Monday, June 23, 2008

Belajar Jalan & Mencintai Alam Sama Embun Pagi


Kata orang-orang tua zaman dulu, biar anak cepat berjalan sebaiknya tiap pagi kakinya dikenakan embun yang ada di rerumputan. Ini memang mitos. Tapi berdasarkan pemikiran sederhana aku pun tak ragu untuk tetap melakukannya. Supaya cepat bisa berjalan setiap pagi kuajak si kecil, Desirangin Dedahan Maulia, main di lapangan bola yang ada di dekat rumah. Ternyata belajar berjalan di lapangan yang rumputnya masih berembun sangatlah bermanfaat. Pertama, karena embun itu adanya hanya di pagi hari saja, maka udaranya pun tentunya masih segar dan jauh dari polusi sehingga sangat bagus untuk paru-paru si kecil, Desirangin. Kedua karena belajar di atas rumput yang menghijau tebal dan butiran embun yang bercahaya menggoda karena terkena sinar mentari, membuat si kecil, Desirangin lebih berani dan bersemangat untuk mencoba. Kita pun juga tak takut-takut melepaskannya. Pasalnya rumput tebal yang empuk membuat acara belajar berjalan menjadi lebih aman dan jauh dari ancaman cedera apabila si kecil jatuh. Ketiga dengan belajar berjalan di atas rumput yang notabene alami, maka hal ini bisa membuat si kecil lebih dekat dengan alam dan kita pun bisa sekaligus mengajarinya untuk lebih mencintai alam dan kelestariannya. Nah ternyata mitos usang tak harus dibuang kan? Masih ada banyak manfaat tersembunyi yang bisa kita pikirkan dengan nalar yang sederhana semata dan tentu saja bermanfaat bagi si Desirangin-ku.

Hore...!!! Desir Nemu Maenan Stimulatif Hemat Nih...


Sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui. Istilah ini benar-benar tepat untuk menggambarkan arti majalah Ayahbunda bagi kami. Isi Ayahbunda tak hanya menambah pengetahuan bagi aku dan suami tapi juga bermanfaat langsung bagi si kecil. Desain, foto dan ilustrasi Ayahbunda yang atraktif dan artistik ternyata mampu mencuri perhatian dan respon dari mata polos si kecil. Diam-diam, tanpa kami sadari si kecil yang baru berusia enam bulan ternyata tergoda untuk ikut menikmati ayahbunda yang kami baca bersama. Awalnya dia terasa mengganggu keasyikanku membaca, tapi begitu sadar akupun dengan ikhlas berbagi dengannya. Wow... ajaib, dengan bersemangat si kecil yang gerak tangannya belum terkoordinasi dengan baik mencoba bersusah payah untuk membolak-balik lembar Ayahbunda dan menekuni gambar-gambar yang ada di dalamnya. Capek karena harus memegangi Ayahbunda yang tebal, akupun menemukan akal untuk menggunting bonus buncil yang selama ini agak aku abaikan. Alhasil si kecil dengan nyaman asyik membolak-balik lembar buncil ini hingga kusut marut. Terkadang iseng suamiku membacakan isi cerita buncil padanya. Eh meskipun mungkin belum mengerti apa yang dibacakan ayahnya, tapi si kecil nampak antusias menyimak ayahnya yang membaca sambil menunjuk-nunjuk gambar di lembaran buncil. Wah... melihat hal ini akupun kegirangan karena menemukan media permainan stimulatif yang hemat namun sangat bermanfaat bagi si kecil. Jadi kami pun tak perlu lagi membeli mainan-mainan stimulatif yang terkadang mahal kan? Ma kaciiiih Ayahbunda....

Resep Alami... Jitu Atasi Iritasi


Meski kurasa telah memilih tampon (pampers) terbaik seperti yang dinasehatkan banyak orang, ternyata buah hati kami, Desirangin Dedahan Maulia (4 bulan) tetap menderita iritasi yang biasa disebut ruam popok. Kasihan sekali, bintik-bintik merah seperti jerawat yang meradang bermunculan di sekitar anus dan organ vital si kecil. Akibatnya dia selalu gelisah dan rewel baik ketika tidur ataupun terjaga. Atas nasehat beberapa teman kamipun membeli obat-obatan medik yang ada di apotik. Tetapi karena obat-obat kimiawi tersebut terkesan terlalu keras, kamipun merasa ketakutan atas dampak sampingan yang bisa saja terjadi. Terpaksa pemberian obat-obat tersebut kami hentikan dan meminta nasehat eyang putri si kecil yang ada di kampung. Ternyata eyang putri si kecil memiliki resep tradisional yang alami yaitu cukup diolesi minyak kelapa asli yang dibikin sendiri. Yakin akan kemujarabannya aku pun segera membeli kelapa, memarutnya dan membuatnya menjadi minyak yang berbau sangat gurih. Sungguh ajaib, baru saja kulakukan beberapa kali pengolesan, iritasi si kecil pun beranjak sembuh. Tak perlu waktu lama Desirangin pun kembali ceria dan tenang. Terima kasih Yangti-nya Desir….

Pakek Tapel Biar Gak Meler


Foto-foto desirangin dan ibu saat tiga bulan pertama sejak hari kelahiran, tak pernah bersih mulus. Di kening desir dan ibu selalu saja ada sehelai daun yang menempel. Itu sebabnya sambil tertawa ayah sering menjuluki desir dengan sebutan "putri daun". Dan daun itu bukanlah sembarang daun. Memang sebenarnya adalah daun sirih biasa yang gampang kita temui di pekarangan atau di pasar. Namun dibalik sehelai daun sirih yang menempel di kening desriangin itulah terdapat ramuan rempah-rempah nusantara; kunir, jahe, merica, tumbar dan entah apa lagi hanya eyangti dan dukun bayi yang tahu pasti. Boleh jadi beberapa pakaian desir, ibu dan ayah menjadi berwarna kuning karena tertempel daun berempah yang terkadang jatuh dari kening desir tanpa sengaja. Eh...tak cuma itu. Beberapa bantal dan seprei yang dipakai tidur desir juga bernasib serupa, menjadi kuning karena lelehan kunir yang mencair. Nah kalau kuning parutan kunir yang ada dibalik daun sirih tersebut sering merugikan karena meleleh, maka fungsi dari tempelan daur sirih berempah tersebut justru sebaliknya sangat menguntungkan. Dengan tempelan yang disebut "tapel" tersebut maka panas yang ada di kepala bisa terserap dan hidung desir menjadi tahan terhadap ancaman pilek. Akibatnya desir tak gampang meler atau beringus. Dan hasilnya bener-bener bisa dibuktikan. Sampai sekarang Alkhamdulillah desir selalu sehat dan tidak gampang sentrap-sentrup pilek karena ingus yang selalu menempel. Lain kening lain tapelnya dan tentu saja lain manfaatnya. Kalau tapel di kening desir masih agak simpel ramuannya, maka tapel yang ditempel di kening ibu jauh lebih rumit bahan-bahan isinya. Yang jelas tapel di kening ibu ini berfungsi untuk mendinginkan suhu badan khususnya kepala ibu yang tengah melakukan recovery di paska melahirkan. Bisa diibaratkan orang melahirkan adalah mesin yang diforsir secara maksimal. otomatis mesin tersebut perlu turun mesin. Dus begitu pulalah dengan orang melahirkan. Meski dari luar ibu masih nampak cantik dan sehat tapi organ-organ dalam ibu boleh dikatakan hancur dan perlu menjalani berbagai perawatan yang teliti, rutin dan kontinue. Termasuk salah satunya adalah menempel tapel tersebut. Untungnya, meski tertempel tapel ramuan yang bikin lucu, wajah ibu masih selalu kelihatan cantik. Duuuuhhhh... ibu siapa dulu dooong... Tentu saja kalau desiranginnya cantik, ibunya tentu juga cantik kan? I love u ibu tersayang...

Boleh Dipandang, Gak Boleh Dipegang


Tuhan itu maha indah. Itu sebabnya apapun yang diturunkan langsung dari tangan Tuhan selalu saja dipenuhi dengan keindahan. Tak heran siapa pun, dimana pun, dari mana pun, kalangan apapun, orang tuanya, seorang bayi selalu saja lahir dengan pesona dan daya pikat yang benar-benar indah. Entah tangisnya, jeritnya, rajuknya, menguapnya, marahnya, apalagi senyum dan tertawanya, semua tak ada yang bikin orang tidak suka. Akhirnya di semua tempat, setiap ada kelahiran selalu ingin dipestakan. Selalu saja banyak orang-orang yang datang. Selalu saja banyak orang-orang membezuk. Selalu saja banyak orang-orang membawa hadiah. Dan akhirnya selalu saja banyak orang-orang yang ingin mencolek, menyentuh, mengelus, dan kalau ada kesempatan, berusaha mencium sang bayi yang begitu polos dan murni memikat. Bisa jadi karena sayang, bisa jadi karena doyan, bisa jadi karena terpikat, bisa jadi karena basa-basi dan bisa jadi bukan karena apa-apa. Hanya iseng, jaga etika, atau sekedar ikut-ikutan semata. Nah parahnya, bayi yang masih polo, susah untuk bisa lolos dari suasana seperti di atas. Cium di sini cium di sana, pegang di sini pegang di sana, colek di sini colek di sana, seluruh tubuh akhirnya rata. Beragam manusia membawa beragam aroma dan tak jarang membawa kuman penyakit yang tidak kentara. Bayi yang masih polos, tak bisa lagi lolos dari ancaman penyakit-penyakit bawaan orang-orang dewasa yang telah dipenuhi beragam dosa. Pilek bisa jadi sudah dianggap penyakit biasa, tapi tak sedikit bayi yang tertular penyakit berat seperti flek paru-paru, TBC, kulit dan penyakit lain-lainnya yang notabene dibawa oleh orang-orang yang menjenguknya. Jauh sebelum dahan lahir, ibu dan ayah banyak mendengar cerita di atas. itu sebabnya saat dahan kecil ibu dan ayah mati-matian untuk menjauhkan dahan dari serbuan tangan dan ciuman orang-orang yang berdatangan menjenguk. Yangti pun tak kalah perduli. Telepon dari Pakde Nono yang melarang orang untuk asal mencium dan penyentuh dahan membuat yangti sangat hati-hati. "Bayi itu adalah jimat yang harus dijaga, bukan suguhan untuk tamu kita!" begitu tegas Yangti mengingatkan. Meski mungkin terkesan sombong, phobia, keterlaluan atau dianggap melebih-lebihkan, ayah ibu dan yanti tak perduli. Pokoknya siapapun tamu yang berkunjung tak boleh memegang dahan apalagi menciumnya. Biarlah tamu yang datang beramah-tamah dengan mereka yang dewasa saja. Jangan libatkan bayi polos untuk keramahtamahan yang tidak diperlukan. Biarlah bayi cantik, asyik tak terusik. Boleh saja dipandang, tapi jangan pernah dipegang.

DuuDuuh... Asyiknya Berkarib Sinar Mentari Pagi

Potensi alam dalam membantu pertumbuhan anak sangatlah besar.Asalkan alam tidak rusak maka begitu banyak manfaat langsung yang bisa kita petik untuk membantu pertumbuhan bayi. Itulah salah satu sebab kenapa ayah dan ibu memilih bumiayu, kota kecil di lereng gunung slamet sebagai tempat kelahiran dahan. Alamnya yang msaih segar, udaranya yang tidak begitu tercemar dan hijaunya yang masih segar diharapkan mampu memaksimalkan perkembangan jiwa dan raga dahan. Supaya dahan sehat dan tahan banting, setiap pagi dahan yang masih sagat kecil dibiasakan berjemur di hangat sinar matahari pagi. Hangatnya sinar mentari pagi yang lembut menyeruak, menembus lembab kabut embun yang masih enggan meninggalkan daratan. Dahan terlihat meriap-riap bersemangat menikmati sensasi sentuhan sinar mentari pada kulitnya yang masih super sensitif. untuk pertimbangan keamanan, yangti menyarankan agar yang berjemur dengan dahan adalah ayah saja. Pasalnya karena ini di kampung ibu, maka kalau yang berjemur bareng dahan adalah Yanti atau ibu maka tetangga-tetangga dan orang yang kenal pasti menyapa. Akibatnya tak bisa dicegah mereka bisa saja mengerubungi dahan, mencium, mencolek dan banyak lagi ancaman mengerikan lainnya. Padahal kondisi dahan masih sangat rentan. Sangat sensitif terhadap penularan virus, bakteri, dan kuman-kuman penyakit. Kalau ayah yang berjemur dengan dahan, maka orang-orang menjadi enggan dan tak berani sembarangan mendekat ke dahan. Alhasil dahan bisa berjemur dengan tenang, nyaman dan puas. Tapi sesekali kalau keadaan sedang aman, dahan pun tak enggan untuk berjemur dengan ibu. Berjemur dengan matahari pagi benar-benar merupakan aktivitas pertama dahan untuk berkarib dengan kekuatan alam. Mudah-mudahan saja, ozon yang selama ini mampu jadi filter agar sinar surya tak lagi bahaya mampu terus terjaga dari ancaman-ancaman pengrusakan oleh aktivitas manusia yang serakah.

Desir... Masih Kecil Kok Ikutan Yoga

Desirangin, itulah nama panggilan yang kami berikan pada putri kecil kami yang cantik. Cantik dalam artian yang sederhana saja. Tidak berwajah indo, arab jepang atau lain-lainnya. Cantik yang sangat Indonesia. Itu sebabnya kami menamainya dengan nama berbahasa Indonesia, Desirangin Dedahan Maulia, yang kalau boleh diartikan adalah desir angin sepoi yang menyejukkan dahan-dahan kehidupan kami yang lahir di malam maulid yang mulia. Dulu waktu desir masih dalam kandungan ibu sangat rajin melakukan yoga. Kebetulan sebelum hamil ibu memang sudah rajin berlatih Yoga di pusat kebudayaan India. Salah satu pose yoga favorit ibu adalah fish pose. Kata guru ibu di Jawaharlal Nehru, pose ini sangat membantu untuk proses kelahiran nantinya. Dan ternyata hal itu terbukti. Meski memiliki berat 3,2 dan panjang 51 Cm, yang boleh dibilang cukup besar, kelahiran desirangin sangat lancar. Begitu lancarnya sampai-sampai ayah yang baru pulang dari kantor tak sempat mendampingi proses kelahiran tersebut. Sekarang desirangin sudah berumur 8 bulan. entah bertalenta atau kebetulan saja, sejak umur 6 bulan desir sangat piawai melakukan gerakan Yoga, khususnya "fish pose" yang biasa dilakukan ibu saat mengandungnya. begitu senangnya desir melakukan gerakan ini sampai-sampai ayah dan ibu khawatir. Tanpa memperdulikan kekhawatiran ayah
dan ibu, desir tetap saja melakukan gerakan yoga tersebut dengan rileksnya. Meski gerakan tersebut cukup menguras tenaga, dan mengeksplorasi kekuatan & kelenturan tulang, desir selalu melakukannya dengan wajah enteng, rileks dan ceria. Karena khawatir ayah dan ibu sering melarang desir dengan mengalihkan perhatiannya pada maenan. Tapi desir tetap saja beryogaria. Kapan pun dan di mana pun, setiap ada kesempatan desirangin selalu melakukan gerakan yoga favoritnya tersebut. Tak perduli ada orang maupun tak ada orang, desir selalu beryogaria. Setiap orang yang melihatnya selalu takjub. Orang yang mengerti yoga pasti langsung mengenal gerakan tersebut, tapi kalau orang-orang yang tak mengerti yoga terkadang berteriak-teriak takjub sekaligus khawatir. Melihat itu ayah-ibu hanya bisa tertawa dan mengulang cerita mengenai yoga yang ibu lakukan sewaktu hamil. Sekarang usia desir sudah delapan bulan. Dan desir semakin ahli dalam melakukan gerakan tersebut. Tanpa ada yang mengajari bermacam inovasi dilakukan. MUlai dari atraksi lepas tangan, silang kaki, angkat satu kaki dan banyak lainnya. Akhirnya ayah-dan ibu cuma bisa pasrah dan berdoa, semoga desir memang benar berbakat untuk menjadi ahli yoga. Kalau ada uang rencananya ayah akan memasukan desir ke sekolah Yoga untuk anak-anak. Doain yang temen-temen pembaca. Semoga ayah dapat rejeki yang berlimpah untuk mewujudkan niatnya tersebut.