisa saja mengerubungi dahan, mencium, mencolek dan banyak lagi ancaman mengerikan lainnya. Padahal kondisi dahan masih sangat rentan. Sangat sensitif terhadap penularan virus, bakteri, dan kuman-kuman penyakit. Kalau ayah yang berjemur dengan dahan, maka orang-orang menjadi enggan dan tak berani sembarangan mendekat ke dahan. Alhasil dahan bisa berjemur dengan tenang, nyaman dan puas. Tapi sesekali kalau keadaan sedang aman, dahan pun tak enggan untuk berjemur dengan ibu. Berjemur dengan matahari pagi benar-benar merupakan aktivitas pertama dahan untuk berkarib dengan kekuatan alam. Mudah-mudahan saja, ozon yang selama ini mampu jadi filter agar sinar surya tak lagi bahaya mampu terus terjaga dari ancaman-ancaman pengrusakan oleh aktivitas manusia yang serakah.

Thursday, September 27, 2007

Most Beautifull Girl in Our Hearts


"Bebek mosok'o ra iso nyilem, anake dewek mosok'o ra di alem", mungkin benar apa yang dikatakan mbah Masli ini sambil tertawa waktu usai memandikan dahan dan ditemani ayah-ibu dan yangti. Pada waktu itu ibu-ayah dan mbah Masli tak henti-henti memuji dahan yang terlihat cantik seusai mandi.
Memang bagaimanapun juga ayah-ibu dan yangti tentu tak bisa objektif. Anak dan keluarga sendiri bagaimana pun keadaannya pasti dikatakan cantik. Hehehe tapi bener kok dahan memang cantik, itu terbukti dari kata beberapa orang yang menjenguk dan melihat dahan. Entah basa-basi atau cuma sekedar menyenangkan kami yang jelas menurut kami dahan memang bener-bener cantik, lucu dan menggemaskan.
Yang masih membingungkan adalah warna kulit dahan yang masih selalu berganti-ganti. Terkadang kelihatan putih dan terkadang berubah menjadi hitam. Maklum peluang dahan untuk memiliki kulit putih atau pun hitam adalah sama. 50% peluang putih dari ibu dan 50% peluang hitam dari ayah.
Ayah sih berharap dahan berkulit putih. Masalahnya tak bisa dipungkiri bahwa negeri ini masih sangat rasialis terhadap warna kulit. Yang cantik di negeri ini adalah yang putih . Meski begitu ayah yang berpikiran modern tak begitu khawatir. Kalau toh akhirnya kulit dahan hitam, ya nggak masalah. Sebenarnya kulit hitam justru lebih sehat karena memiliki pigmen yang kuat. Justru kulit hitam juga yang acap dianggap sebagai kulit cantik bagi penduduk internasional.
Berbeda dengan alasan ayah, Yangti juga berharap dahan berkulit hitam dan berambut keriting seperti ayahnya. Itu sebabnya setiap rambut dahan agak basah habis mandi, Yangti seneng sekali mengacak-acaknya agar nantinya keriting. Lebih lucunya lagi Yangti menciptakan sebutan sendiri bagi dahan. "Black Sweet" begitu panggil sayang yangti pada dahan.
Akhirnya kita semua menyerahkan apapun nantinya jadinya dahan pada Tuhan YME. Cantik, pinter, cerdas, ceria, solehah dan sehat adalah doa kami. Selanjutnya hanya Tuhan-lah yang akan menentukan seperti apa nantinya dahan. Yang jelas bagi kami, Ayah-Ibu, dan Yangti, Dahan adalah gadis tercantik yang hadir dan mengisi hidup dan hati kami. Semoga Tuhan bener-bener memberkatinya, amieeen...

Wednesday, September 26, 2007

Pake' Tapel Biar Ga' Meler

Foto-foto dahan dan ibu di saat tiga bulan pertama tak
sering bersih mulus. di kening dahan selalu saja ada
sehelai daun yang menempel. Itu sebabnya sambil
tertawa ayah sering memanggil dahan dengan sebutan
"putri daun".

Daun itu bukanlah sembarang daun. Memang ia adalah
daun sirih biasa yang gampang kita temui di pekarangan
orang Indonesia atau juga tak jarang dijual di pasar.
Dibalik sehelai daun sirih yang menempel di kening
dahan itu terdapat ramuan rempah-rempah nusantara;
kunir, jahe, merica, tumbar dan entah apa lagi hanya
yangti dan mbah masli yang tau pasti.

Boleh jadi beberapa pakaian dahan, ibu dan ayah jadi
kuning karena seringkali tempelan daun berempah yang
di kening dahan lepas dan menempel di sana. Eh...
beberapa bantal dan seprei yang dipakai tidur dahan
juga bernasib serupa, menjadi kuning karena lelehan
kunir yang mencair.

Nah kalau kunir parutan kunir yang ada dibalik daun
sirih tersebut sering meleleh maka fungsi dari
tempelan daur sirih berrempah tersebut justru
sebaliknya.

Dengan tempelan yang disebut "tapel" tersebut maka
panas yang ada di kepala bisa terserap dan hidung
dahan jadi tahan terhadap ancaman pilek. Akibatnya
dahan tak gampang meler atau beringus hidungnya.
Ternyata hasilnya bisa dibuktikan. Sampai sekarang
Alkhamdulillah dahan sehat dan tidak sentrap-sentrup
karena ingus yang selalu menempel.

Lain kening lain tapelnya dan tentu saja lain
manfaatnya. Kalau tapel di kening dahan masih agak
simpel ramuannya, maka tapel yang ditempel di kening
ibu jauh lebih rumit bahan-bahan isinya. Yang jelas
tapel di kening ibu ini berfungsi untuk mendinginkan
suhu badan khususnya kepala ibu yang tengah melakukan
penyembuhan sendiri di masa paska melahirkan.

Bisa diibaratkan orang melahirkan adalah mesin yang
diforsir secara maksimal. otomatis mesin tersebut
perlu turun mesin. Dus begitu pulalah dengan orang
melahirkan. MEski dari luar ibu masih nampak cantik
dan sehat tapi organ-organ dalam ibu boleh dikatakan
hancur dan perlu berbagai perawatan teliti, rutin dan
kontinue. Termasuk salah satunya adalah menempel tapel
tersebut. Untungnya, meski tertempel tapel ramuan
yang bikin lucu, wajah ibu masih selalu kelihatan
cantik. Duuuuhhhh... ibu siapa dulu siiiih. Tentu saja
kalau dahannya cantik ibunya tentu juga cantik. I love
u ibu tersayang...



____________________________________________________________________________________
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows. Yahoo! Answers - Check it out.

http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545433

Tuesday, September 25, 2007

Lain Dukun Lain Spesialisasi

Jangan kira dukun yang kita ceritakan kali ini adalah
dukun mistis dengan berbagai kesaktian dan
mantra-mantra ghaibnya. Dukun dalam cerita ini adalah
orang biasa yang karena keahliannya entah yang
diwarisi secara turun temurun ataupun karena belajar,
mampu untuk merawat bayi dan ibu melahirkan secara
baik sesuai dengan kebijaksanaan lokal dan tradisional
yang masuk akal. Mereka murni bekerja dengan
mengandalkan keahlian yang mereka miliki dan tentu
saja didukung doa-doa secara islami, meskipun ada juga
sedikit nuansa abangan. Yang jelas keahlian dan
tips-tips perawatan bayi maupun ibu hamil yang
dimiliki dukun-dukun ini lebih banyak mengacu pada
keunggulan-keunggulan terapi alami dan natural.
Berbeda dengan dokter-dokter yang mengandalkan medik
dan ilmu modern.

ibu dan ayah dahan percaya bahwa dokter maupun dukun
bayi/dukun beranak memiliki masing-masing keahlian
tersendiri yang mampu saling melengkapi. Itu sebabnya
dalam perawatan dahan ayah dan ibu berusaha
mengkolaborasikan antara dokter spesialis, bidan, dan
dukun sebagai unsur-unsur yang saling menyempurnakan.

kolaborasi ini dimulai sejak dari awal prosesi sebuah
kehamilan. Sebelum ibu hamil, sebelumnya rahim ibu
dipijit oleh Bu Tum, seorang dukun beranak yang
tinggal di cawang, tepatnya di pinggiran kali ciliwung
jakarta. Setelah hamil perawatan ibu ditangani oleh
banyak dokter ahli.

Pertama ibu ditangani seorang dokter perempuan dari
rumah sakit Evasari Percetakan negara. Sebuah rumah
sakit khusus yang cukup bergengsi. Tapi ternyata ibu
tidaklah cocok. Akhirnya mencoba berganti-ganti dokter
sampai lebih dari tiga kali. Sampai akhirnya ibu
menemukan kecocokan dengan dr. Rifki. Seorang dokter
spesialis keturunan India yang wajahnya tampan seperti
Sahrukh Khan, bintang film ternama film India.

Menjelang kelahiran ibu pulang ke rumah Yangti di
Bumiayu. Perawatan ibu dilanjutkan oleh bidang imung &
bidan Ika, temannya tante esti, sebelum akhirnya
kembali ditangani oleh dokter spesialis ahli bernama
dokter Hadi.

Usai kelahiran, ibu dan dahan ditangani mbah Masli,
dukun bayi ahli yang sangat peduli pada kesehatan
bayi. Ibu pun juga menjalani berbagai perawatan paska
melahirkan bersama mbah masli.

Sayangnya ternyata mbah Masli hanya ahli untuk
mengurusi bayi. Perawatan paska melahirkan ibu terasa
kurang maksimal.


Akhirnya dari omong-omong dengan para
tetangga, yangti menemukan mbah Tao, seorang dukun
bayi juga yang ternyata sangat ahli dalam menangani
ibu-ibu usai melahirkan.

Akhirnya ayah dan ibu memakai dua ahli yang berbeda.
Mbah Masli khusus untuk merawat dahan dan mbah Tao
khusus untuk perawatan paska melahirkan bagi ibu.

Memang ternyata benar, lain dukun lain spesialisasi.
Kalau mau terapi yang benar-benar mumpuni, kita harus
mau mengkolaborsikan semua ahli yang kita kenali.




____________________________________________________________________________________
Pinpoint customers who are looking for what you sell.

http://searchmarketing.yahoo.com/

Monday, September 24, 2007

40 Days in Myth

Kira-kira gimana sih rasanya bila semua perasaan yang ada dalam hidup ini kita gabung jadi satu? bingung, takut, seneng, gelisah, capek, semangat, konyol, serius, bahagia, ngeri, udah deh pokoknya semua nyampur aduk jadi satu. Kira-kira begitulah perasaan ayah-ibu waktu awal-awal mulai bareng sama dahan.
Tiga hari dahan nginep di klinik. dirawat sama perawat yang memang sudah ahlinya dalam mengurus bayi, dikontrol dokter setiap pagi, memang sangat membantu dan menenangkan ayah dan ibu. Apalagi klinik ini termasuk yang terbaik di kota bumiayu ini. Satu kamar sendiri yang boleh dibilang sangat luas. ada dua tempat tidur yang bisa digunakan benar-benar cukup lumayan. Tapi berlama-lama di klinik bukanlah hal yang baik tentunya. Bukan masalah biaya yang tentu saja akan bertambah terus, tapi bagaimana pun juga tak ada tempat berteduh yang paling nyaman di hati kecuali rumah sendiri.
Akhirnya berani nggak berani kita harus keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah yangti.Lagian kenapa juga harus khawatir. Di rumah ada Yangti yang memiliki anak delapan sehingga boleh dibilang memiliki begitu banyak pengalaman masalah merawat anak kecil.
Hehehe sayangnya entah karena sayang atau karena sudah lama tidak memegang bayi lagi, Yangti agak canggung dan takut-takut untuk memegang dahan. hasilnya, ibu terpaksa kalang kabut mengurus dahan sendirian. Yangti hanya berani memberi saran serta mencarikan perawat bayi/dukun bayi berpengalaman yang ada di sekitar rumah.
Akhirnya Yangti memilih mbah Masli, seorang dukun bayi yang merupakan anaknya dukun bayi yang dulu merawat ibu dan anak-anak yangti lainnya.
Mbah Masli tinggal agak jauh dari rumah Yangti. Untuk ke tempat Yangti, harus lewat beberapa jajaran sawah, perumahan kampung, dan nyebrang jembatan kali erang. Kira-kira jauhnya tak kurang dari sekitar 3 kilometeran. Lumayan jauh untuk perjalanan kaki bagi orang seumuran mbah Masli ini.
Nampaknya Yangti tak salah. Mbah Masli ternyata memang piawai dalam merawar bocah. Sangat bersihan, teliti, hati-hati dan sayang sama dahan. Untuk mandi dahan mbah masli gak mau pakai air sumur mentah. Harus air mateng yang menurutnya cukup steril bagi anak kecil.
Dari mbah masli inilah ayah ibu banyak mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai kebijaksanaan tradisional yang ternyata cukup penting untuk diperhatikan.
Boleh saja sih banyak orang mencibir dan mengatakan bahwa kebijaksanaan-kebijaksanaan itu hanyalah mitos belaka. Namun ayah dan ibu mempunyai pemikiran bahwa apa yang disebut mitos itu ternyata tak ada ruginya untuk ditaati dan justru banyak mendatangkan kemanfaatan yang terkadang kita abaikan.
Selama 40 hari pertama kehidupan si kecil, dahan, ayah ibu mencoba disiplin mentaati segala pantangan warisan orang-orang tua yang ternyata kalau kita jeli dalam mengamatinya tak sedikit manfaatnya.
Sayangnya karena menghormati mitos ini jugalah ayah jadi tidak memiliki foto dahan selama masa-masa 40 hari awal karena tidak diperbolehkan oleh mitos yang dipercayai.
Baru setelah 40 hari itu lewat akhirnya ayah bisa puas mengabadikan aksi-aksi dahan untuk dibawa pulang ke Jakarta sebagai obat kangen saat ayah terpaksa jauh dari dahan dan ibu.

lovely baby came


Akhirnya... buah hati yang ayah-ibu nantikan benar-benar telah datang di pelukan. Saat malam belum begitu matang, saat desir angin berhembus tenang, saat bulan maulid diagung-agungkan. Datang dan langsung menyapa tanpa perlu lagi kata-kata. Begitu mungil, suci, pasrah, tenang dan wangi yang tak tertandingi. Tak perlu bujuk rayu, senyumnya tak pernah terlihat ragu.
Si kecil datang saat petang dan ayah hanya bisa datang saat subuh menjelang. Bagai pahlawan kalah perang, ayah datang membawa kekecewaan karena tak bisa segera terbang. Waktu itu, kota kecil itu, masih terlelap dalam senyap. Belum banyak aktivitas yang biasanya cukup membuat sesak napas & suasana. Bis antar kota yang membawa ayah berhenti di pasar kota. Tidak seperti biasa, bila malam larut bis tak perlu melingkar kota.
Baru saja ayah meloncat dari pintu depan bis yang tak berhenti total, belasan tokang bejak dan tukang ojek ramai berebut tawarkan layanan. Bayangkan... tengah malam saat subuh menjelang. Dan orasng-orang ini berebut untuk bekerja. Bagaimana bisa orang-orang menyebut bangsa ini adalah bangsa pemalas?
Ayah tak buru-buru tentukan pilihan. Ingin sejenak menghisap udara malam. Menghirup dalam-dalam biarkan penuhi kerongkongan dan dada. Dingin... bisa bantu membuat pilihan yang tepat. Akhirnya dengan satu becak yang dipilih acak, ayah meluncur ke klinik dimana ibu telah melahirkan. Sekali dua nanya... akhirnya ayah pun tiba di ruang dimana ibu, yangti dan si kecil dahan tengah menantikan. Pelan derit pintu yang dibuka ayah bangunkan ibu, yangti dan terkecuali dahan. Pelan ayah ucapkan salam. Ibu tersenyum di sudut ruang. Istirahat terlentang di tempat tidur pasien. Gurat wajah puas, bahagia, lega yang tak terhingga terlihat jelas pada wajah ibu yang masih terlihat pucat kecapaian.
Yangti ada di sisi kiri. Istirahat ditemani supri, bocah lugu yang setiap waktu membantu yangti. Di tengah tapi tidak tepat di tengah-tengah. Agak mendekat ke ranjang yangti, dahan terlelap di tempat tidur bayi. Asyik memeluk mimpi sembari berusaha beradaptasi dengan bumi yang mulai sekarang musti diakarabinya.
Pagi ini tak perlu lagi banyak basi-basi. Semua telah sama-sama mengerti. Kehadiran bayi tercinta ini, adalah berkah yang harus disyukuri. Matahari kami yang terangnya kan membawa sukacita abadi.

Thursday, September 20, 2007

Hadiah Terindah Ultah Ayah


27 Maret, hari itu ayah ulang tahun. sayangnya hari itu ayah tak bisa merayakannya bersama ibu. Karena bukan hari libur ayah harus tetap bekerja di Jakarta, sementara ibu musti bersiap-siap menyongsong kelahiran dahan di bumiayu. Itu sebabnya ayah dan ibu tak perlu bersedih. cinta dan persiapan kelahiran buah cinta mereka lebih penting dari segalanya.
Tak terasa akhirnya hari itu pun lewat sudah. Ulang tahun ayah lewat tanpa pesta dan hadiah. Namun bukannya tak berarti apa-apa. Selalu ada cinta antara ayah dan ibu yang selalu menghiasi kisah antara mereka untuk selamanya.
28 Maret 2007, hari itu ayah masih juga disibukkan dengan bermacam kerja di Jakarta.sampai siang, usai jam makan siang ayah mendapatkan telpon dari ibu. Agak gemetar namun tetap tabah, ibu mengabarkan bahwa tanda-tanda kelahiran si kecil sudah semakin kuat. Ibu meminta ayah berdoa dan tetap tenang dalam bekerja. Sejenak ayah tersentak. Meski berusaha tetap tenang, tak urung ayah pun kelabakan. bergegas rampungkan kerja dan bersiap menjemput ibu yang nun jauh di bumiayu. Bagaimanapun juga ayah merasa harus segera bersama ibu. Ayah harus segera ke sana, secepat apa pun yang bisa.
Ternyata benar, tanda-tanda kelahiran si kecil memang tlah tiba. Tukang becak tetangga Yangti segera dipanggil. Ditemani Yangti ibu pun pergi dengan becak ke tempat bidan imung.
Sesampainya di bidang Imung ibu langsung ditangani. Sebenarnya bidan Imung bukanlah orang asing lagi bagi ibu dan Yangti. Anak bidan Imung yang sekarang juga menjadi bidan adalah teman sekolah yang cukup akrab dengan tante inung. Tapi lagi-lagi penanganan layanan kesehatan di Indonesia memang menjengkelkan. Ketika sedang sakit-sakitnya ibu menahan mules dan mengalami pembukaan kelahiran, pegawai bidan imung malah sibuk menanyakan nama, alamat, no KTP, siapa yang bertanggungjawab dan sebagainya. Benar-benar mengenaskan. Cermin buruknya layanan medis di Indonesia ternyata tak hanya berhenti di kota. Pelan-pelan sepertinya telah menyelusup ke kehidupan masyarakat daerah yang seharusnya lebih beradap dan manusiawi.
Uang benar-benar telah menjadi dewa, bahkan disaat orang mengerang.
Untungnya, pegawai di bidang Imung tersebut belumlah begitu tercemar. Saat kejengkelan ibu memuncak dan orang tersebut dibentak, pegawai itupun lebih mau sedikit bersabar. Setidaknya sedikit lebih bagus dibanding pegawai layanan kesehatan kota yang benar-benar meletakkan keterjaminan uang di atas segala layanannya.

Didampingi yangti yang tiba-tiba menjadi jagoan ibu pun menjalani prosesi hidup mati sebuah kelahiran yang benar-benar tak kan terlupakan. Hebatnya Yangti benarbenar menjadi jagoan. Biasanya setiap ada orang sakit, yangti selalu panik dan ikutan sakit sendiri. Baru sekedar mendengar saja bahwa ada keluarga yang sakit, yangti biasanya langsung bolak-balik ke kemar mandi karena buang-buang air.
Detik-detik berjalan menegangkan. Ayah masih di terminal,ibu mengerang kesakitan. Ayah berkeringat kegerahan, ibu bermandi keringat kesakitan, yangti berkeringat berusaha tabah. Ayah duduk tengadah di kursi bis buluk tak ber-AC. Ibu duduk tak karuan, kadang telentang, kadang mengangkang, kadang mengerang menahan sakit dan kadang menggigit bibir bertahan. Yangti berjalan bolak-balik berusaha mengusir khawatir.

Sekejab bis ayah tlah meninggalkan Jakarta. Bis meluncur lancar masuk tol tanpa hambatan. Tak lama para penumpang mulai terkantuk-kantuk keenakan. Namun di kursi Ayah makin gelisah tak karuan. Ingin terbang sekejab mata langsung ada di samping ibu sekarang juga. Ibu masih mengerang kesakitan. Mengatur napas sesuai yang dibutuhkan. Berusaha tenang sesuai hitungan. Namun bidan Imung malah ketakutan. Sepertinya ada masalah yang tak bisa dia selesaikan. Akhirnya bidan Imung dibantu anaknya bidan Ika, temennya tante Inung, menyerah. Konon si kecil agak berulah. Meski pembukaan ibu telah cukup tapi si kecil masih belum mau turun ke bawah. Lagi-lagi kembali. Akhirnya dengan naik becak, ibu ditemani sebecak oleh bidan Ika, dan yangti dan bidan imung di becak lain berangkat memboyong ibu ke Klinik bersalin milik dokter Hadi. Dokter terahli di Bumiayu dan juga di Purwokerto. Kebetulan dokter dan istrinya yang juga bidan sedang ada di tempat. Akhirnya ibu pun segera mendapatkan penanganan yang semestinya.
Anehnya, berbeda dengan apa yang diprediksi oleh bidan Imung yang sebelumnya mengatakan bahwa si kecil akan lahir agak terlambat yaitu sekitar pukul 02.00 WIB malam, ternyata di depan dokter ahli si kecil tak lagi bandel. Tak butuh waktu lama lagi, ternyata si kecil sudah langsung bersiap-siap meluncur ke dunia ini.
Matahari belum lama tenggelam. Sisa cahaya-nya masih lembut tinggalkan terang yang buram. Bintang-bintang mulai berkedip lemah. Daun pepohonan tengadah. Sayup angin mendesir pelan. Sentuh daun-daun bergoyang senandungkan harapan. Tepat menjelang Azan Isya berkumandang, jerit tangisan yang nyaring melengking menyapa malam. Angin kembali mendesir pelan. Daun-daun bergoyang, makin khusyu gumamkan syukur Tuhan. Tak perduli darah yang berlepotan, Yangti bangkit bawa si kecil. Merunduk pelan-pelan dan yakin bisikkan Adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri.
Di jalan bis ayah melaju kencang. tenang... sampai tiba-tiba sebuah batu agak besar terantuk roda yang bundar. Ayah tersentak dalam kegelisahan yang makin tak tertahankan. Bis bergoyang agak keras. Pintu kaca bis terkuak sedikit. Angin mendesir cukup kencang. Tampiasnya menepis tipis daun telinga ayah. Sebelum pergi terusik masik, desirangin seperti berbisik pada ayah. "Hadiah terindah ultah ayah telah ada di pelukan ibu tersayang. Met ultah ayah..."